Jumlah penderita stres atau gangguan jiwa di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat. Menurut psikolog, Arvin Nathanael Chandra, ada banyak faktor penyebabnya. Dalam kon-teks hidup berbangsa dan berne-gara, meningkatnya jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa dominan disebabkan oleh sistem penyelenggaraan negara yang tampaknya tidak berpihak pada masyarakat kebanyakan. Adanya kebijakan pemerintah, bahkan para wakil rakyat yang hanya memen-tingkan diri sendiri tanpa melihat kehidupan masyarakat yang ter-himpit pelbagai kekurangan.
Berapa kira-kira jumlah orang Indonesia yang menderita gangguan jiwa? Untuk memperoleh data akurat tentang berapa persisnya jumlah orang Indonesia yang mengalami gangguan jiwa atau stres tidak dapat dipastikan. Hal itu dise-babkan karena kita belum memiliki sistem informasi terpadu untuk menghitung secara pasti jumlah penderita gangguan jiwa tersebut.
Tapi, apakah benar jumlah-nya makin meningkat? Itu fenomena. Dan, bagi saya fenomena itu benar. Dari tahun ke tahun jumlah masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan jiwa makin meningkat, terutama masyarakat yang hidup di kota.
Bisa dijelaskan proses terjadi-nya stres pada seseorang? Perlu diklarifikasi bahwa orang yang stres tidak sama dengan orang yang terganggu jiwanya. Dari sisi ruang kehidupan dan perkem-bangan jaman dapat dijelaskan perbedaan pengaruh terjadinya stres atau gangguan jiwa tadi. Seseorang, sebelum tinggal di kota – mungkin mereka tinggal di tengah alam desa, di padang rumput atau di tengah hutan. Seorang petani ketika berburu binatang dan mendengar ada bahaya, seperti mendengar harimau mengaum, bunyi badai, petir, biasanya sikap siaga pun terjadi. Ketika siaga, otak kita membawa informasi dan pada saat yang sama langsung menciptakan kete-gangan. Dalam arti saraf di bagian belakang leher kita menegang, lalu mata kita menjadi lebih waspada, jantung berpacu lebih cepat dan tubuh kita langsung mem-produksi andrenalin lebih ba-nyak. Makin banyaknya andre-nalin mempercepat proses pembakaran energi, yaitu apa-kah kita cepat lari atau bergerak cepat. Nah, itu jaman dulu.
Tapi kemudian pengaruh per-adaban, dalam arti jaman kini, di mana kita tinggal di dalam kota, banyak ancaman yang dihadapi. Katakanlah, seperti biasa kita menjumpai pelbagai sumber suara yang bising, takut diseruduk orang, takut diserempet mobil atau takut dijebak polisi. Ancaman-ancaman inilah yang menyebabkan penderita stres makin hari makin banyak. Dan, tipe kita manusia ini susah untuk menanggulangi ancaman-ancaman tersebut.
Kalau anak-anak remaja dan anak-anak kecil, mereka stres karena pelajaran sekolah misalnya. Pelajaran yang bersifat kompetitif memaksa mereka untuk harus belajar berjam-jam. Setelah pagi hari mengikuti pelajaran di sekolah, sorenya ikut les privat. Waktu untuk bersama keluarga hampir tidak ada. Jadi, semua menjadi stres.
Cara mengatasinya? Kalau anak-anak remaja atau anak-anak kecil biasanya wajar untuk mencurahkan isi hati (cur-hat) pada sesama temannya. Dan, yang sudah menikah bisa curhat pada pasangannya. Bagi yang belum menikah bisa menuangkan itu melalui media atau buat catatan harian. Sedangkan untuk orang-orang yang ada di desa atau daerah bisa mendekatkan diri dengan alam, juga pada Tuhan. Atau bisa juga bagi yang senang memelihara ternak, ketika stres perhatiannya dapat dialihkan pada binatang piaraannya. Tapi, yang perlu diingat juga bahwa sense of community masyarakat di daerah cenderung lebih kuat ketimbang masyarakat kota.
Bagaimana dengan masya-rakat kota? Ketika masyarakat kota diper-hadapkan dengan begitu banyak kerja, secara fisiologis andrenalin itu berdampak negatif kalau diguna-kan secara kelamaan. Maka, otoma-tis akan dapat merusak kesehatan.
Stres beda dengan gang-guan jiwa?
Stres bisa dikelola. Misalnya, ketika diperhadapkan dengan suatu gangguan dan tidak tahan dengan gangguan itu seperti tidak tahan kebisingan suara motor, dan suara lainnya, maka bisa dihilangkan dengan pergi ke desa. Suasana alam desa akan membuatnya bisa merasa tenang kembali. Atau melakukan kegiatan olahraga dan rekreasi. Atau juga bisa bermain bersama anak kecil. Itu juga salah satu cara mengatasi stres.
Ketika stres sudah tak tertang-gulangi maka sudah mauk ke ting-kat serius. Sudah mencapai tingkat collaps. Dan, bila lama-lama sudah tidak tahan lagi maka akan cepat capek, yang bisa menuju ke gang-guan jiwa. Dan kalau sudah masuk tingkat ini maka perlu penanganan serius.
Ancaman stres paling besar yang membuat masyarakat Indonesia makin banyak jumlahnya?
Memang ancaman stres paling jelas meningkatnya adalah di Kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Karena adanya ancaman terorisme, korupsi dan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Kini, ancaman krisis global yang menyebabkan banyak orang kehi-langan pekerjaan. Akibatnya sum-ber pemasukan tertutup. Itu an-caman besar yang harus ditangani serius.
Apa yang dilakukan agar pengaruh kebijakan dan peri-laku itu tidak sampai menim-bulkan stres dalam diri masya-rakat?
Ada banyak. Salah satunya, misalnya jangan memandang orang yang korupsi atau pemerintah yang berkelakuan tidak baik. Ya, siapa yang bisa melihat orang fasik, apalagi kita sendiri menyadari kalau kita tidak bisa melakukan hal yang sama.
Stevie Agas