CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Konsultasi Hukum

LAI Melanggar Hukum?

Author : Dr.An An Sylviana | Tuesday, 25 Maret 2008 | View : 1967
Bapak Pengasuh yang terhormat. Dalam edisi 80 tabloid REFORMATA, diberitakan tentang Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dimejahijaukan pengikut Yahweh. Menurut kuasa hukum penggugat,

LAI selaku penerbit yang mencetak Alkitab dalam bahasa Indonesia dianggap melakukan perbuatan melawan hukum karena telah salah mengartikan nama Tuhan dari teks asli sebenarnya yang berbahasa Ibrani. Diberitakan juga bahwa menurut kuasa hukum tergugat, ternyata kuasa hukum penggugat tidak memiliki ijin sebagai advokat.

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana Bapak Pengasuh melihat gugatan ini secara hukum?  Apa kekuatan dan kelemahan gugatan penggugat tersebut?

            Lydia – Jakarta

 

Sdr. Lydia yang terkasih.

Hukum secara sempit dapat diartikan sebagai peraturan yang mengatur bagaimana seseorang bersikap terhadap yang lain dan memaksa supaya bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku.  Dengan demikian hukum bertujuan mengatur perilaku dan tata tertib dalam hidup bermasyarakat.   

Hukum dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu: (a). Hukum Publik (Hukum yang mengatur hubungan antara Pemerintah dengan seseorang); (b). Hukum Privat (Hukum yang mengatur hubungan antara seseorang dengan orang lain).  Hukum Privat terdiri dari: (a). Hukum Privat Materiil (Hukum yang mengatur hak dan kewajiban seseorang terhadap yang lain); dan (b). Hukum Privat Formal (Hukum yang mengatur bagaimana cara mempertahankan Hukum Privat Material dengan bantuan Hakim, atau dalam bahasa sehari-hari disebut Hukum Acara Perdata).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa gugatan Penggugat adalah termasuk dalam Hukum Privat.  Dalam sistem hukum di Indonesia, siapa pun dia yang menjadi subyek hukum, baik orang (persoon) maupun badan hukum (rechtpersoon) berhak untuk mempertahankan haknya melalui jalur hukum (Pengadilan) yang tentunya dengan mengindahkan Hukum Acara Perdata yang berlaku.

Apabila benar sinyalemen yang menyatakan bahwa Kuasa Hukum Penggugat tidak memiliki ijin advokat sebagaimana yang diisyaratkan dalam Pasal 31 UU No. 18               tahun 2003 tentang Advokat, maka hal itu tidak saja dapat menyebabkan gugatan Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima oleh Hakim yang memeriksa, melainkan juga                     Kuasa Hukum Penggugat dapat dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), karena dengan sengaja telah menjalankan pekerjaan profesi advokat dan bertindak seolah-olah sebagai advokat, tetapi bukan advokat.

Dasar gugatan Penggugat adalah perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1365 BW.  Apa sebenarnya yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum. Perbuatan melanggar hukum adalah perbuatan yang tidak hanya langsung melanggar hukum, melainkan juga perbuatan yang secara langsung melanggar peraturan lain daripada hukum yaitu peraturan di lapangan kesusilaan, keagamaan, dan sopan santun, demikian dengan pengertian sifat dari perbuatan melanggar hukum tersebut mengakibatkan kegoncangan dalam neraca keseimbangan dari masyarakat dan tergantung dari nilai hebatnya goncangan itu, apakah peraturan hukum menuntut supaya goncangan itu, meskipun secara langsung hanya mengenai perkosaan peraturan-peraturan kesusilaan, keagamaan atau sopan santun, harus dicegah sekeras seperti mencegah suatu perbuatan yang langsung melanggar hukum                                            (Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, SH, Perbuatan Melanggar Hukum, Penerbit Sumur Bandung, 1976).   

Dengan demikian apabila benar Tergugat dianggap telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena telah salah mengartikan dari teks asli sebenarnya yang berbahasa Ibrani, Israel, quadnon, maka Hakim tentunya akan melihat apakah sifat perbuatan melanggar hukum dimaksud telah mengakibatkan kegoncangan dalam neraca keseimbangan dari masyarakat.  Menarik untuk dicermati Laporan Utama REFORMATA Edisi 80 tersebut, yang menuliskan: “kesepian sidang siang, 25 Maret itu, barangkali menggambarkan sepinya tanggapan umat Kristiani atas perkara yang digelar”. 

Kekuatan dan kelemahan dari gugatan Penggugat adalah sangat ditentukan kepada isi surat gugatannya itu sendiri yang berisi penjelasan adanya hubungan hukum antara kedua belah pihak yang menjadi dasar gugatan (fundamentum petendi) dan penegasan apa yang dimohonkan supaya diputus dan diperintahkan (petitum).  Kepiawaian Kuasa Hukum Tergugat di dalam mengajukan bantahan/tangkisan dan mungkin disertai dengan gugatan balasan (Gugatan Rekonpensi) berperan sangat besar di dalam rangka meyakinkan hakim untuk mengambil keputusan menolak atau menyatakan tidak dapat diterimanya gugatan Penggugat tersebut.

            Demikian penjelasan yang dapat kami berikan, semoga bermanfaat.q

 

77
47 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2014201320122011201020092008
  • vita-pudding.jpg
Mata Hati
ANTARA KRONOS DAN KAIROS.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter: bigmansiraitWaktu dalam terminologi bahasa Yunani dikenal sebagai kronos dan kairos. Dan, dalam Alkitab dipakai secara jeli ..
Konsultasi Teologi
Iblis Bisa Mencobai Tuhan.JPG
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter bigmansiraitBapak Pengasuh yang baik?Dalam Injil Matius 4:1-11, dikatakan bahwa Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved .
Online Support :
X