Mundhi Sabda Hardiningtyas*
REFORMATA --Sungguh saya bangga ketika mengunjungi sebuah sekolah Kristen yang didiri-kan dengan visi untuk memper-siapkan “Servant Leaders” atau pemimpin yang melayani berdasar-kan pandangan Alkitab. Saya pun membayangkan, murid-murid di sekolah itu, pastilah ciptaan Tuhan yang sempurna, yang telah dipilih-Nya sebagai calon pemimpin Kristen.
Bayangan saya buyar ketika mendengar beberapa guru me-ngeluh karena sebagian muridnya under achiever, sulit diatur dan tidak berkembang secara optimal. Bahkan seorang guru berkata “Bu, anak itu sudah tidak bisa diubah! Orang tuanya saja sudah kewala-han, apa lagi kita gurunya? Per-cuma saja kita mengajar, kalau anaknya memang sudah begitu dari sononya”
Sangatlah manusiawi jika para
orang tua dan guru tidak puas atau bahkan frustrasi ketika menghadapi anak-anak under achiever. Sesung-guhnya mereka merasa kerepotan karena mereka memandang anak sebagai sesuatu yang merepot-kan. Jika kita menyadari panggilan mulia untuk mendidik anak, sesulit apa pun masalah anak, kita bisa merasakannya sebagai berkat.
Bukan kemauan anak-anak untuk lahir ke dunia. Anak-anak ada karena Tuhan memperkenankan mereka hadir dalam sebuah ke-luarga. Hubungan anak dengan orang tua bukan hanya urusan manusia. Keberadaan anak terkait erat dengan kehendak Tuhan.
Bukan juga kehendak manusia semata, kalau anak-anak pergi ke sekolah tertentu. Tuhan mengijin-kan anak-anak bertemu dengan guru Kristen di sekolah Kristen, karena IA ingin membentuk anak-anak melalui sekolah itu. Mereka ada di sekolah itu karena Tuhan yang mengirimnya. Guru harus menyadari hubungan trialog yang indah antara dirinya dengan murid dan Tuhan.
Jika setiap orang tua atau guru menyadari hubungan trialog antara dirinya dengan anak dan Tuhan, mereka pasti bangga karena telah dipilih sebagai alat-Nya untuk menyiapkan pemimpin Kristen masa depan, sang pewaris kerajaan surga. Mereka boleh berbangga hati karena Tuhan telah mem-percayakan anak-anak kepada mereka.
Apa pun keadaan anak, mereka diciptakan dengan maksud indah untuk kemuliaan Tuhan. Anak-anak bukan barang lusinan yang diciptakan sama rata. Mereka tidak diproduksi secara massal layaknya barang rakitan buatan pabrik. Mereka dirancang secara khusus dan unik dengan tangan-Nya sendiri. Walaupun saat ini mereka tampak sulit berubah, mereka ada dalam rancangan-Nya yang agung untuk menyelamatkan dunia. Setiap anak sangat berharga di hadapan Tuhan. Dengan mendidik anak, kita telah mengambil bagian dalam rancangan-Nya.
Bagaimana jika anak sulit berubah, sementara akal orang tua dan guru telah habis? Dalam kondisi seperti itu, sangatlah wajar jika kita merasa tidak berdaya. Kita harus menyadari bahwa keter-batasan kita. Namun keterbatasan itu tidak bisa membatasi Tuhan untuk membentuk anak sebagai-mana yang dikehendaki-Nya. Lebih baik kita memfokuskan perhatian kepada panggilan Allah, daripada memperhatikan keinginan pribadi, bakat, ketrampilan, atau kemam-puan yang kita miliki.
Walaupun kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah anak saat ini, tetapi kita harus yakin bahwa Roh Kudus akan memam-pukan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan anak menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Tetapi selama Tuhan mengirim anak-anak itu ke hadapan kita, kita harus mengajar dan mendidik mereka sesuai kehendak-Nya. Bagai petani yang tak tahu kapan dan bagaimana panenan yang akan Tuhan berikan, kita harus senan-tiasa menabur benih-benih terbaik di lahan kehidupan anak-anak. Karena kita percaya bahwa Tuhanlah yang merancang anak-anak, maka kita pun harus yakin bahwa DIA-lah yang akan menyelesaikan rancangan-Nya.v
Konselor Sekolah, Mahasiswa Program Magister Konseling