When I give bread to the poor, they call me a saint; but when I ask why people are poor, they call me a communist.
UNGKAPAN di atas sama terkenalnya dengan ucapan Martin Luther King Jr, “I have a dream” yang dikumandangkan dalam sebuah pertemuan akbar, yang di dalamnya terkandung harapan besar akan masa depan. Kalimat tersebut di atas juga merupakan kalimat terkenal yang pernah diucapkan oleh seorang pemimpin umat karena gerah atas ketidakadilan dan pemiskinan yang dialami umat-nya. Meski dengan nada me-nyindir, ucapan tadi terlontar karena memang hal itu betul-betul dia alami. Adalah Dom Helder Camara (1909 - 1999), seorang uskup yang melayani di Recife-Brazil yang melontarkan kalimat terse-but. Sebagai seorang uskup, tak
sedikit pun terlintas dalam benak Camara untuk memilih hidup enak dengan ongkang-ongkang kaki duduk di pastoran, makan buah dan minum susu sambil baca koran, sebab toh segala se-suatunya sudah dijamin oleh gereja.
Camara bukanlah tipe orang yang silau akan gemerlapnya dunia. Pria bertubuh kecil kelahir-an 7 Februari 1909 sebagai anak ke-12 dari 13 bersaudara dari pasangan seorang akuntan dan guru di Fortaleza, Ceará, Brazil memilih jalan hidup dan teo-loginya sebagai orang yang ber-pihak pada kaum miskin (option for the poor).
Dengan mendedikasikan hidup-nya bagi orang “lemah”, Camara memiliki keyakinan bahwa ini adalah panggilan imannya. Tak heran jikalau banyak orang menyebutnya sebagai salah satu teolog besar “teologi pembebas-an”. Sebenarnya, pilihannya se-bagai seorang pembela kaum marginal bukanlah hal yang me-ngenakkan. Pasalnya pilihannya itu membuatnya kerap kali berurusan dengan pihak ber-wajib. Tak hanya sekali Camara diciduk oleh pihak berwajib, berkali-kali dia, diinterogasi dengan kasar. Bahkan hidupnya pun hampir berakhir di balik terali besi. Seolah tak peduli bahwa Camara adalah seorang rohani-wan, dan bukan tahanan politis atau penjahat kelas kakap lainnya. Namun demikian, bagi rejim militer yang berkuasa di Brazil kala itu, Camara dianggap sebagai simpatisan komunis dan penga-nut ajaran Karl Marx. Tak heran julukan sebagai “uskup merah” pun pernah menempel padanya.
Sebagai seorang pegiat kemanusiaan, Camara pun banyak ditawari orang pertolongan dan perlindungan dari tekanan dan perlakuan buruk yang dialaminya. Alih-alih Camara mengiyakannya. Uskup sekaligus penyair asal negeri Samba itu justru berujar, “I don’t need you gentlemen, I have my own security guards. They are the Father, the Son, and the Holy Spirit”
Salah satu karya besar seorang Camara adalah bukunya tentang kritikannya terhadap perang Vietnam pada tahun 1971, berjudul: “Spiral Of Violence” yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Spiritualitas Kekerasan”. Dalam buku tersebut tersimpan satu teori kekerasan yang kemudian mengemuka dan terkenal sampai sekarang. Menurutnya, “Ketidak-adilan sosial adalah bentuk kekerasan level pertama, yang kemudian akan mendorong lahirnya sebuah pemberontakan. Pemberontakan atau perlawanan sosial sendiri merupakan bentuk kekerasan level kedua, yang bakal direspon secara represif oleh aksi militer yang brutal oleh penguasa sebagai bentuk ekspresi kekerasan level ketiga.” Lingkaran aksi dan kekerasan itu akan terus-menerus menggelinding, sampai ada yang berani keluar dari ling-karan setan itu dan memutuskan hubungan “ketergantungan” pada kekerasan.
? SLAWI