Search
only search from Reformata
Translate
English Japanese French German Dutch
Laporan Utama
123Laput1.jpg
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
Laporan Khusus
gus-dur.jpg
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Jejak

03 March 2009

St. Alfonsus Maria de Liguori, Khotbah Sederhana Sejukkan Jiwa

Barangkali banyak orang menyangka bahwa apa yang dinamakan  “iman dewasa” itu adalah iman yang betul-betul mengerti, tak hanya melulu per-caya – dipenuhi dengan beragam pengajaran, doktrin rumit yang tak jarang membuat kening mengernyit.  Yang namanya dewasa pastilah harus berbeda dengan anak-anak yang belum dapat mengonsumsi makanan yang terlalu keras.  Tapi benarkah “iman rumit” yang katanya sama dengan iman dewasa itu lebih bernilai dibanding iman anak yang masih perlu diberi susu dan makanan lembek?  Tidak selalu benar bahwa iman yang rumit itu selalu menunjukkan kedewasa-an.  Mengerti doktrin gereja “luar kepala” mampu diskusi dan berdebat dengan luar biasa belum pasti membuat dirinya merasakan nikmatnya manunggal dengan Tuhan.   
Jangan-jangan justru iman yang sederhana, mampu merasakan bagaimana indahnya jalinan kemanunggalan dengan Tuhan,
lantas mampu mengekspre-sikannya dalam laku keseharian lebih merupakan iman indah di hadapan Tuhan.  Sebab tak jarang terdengar di telinga kalau mereka yang fasih dan mengerti banyak doktrin Kristen acap kali justru semakin menjauh dari dekapan Tuhan – meski ini tidak bisa digeneralisir.  Ya iman sederhana, berkhotbah seder-hana, pengajaran sederhana yang tak sedikit orang butuhkan bagi pertumbuhan imannya, karena memang bahasa “tinggi”, dan istilah-istilah teologi yang kerap justru asing di telinga membuat keutuhan pemahaman terhadap pengajaran menjadi buyar.   
Adalah St. Alfonsus Maria de Liguori, seorang imam yang teramat peduli dengan orang sederhana dengan iman yang sederhana pula.  Menurut Alfon-sus, tidak semua orang memiliki pengetahuan intelektual tingggi hingga mampu mengonsumsi pe-ngajaran teologi yang begitu rumit.  Meski demikian bukan berarti pengajaran tidak perlu.  Sebab pria kelahiran Italia pada tahun 1696 ini pun terkenal sebagai seorang pelajar yang teramat giat menimba ilmu.  Bahkan sebelum meresponi panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan, Alfonsus sempat menjadi seorang pengacara terkenal.    
Banyak orang mengenal Alfonsus sebagai orang yang sangat rendah hati.  Itu semua tak terlepas dari didikan orang tuanya, khususnya ayahnya, Don Joseph, seorang perwira angkatan laut sekaligus komandan kapal perang kerajaan,  yang sejak kecil telah mengarahkan dan mendidik Alfonsus ke jalur yang Tuhan  tetapkan.   
Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, membuat Alfonsus menjadi pribadi mandiri dan sekaligus seorang yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap apa yang telah dipercayai dan dianggapnya sebagai pilihan yang benar.   
Alfonsus adalah seorang pelayan Tuhan yang sangat produktif.  Hidupnya diliputi dengan berkarya, melayani dan menghasilkan sesuatu bagi kemaslahatan umat.  Sungguh Alfonsus  adalah pria yang bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi.  Berbagai macam kegiatan mulai dari berkhotbah, menulis lagu puji-pujian, bermain organ, melukis, berorganisasi, dan menulis banyak buku, dijalani dengan tekun.  Konon berbagai aktivitas yang dilakukannya tak jarang membuatnya harus menderita sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan kompres dingin ke dahinya dan terus tekun bekerja.
Maka tak heran, sekaligus satu hal yang luar biasa – di tengah kesibukannya yang begitu menyita waktu, Alfonsus berhasil menyelesaikan puluhan buku.
Alfonsus terkenal sebagai pemimpin umat yang begitu bijaksana.  Tak jarang dia  memberikan pengarahan kepada para imam di wilayah keuskupannya agar menyampaikan khotbah dengan sederhana.  Selaras dengan teladan Alfonsus sendiri dalam menaburkan firman ke hati setiap umat “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya. Baginya mewartakan firman merupakan satu tugas mulia sebagai sarana Allah mendekati umat-Nya.  Karena itulah, tanpa mengesampikan pimpinan Roh Kudus, sudah seharusnya pembawa berita indah dari Tuhan menyampaikannya sebaik mungkin agar dapat diterima dengan baik pula oleh pendengar – sehingga dapat meresponi firman tadi, terutama berguna bagi progresivitas imannya.   
 Alfonsus wafat pada 1787 dalam usia 91 tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja tahun 1871.
         ? Slawi

Others