Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespon kebaikan Tuhan. Pengusaha garmen, Ricky Indraya, memilih mengkaryakan dirinya menjadi hamba Tuhan. Meski usahanya kian maju, dia justru melihat ada skala prioritas yang lebih kontekstual dengan bahasa imannya. Baginya, hidup di dunia ini, artinya bekerja memberi “buah”.
MENELUSURI Jalan Musyawarah Raya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, tampak rumah-rumah orang berada. Barisan rumah-rumah nan elok bergaya Spanyol tersebut pasti mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya. Rumah-rumah itu tidak hanya luas dan megah, namun juga memiliki pekarangan yang luas dan asri. Ricky Indraya dan keluarga adalah salah satu penghuni perumahan elit tersebut.
Di lahan seluas 6.000 meter persegi di mana rumahnya berdiri itu, Ricky antara lain membuat kolam renang, dan kebun. Bahkan tampak tiga unit rumah untuk ketiga anaknya yang sudah menikah. Sisa lahan dipersiapkan untuk perumahan tiga anak yang belum menikah. Itulah buah kesuksesan yang dipetik Ricky dari usaha garmen yang dia geluti puluhan tahun. Namun, semua itu tidak membuat batinnya tenang, karena dorongan untuk mewartakan Injil selalu berkobar-kobar dalam jiwanya. Satu hal lagi yang sangat disyukuri Ricky adalah istri dan keenam anaknya, semua laki-laki, yang juga takut akan Tuhan, mendukung niat Ricky untuk menjadi hamba Tuhan.
Melayani ke pedalaman
Perjuangan Ricky menapaki bisnis garmen hingga mencapai titik sukses sangat panjang dan melelahkan. Begitu ketatnya persaingan dan besarnya risiko dalam menjalani bisnis itu mengantar ayah enam anak ini selalu mendekatkan diri pada Tuhan. “Doa adalah kebutuhan utama saya. Saya percaya, hanya Yesus yang sanggup menolong pergu-mulan hidup dalam kondisi dan persoalan apa pun,” ungkapnya.
Ketika masalah datang bertubi-tubi, ia tidak pernah menggerutu atau menyalahkan Tuhan Yesus. Pola pikir dan perilakunya tak melulu menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran atau menilai segalanya dari sudut diri sendiri, tapi bagaimana membalas anugerah dan kebaikan Tuhan, yakni menjalankan amanat dan perintah-Nya: memberitakan Kabar Baik.
Panggilan melayani Tuhan itu memang sudah cukup lama berkobar dalam dirinya. Sejak merintis bisnis garmen di pusat grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat, suami Yuliawati Wijaya ini sering meninggalkan hiruk-pikuk dunia bisnis demi “petualangan” menjalankan penginjilan bersama tim pelayanan dari gereja serta yayasan, menyusuri daerah-daerah terpencil.
Sedangkan sang istri, selain ikut mengurus bisnis suami, juga turut menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan kerohanian di lingkungan gereja. Besarnya gairah melayani dalam keluarga itu tak lepas dari pengalaman masa lalu, di mana mobil yang mereka tumpangi bersama lima anak yang masih kecil-kecil nyaris terjatuh ke jurang di kawasan Puncak, Jawa Barat.
Selain itu, sang istri juga punya pengalaman spiritual yang membuatnya semakin beriman teguh kepada Yesus. Sepuluh tahun lalu, dokter mendiagnosa ada batu besar menempel pada ginjalnya sebelah kiri. Peristiwa itu sulit dilupakan Yuliawati mengingat batu tersebut masih menempel meski sudah dipecahkan. Kondisi ginjalnya kian parah. Perempuan yang pintar memasak ini tak henti berdoa sambil menangis minta jamahan Tuhan agar ginjalnya pulih. Ajaib, setelah dirujuk untuk menjalani perawatan ke rumah sakit di Singapura, ginjalnya berangsur baik. “Puji Tuhan, tangan Tuhanlah yang bekerja menyembuhkan penyakit saya,” ucap Yuliawati gembira. Banyaknya pengalaman ajaib yang mereka yakini adalah pertolongan Tuhan, membuat mereka tak pernah loyo dalam melayani. “Selama kami masih diberikan napas oleh Tuhan, pelayanan merupakan prioritas utama,” kata kakek dari dua cucu ini.
