| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Jejak
13 March 2009 Matteo Ricci, Misionaris di China Pendekatan Simpatik terhadap Budaya Lokal
 Meresponi panggilan Tuhan sebagai seorang misionaris bukanlah satu keputusan yang mudah. Pasalnya, selain mengemban tugas berat dengan hidup di ladang pelayanan yang sangat berbeda dengan lingkungan yang dia kenal sebelumnya, jurang budaya yang tak dangkal, membuat banyak misionaris acapkali gentar menghadapi tugas pelayanan. Namun semua itu bu-kanlah satu hal yang cukup berarti bila dibanding misi membawa anugerah Allah yang jauh lebih mulia. Karena itulah segala sesuatu, termasuk kerelaan “melebur diri” dalam budaya lokal, memahaminya, lalu membekali diri dengan pemahaman tadi – sebagai sarana komunikasi dan sosialisasi diri merupakan hal yang teramat penting. Adalah Matteo Ricci, seorang Jesuit berkebangsaan Italia, salah seorang yang begitu menghargai budaya lokal China – di mana dia ditugaskan sebagai pemberita kabar baik dari Tuhan. Dia hidup dalam kurun 1552-1610. Kemajemukan, jurang budaya dan ide sama sekali tak membuatnya takut. Bahkan Ricci
justru mencintai budaya yang baru dikenalnya itu. Kecintaannya terhadap budaya China ditandai dengan bagaimana Ricci bergaul aktif bersama penduduk lokal, bahkan semenjak kedatangaannya di Macau tahun 1582, ahli ilmu alam ini dengan cepat menguasai bahasa Mandarin, baik lisan maupun tertulis. Uniknya lagi, sehari-hari Ricci juga berbusana dan berperilaku layaknya seorang cendikiawan Tionghoa dengan jenggot panjang dan jubah kebesaran serta topi kewibawaan khas pejabat China. Tak heran, perawakan Ricci lebih mirip seorang China daripada misionaris Itali. Ricci adalah seorang yang sangat terpelajar lagi pintar bersosialisasi. Tak heran banyak orang waktu itu terkesan kepadanya. Kepandaian-nya dalam menalar dan menyelidiki kemudian dipakainya menelusuri berbagai hal yang berhubungan dengan budaya China. Kepiawaian-nya dalam bidang bahasa China, baik lisan maupun tulis sangat membantu Ricci dalam mengem-bangkan wawasan intelektual orang lokal dengan memperkenalkan filsafat barat kepada orang Tiong-kok. Tak hanya itu, kepiawaiannya itu juga dipakainya menerjemahkan banyak buku mengenai filsafat Tiongkok, khususnya filsafat Confuciusme yang digemari banyak orang. Melihat totalitas pengabdiannya dalam memperlengkapi penge-tahuan intelektualitas penduduk lokal, pantaslah jika di kemudian hari ia dianugerahi penghargaan dari kaum terpelajar dan kaisar karena keahlian dan pengetahuannya di bidang sastra Tiongkok. Terhadap kebudayaan Tiongkok, Ricci Matteo tak pernah mengang-gapnya sebagai budaya “kafir”, dalam artian bertentang secara radikal dengan iman Kristen. Bahkan Ricci justru melakukan pendekatan simpatik terhadap budaya tiongkok. Hal ini lebih menghasilkan buah iman yang mantap sebagai salah satu cara dalam penginjilan presensi (kehadiran). Salah satu buah penginjilannya itu adalah seorang penduduk lokal yang dibaptis dengan nama Paulus hsu Kuang-chi, yang di kemudian hari menjadi bapak misi di Shanghai. Beberapa karya Ricci sangat populer di kalangan terdidik Tiongkok, khususnya “Ajaran Benar tentang Tuhan” yang tergolong sebagai sastra klasik Tionghoa. Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana ajaran Kristen merupakan penye-lesaian dari tradisi Tionghoa yang ter-mulia. Hal ini dilakukan karena memang sulit mewartakan satu bentuk agama baru kepada masyarakat Tionghoa - dan su-dah dapat dipastikan akan ditolak men-tah-mentah. Pelayanan Ricci berbuah melimpah. Tak kurang dari 2.000 orang Tiong-hoa kalangan atas dan terpelajar bertobat menjadi Kristen melalui media, penjelasan dan pengajaran yang Ricci terapkan. ? Slawi
Others
- A.W. Tozer, Membumikan Kehidupan Jemaat Mula-mula
- Gerrit Berkouwer, Bahasa Alkitab, Kaya Unsur Seni dan Sastra
- St. Yohanes Krisostomus Pembaharu Tak Pandang Bulu
- Joseph Mohr, Pencipta Malam Kudus Orgel Rusak, Lahirkan Inspirasi
- Santa Odilia, Tolak Kemewahan Dunia, Pilih Pelayanan
- Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden
- Rembrandt, Memadukan Seni dan Spiritualitas
- Jonathan Edwards: Melihat Tuhan dalam Lukisan Semesta
- Camilo Torres, Perjuangkan Hak Rakyat Tertindas
- St. Bernardus,Bimbing Orang Menuju Progresivitas Iman
- Sahabat dan Bapak Kaum MudaDon Bosco, Pastur
- Richard Hooker 1554-1600, Membela Tradisi Lama
- Benediktus dari Nursia, Tinggalkan Kemewahan Dunia demi Kristus
- Anak Yatim Pendiri Ordo Ursulin
- August Theis Sebarkan Injil di Simalungun
- Perjuangkan Iman, Tidak Harus dengan Kekerasan
- Johann Baptist Metz, Usung Gagasan Teologi Politik
- Ernst Troeltsch,Menghargai The Others, Bentuk Ekspresi Iman
- St. Alfonsus Maria de Liguori, Khotbah Sederhana Sejukkan Jiwa
|
|