REFORMATA --Dokter bertipikal penginjil rasanya jarang ada. barangkali satu dari sedikit dokter yang memahami arti Amanat Agung itu. Sebagai dokter, Dasaad senantiasa berupaya memahami tugasnya meringankan penderitaan orang lain, namun di sisi lain dia dituntut memenuhi panggilan Amanat Agung menyebarkan Kabar Baik, jalan keselamatan kekal. Sebuah Alkitab berukuran besar dan setumpuk buku bacaan rohani menumpuk di meja kerjanya. Alkitab merupakan bacaan kegemaran pria bernama lengkap Dasaad Mulijono ini. Selain itu, lagu-lagu rohani tak henti melantun syahdu di ruang prakteknya. Nuansa religius begitu kental di ruangan Dasaad berukuran 4 x 3 meter persegi itu. Dasaad adalah dokter spesialisasi jantung yang baru dua minggu bekerja di Rumah Sakit Omni International Hospital, Serpong, Tangerang. Dia menjabat direktur bagian jantung.
Di rumah sakit bergengsi tersebut, pasien yang dilayani dr Dassad umumnya beragama Kristen. Dokter sekaligus penginjil jarang dijumpai dan cenderung dianggap tidak lazim. Tapi bagi Dasaad, semua itu ada alasannya. Beberapa rumah sakit di mana dia pernah bekerja, panggilan pastoralnya ketara di depan para dokter dan staf rumah sakit. Namun, tak semua menyambut baik. Upayanya menghadirkan perse-kutuan doa di lingkungan rumah sakit selalu dihambat. Di RS Omni International Hospital, suami dari Yuyu ini pun mendapat dukungan mengadakan kegiatan-kegiatan spiritual.
“Bagi saya semangat melayani itu bukan panggilan, melainkan masing-masing orang diberi kesempatan memberitakan Injil. Kita ini kan diberikan pilihan. Jadi, Tuhan tidak pernah memaksa. Tapi niat saya ini ternyata dianggap bodoh oleh sebagian orang karena dianggap lebih mementingkan Yesus daripada karir dan keluarga,” tuturnya. Bagi Dasaad sendiri, menduakan pekerjaan bukan sebuah persoalan pelik dan harus disesalkan. Konteks firman Tuhan yang dia tangkap menyangkut dua perintah ilahi yakni “Kasihilah Tuhan Allahmu, serta kasihilah sesamamu manusia”, wajib diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan perintah itu, Dasaad bercerita, selama manusia diberi kesempatan hidup ditambah memiliki kepintaran, kekayaan dan segalanya, apakah mereka sungguh-sungguh mau mengasihi Allah. Baginya, melayani itu bukan paksaan, namun jika Tuhan benar-benar mengasihi-Nya, umat harus menunjukkan perbuatan juga. Salah satunya adalah menginjil. “Kasih terbesar kita kepada orang lain bukan karena membantu dalam bentuk materi, tapi bagaimana memberitakan Injil. Andai kita bantu lewat uang, mereka tetap masuk neraka kok. Tapi jika kita perkenalkan Yesus kepada mereka yang belum percaya, mereka dapat berkat besar menerima anugerah keselamatan kekal,” kata pria kelahiran Jakarta, 24 Mei 1965 ini.
Dalam kaca mata iman Dasaad, yang diinginkan Tuhan sebenarnya adalah bagaimana umat yang percaya memimpin domba-domba yang tersesat menuju jalan yang lurus. Dasaad mencibir gereja yang menurut dia sekarang sekadar melayani kehadiran jemaat, menyampaikan khotbah dan mendapat perse-puluhan, ketimbang memprioritaskan Amanat Tuhan tentang tugas dan tanggung jawabnya menyebarkan Kabar Baik itu.
Kenal Yesus karena diskriminasi
Di masa kecil, batinnya mengalami pergolakan hebat, terutama ketika dia merasa sebagai anak “buangan”, baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah. Dia tumbuh dalam kemiskinan dan orang tua yang berbeda keyakinan. Ibunya Tionghoa, dan masih memeluk agama nenek moyang, sedangkan ayahnya orang pribumi. Perbedaan itu membuat Dasaad bingung mau memeluk agama apa. Lantaran masih anak-anak, dia tak ambil pusing mengikuti ritual agama masing-masing orang tuanya. Saat itu, keluarga Dasaad tinggal di Tanahabang, Jakarta Pusat.
