| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Bincang-Bincang
01 April 2009 Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja.SJ Tanggungjawab Umat dalam Pemilu
PEMILIHAN umum legislatif, yang jika tidak ada aral melintang, akan kita laksana-kan pada Kamis (9 April 2009), dinilai banyak orang sebagai mo-men yang sangat krusial dalam me-nentukan langkah dan nasib bang-sa ini ke depan. Namun banyaknya jumlah partai politik (parpol) ditambah rasa kecewa sebagian masyarakat atas kinerja partai dan kadernya di parlemen, membuat banyak rakyat pesimis atau masa bodoh dengan pesta rakyat kali ini. Perkiraan akan rendahnya partisi-pasi warga dalam pemilu bahkan mendorong berbagai pihak untuk menyatakan bahwa “tidak memilih atau golput” itu tergolong haram. Dalam kaitan ini, kami mewa-wancarai Uskup Agung Jakarta Kardinal Julius Darmaatmadja yang pernah berpesan agar menghadapi Pemilu 2009 yang kian dekat, masyarakat Indonesia menjaga kedewasaan dalam berpolitik. “Pesta demokrasi ini harus diikuti oleh kedewasaan pribadi-pribadi. Makin lama bangsa kita makin de-wasa, dan ini sudah mulai terlihat,” kata Kardinal Darmaatmadja usai memimpin perayaan ekaristi kudus di Gereja Paroki Santa Helena, Karawaci, Tangerang, Banten, Sabtu (21/3). Kardinal kelahiran Muntilan, Jawa Tengah, 20 Desember 1934 ini antara lain menegaskan bahwa memilih dalam pemilu harus bertanggung jawab. Selengkapnya berikut petikan bincang-bincang kami dengan kardinal yang bersama para tokoh agama di Indonesia
menemui Paus Yohanes Paulus II di Vatikan untuk menyampaikan keprihatian bangsa Indonesia atas rencana penyerangan Amerika Serikat dan beberapa negara sekutunya terhadap Irak, 2003 lalu. Tanggal 15 Agustus 2005 lalu dia juga mendapat anugerah Bintang Mahaputera Utama dari pemerintah Republik Indonesia, yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.simak bincang-bincang REFORMATA dengan Kardinal Julius Darmaatmadja dalam edisi 104
Others
- M Danial Nafis, Terjepit Di Bawah Penjajahan Gaya Baru
- Sebastian Salang, DPR Tidak Pantas Memaki
- Herdi Sahrasad, Istana Presiden Cemaskan Eskalasi Kasus Century
- Moch. Nurhasim, Pengamat Politik LIPI, Rekomendasi Tim 8, Terbentur Balas Budi?
- Ketika Negara Gagal Capai Tujuan
- Dr. Yuda Tangkilisan, Menjaga Persatuan
- Bela Negara adalah Harga Mati
- Hukum Agama Tak Boleh Dipaksakan untuk Semua
- G 30 SPKI, Persaingan Meraih Kekuasaan
- 'Tak Ada Perjanjian Bagi-bagi Jabatan dengan SBY'
- Oslan Purba, Pengamat Politik Harus Ada Partisipasi Kaum Muda
- Fadjroel Rachman, “Negeri Ini Butuh Ekonomi Kesejahteraan”
- Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar
- Teguh Wardoyo, Masalah Perlindungan, Tidak Ada yang Mudah
- KPU Terkontaminasi Kepentingan Politik Tertentu
- Butuh Presiden yang Punya Nyali
- Arvin N. Chandra, Psikolog: Stres, Dipicu Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah
- Fenomena 'Dukun Cilik', Makin Memperteguh Iman
- Bara Hasibuan, Pengamat Politik AS: Amerika Akan Tetap Keras terhadap Terorisme
|
|