Anthony de Mello, Imam Jesuit Asal India,
Manusia adalah makhluk religius, yang dicipta selaras dengan pencip-tanya yang dibarengi dengan natur spiritualitas. Sifat alami yang membuat orang selalu mencari berbagai macam bentuk fenome-na religius yang ada di sekitarnya. Konon, spiritualitas tadi terus berproses dan progres menuju satu titik yang mahatinggi di mana sang ilahi itu berkarya mengatur keseluruhan isi jagad raya, termasuk manusia. Tak heran, ba-nyak agama purba lantas meman-dang bulan, matahari, sebagai pusat penyembahannya. Bukan satu kesalahan besar yang patut
disayangkan – tapi memang seperti itulah spiritualitas berproses, hingga datangnya sistem “agama langit”, agama dengan kitab dari wahyu Tuhan yang dalam bentuk kitab, ada nabi atau sosok pemimpin umat sebagai pembawa titah Allah. Itulah keragam-an spiritualitas dan religiusitas yang patut dibanggakan – meski setiap orang memercayai (memegang) satu kepercayan yang diimani ddan akan membawanya menuju titik maha-tinggi tadi. Inilah kekayaan dunia, termasuk Indonesia dengan multi-religio-nya yang patut dihargai.
Sikap penghargaan dan kecintaan terhadap kemajemukan seperti ini juga dimiliki oleh Anthony de Mello, seorang imam Jesuit asal India. Hidup di tengah keragaman budaya, dan agama bukanlah satu hal yang patut ditakutkan. Bagi Anthony, hidup berdampingan dengan mereka yang beragama lain adalah anugerah. Tak heran, banyak karya Anthony ditulis dalam sebuah konteks multi-religius, yang justru ditujukan untuk mem-bantu pengikut agama lainnya, termasuk kaum agnostik dan ateis dalam usaha pencarian spiritual mereka. Namun demikian, buku-buku multireligio tersebut sama sekali tidak dimaksudkan oleh Anthony sebagai sebuah buku panduan umat Katolik, baik dalam doktrin maupun dalam dogma Kristen. Anthony adalah seorang spiritualis dan psikoterapis yang banyak dikenal orang.
Selain itu, dia juga seorang penulis dan pembicara yang produktif berkar-ya. Ibarat pepatah, “gajah mati meninggalkan gading”, maka Anthony kembali ke pangkuan Bapa dengan meninggalkan berbagai karya unik, menarik dan praktis yang sampai kini masik dicetak ulang dan terjual laris di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perjalanan ekspresi spiritual dan intelektualitas pria kelahiran 4 September 1931, di Bombay, India ini membuahkan banyak karya yang cukup inspiratif. Banyak di antaranya justru karya-karya yang cukup sederhana, dalam bentuk renungan dan cerita-cerita pen-dek seperti “Doa Sang Katak”, “Dipanggil untuk Mencinta”, “Sejenak Bijak”, dan masih banyak lagi yang sudah diter-jemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun demikian, bukan berarti tidak ada aral melintang – menghalangi perjalanan ekspresi spiritual dan intelektual-nya.
Tahun 1998 Anthony harus menerima pil pahit karena dugaan miring dari petinggi umat terha-dap karyanya. Ya, anggapan bah-wa beberapa karyanya mengan-dung pengajaran yang berba-haya bagi progresivitas iman umat. Banyak orang memang menga-kui bahwa Anthony memiliki pandangan yang cukup kon-troversial, salah satu buktinya tentu justifikasi yang ia terima tadi. Berbagai paradigmanya yang sedikit berbeda tadi umumnya dipe-ngaruhi oleh pemikiran seorang guru spiritual, Ajahn Chah. Terlepas dari sikap gereja terhadap karyanya, buah pikir Anthony De Mello tetaplah merupakan karya yang sangat berarti – tidak hanya bagi umat Katolik sendiri, tapi juga banyak memberkati banyak umat lain, meski dengan pendekatan penulisan berbeda. Bagi De Mello, menolong orang semakin dekat dengan sesembahannya, dengan spiritualitas yang mantap merupakan berkat tersendiri baginya. Slawi/dbs