Meski aktif mengikuti ibadah keduanya, wajah Dasaad yang lebih mirip Tionghoa kerap mendapat ejekan dan diperlakukan kasar oleh anak-anak tetangganya yang sebaya dengan dia. Anak-anak itu sering mengejek dengan nyanyian: “China makan babi sekaleng, gak habis gue tempeleng”. Lagu sindiran tersebut cukup populer saat itu sebagai ejekan bagi etnis Tionghoa. “Hati saya hancur diperlakukan seperti itu. Saya tidak salah kok diganggu dan dikata-katai,” kata Dasaad. Saat itu dia berusia enam tahun.
Berlarut-larut diperlakukan kasar membuat batinnya tidak tenang dan tak jarang berkeluh kesah kepada dua “tuhan” yang selama ini dia sembah. Dia juga mencoba melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya tapi ditanggapi dingin. “Biar saja kamu diperlakukan seperti itu. Kamu kan anak lelaki yang harus sering dipukul agar tambah kuat. Malah kalau perlu saya pukul,” ujar sang ayah. Nilai-nilai pelajaran Dasaad pun sering dilecehkan ayahnya karena hanya dapat angka 7. Dasaad mengaku, secara psikologis dia menjadi anak yang rusak mental. Batinnya hancur sekali. Pihak sekolah pun menganggapnya trouble maker karena sering melamun saat pelajaran. Bahkan, dia dijuluki anak paling bodoh di sekolah. “Otak saya selalu dililit banyak pertanyaan: siapa pencipta dunia ini? Mengapa manusia begitu kejam?” demikian anak ketiga dari enam bersaudara ini mengingat peristiwa suram di masa lalu.
Tiadanya petunjuk membuat batinnya memberontak. Dalam kondisi itu dia mencari kebenaran di agama yang ajarannya penuh tuntunan kasih. Suatu hari, petugas kantor pos mengantar surat ke rumahnya. Ketika dibuka, isinya tentang kursus Alkitab jarak jauh. Di dalamnya tercantum kalimat “Yesus adalah Tuhan”. Spontan batin Dasaad mengalir aroma kedamaian. “Inilah Tuhan yang selama ini saya cari,” ujarnya. Dasaad menyadari bahwa surat itu adalah jawaban dari doa-doa yang selama ini dia panjatkan. Dia pun aktif mempelajari kekristenan dan sering berdoa kepada Tuhan Yesus. Pengenalan akan Yesus membuat Da-saad menjadi anak cerdas dan menonjol di sekolahnya. Nilai-nilai pelajarannya selalu bagus. Para guru bingung cam-pur haru.
Namun makin dekat Tuhan tak be-rarti batinnya tenteram. Sejumlah pertanyaan yang menggumpal di pikirannya selama ini tak pernah sirna. Dari mahasiswa sampai menjadi dokter dan studi mengambil spesialisasi jantung dan penyakit dalam di Australia, waktunya banyak terkuras mencari jawaban seputar misteri itu. Akhirnya, Tuhan menangkapnya pada saat mengikuti ibadah KKR di Australia. Dasaad maju ke mimbar merespon panggilan hamba Tuhan yang memimpin ibadah tersebut. Saat hendak didoakan, spontan Dasaad berontak hebat dan berusaha melemparkan kursi ke hamba Tuhan tersebut. “Padahal, saya seorang konselor dokter jantung tapi bertingkah aneh. Saya jatuh dan terjadi pelepasan,” kenangnya. Belakangan, menurut pengakuan ibunya, sejak kecil Dasaad telah diisi jimat-jimat ketika mengikuti ritual di tempat ibadah.
Dari peristiwa itu, misteri yang selama ini dicari akhirnya terungkap. Menyelami tingkah dan kehidupan manusia di Alkitab dari jaman Adam sampai sekarang mencelikkan mata hatinya. Intinya, Tuhan memberi kebebasan pada manusia untuk memilih dua hal: ikut Tuhan atau dunia. Jika memilih ikut Tuhan, dituntut memiliki ka-rakter Yesus dan hidup berkenan kepada-Nya.
Herbert Aritonang