Keluarga ini tidak sekadar memusatkan perhatian terhadap aktivitas gerejawi. Ayah, ibu dan anak-anak juga gemar memberikan bantuan dana pembangunan rumah ibadah serta kegiatan rohani. “Bila kaum muda mau mengadakan retreat dan bikin acara-acara sosial lain, kami dengan senang membantu biaya. Jika kami diberkati Tuhan, kami harus menjadi berkat bagi orang lain,” ucap Yuliawati kepada REFORMATA di rumahnya.
Meski suami-istri ini dikenal murah hati, ada juga segelintir orang yang mencibir, mungkin karena iri. “Yang penting kita melayani Tuhan Yesus dengan ketulusan tanpa ada kepentingan lain. Jika kita sadar bahwa Dia sudah teramat baik menggendong kita sebagai anak-Nya dan dianugerahkan keselamatan kekal, kita tidak mampu membalas kebaikan Tuhan itu selain mem-berikan yang terbaik dari apa yang kita miliki yakni tubuh yang sehat, atau apa pun yang kita punya untuk melayani Tuhan” kata pria kelahiran Jakarta, 24 Juli 1949, ini. Mereka pun tak lupa mengingatkan anak-anaknya yang kini kuliah di USA, Australia dan China agar terlibat dalam pelayanan gereja.
Karena ingin total melayani, pada 2005, Ricky memutuskan pensiun dari dunia bisnis dan memilih berkecimpung sepenuhnya dalam penginjilan.
Akhir-akhir ini ada semacam fenomena di mana pengusaha menjadi pendeta. Tapi bukan rahasia jika beberapa dari pengusaha itu disinyalir menjadikan pelayanan hanya sebagai “pelarian”. Tentang feno-mena ini Ricky menegaskan, “Kalau saya bukan pelarian tapi benar-benar mau membalas kebaikan Tuhan. Selama ini saya sibuk luar biasa. Tidak ada salahnya, dari dulu memang saya cinta Tuhan untuk fokus atau lebih mendalam lagi karena firman Tuhan itu sungguh luar biasa.”
Setelah memutuskan fokus melayani, Ricky membeli sebuah gedung bekas apotek di Meruya, Jakarta Barat, yang kemudian dijadikan gereja. Seorang hamba Tuhan dia minta untuk menggembalakan jemaat gereja itu. Selanjutnya, Ricky masuk sekolah Alkitab. Setelah tamat, kakek tiga cucu ini membuka peribadatan baru di ITC Cipulir, Jakarta Selatan. Gereja itu diberi nama Gereja Bethel Indonesia (GBI) ITC Cipulir. Karena jumlah jemaat terus meningkat, Ricky merasa perlu menimba ilmu teologi, dan menjadi mahasiswa di sekolah tinggi teologi (STT) di Petamburan, Jakarta Pusat.
Melayani kaum marjinal
Di usianya yang hampir 60 tahun, semangat mewujudkan cinta kasih Tuhan kepada semua orang tak pernah redup. Cinta kasih itu dimulai di lingkungan keluarganya sendiri melalui keharmonisan serta keber-pihakan terhadap mereka yang hidup-nya susah. Keteladanan Yesus itu terbukti telah menjangkau orang-orang mengenal Juru Selamat itu. Beberapa pembantu di rumah percaya kepada Yesus kerena melihat perilaku dan kebaikan suami-istri itu serta anak-anaknya. “Padahal, kami tidak menginjili mereka. Melalui sikap tulus kita mengasihi tanpa membeda-bedakan, membuat hati mereka tergerak mengasihi Tuhan,” ungkap Yuliawati.
Ricky juga memiliki ikatan sosial dengan “tetangga” yang terdiri atas masyarakat pinggiran yang tinggal puluhan meter dari rumahnya. Ricky tak sekadar berinteraksi dengan mereka, namun juga menebar kepe-dulian. Tanggung jawab sosial tidak sekadar berdasarkan bentuk penjabaran amanat Kristus, melainkan latar belakang kehidupan masa lalu Ricky yang pernah dijajah kemiskinan.
? Herbert Aritonang