| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Bincang-Bincang
04 May 2009 KPU Terkontaminasi Kepentingan Politik Tertentu
KISRUH pemilu semakin meluas dan menuai kecaman. Banyak pihak yang menggugat dan menuding Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini sebagai lembaga yang bertang-gung jawab atas kacaunya Pemilu 2009 ini. Kualitas pemilu pun dira-gukan dengan adanya indikasi kecurangan dan kesalahan dalam pelaksanaannya. Pengaduan ten-tang kecurangan yang disampaikan ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) pun terus berlanjut. Beberapa lembaga hukum berniat mengajukan gugatan atas masalah ini, bahkan beberapa partai politik dan tokoh politik mengadakan pertemuan serta membuat per-nyataan bahwa pemilu yang dilak-sanakan pada Kamis, 9 April lalu itu adalah pemilu terburuk sejak reformasi.
KPU pun tidak mau begitu saja menerima tudingan. Pengurus lembaga ini bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab dengan Departemen Dalam Negeri me-nyangkut kacaunya daftar pemilih tetap (DPT). KPU berharap bahwa masing-masing pihak tetap bisa menilai sisi positif dari pemilu kali ini, dan tidak hanya menilai dari kekurangannya saja. KPU pun ber-janji akan terus berupaya memper-baiki berbagai kesalahan. Terjadinya berbagai permasala-han dalam pemilu kali ini tentunya memprihatinkan kita semua. Keprihatinan lain pun muncul di tengah umat ketika berdasarkan penghitungan suara sementara, partai yang menyuarakan pember-lakuan undang-undang syariah memperoleh suara yang cukup tinggi. Sementara partai berlabel Kristen, mengalami penurunan dalam perolehan suara. Kekhawa-tiran atas UU syariah pun semakin kuat tentunya. Menyikapi hal ini kami mewawan-carai DR J. Kristiadi, pengamat politik dan peneliti senior dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Sebagai peneliti dan pengamat yang sudah ber-kiprah selama kurang lebih 30 tahun, ia akrab dengan topik pene-litian seputar peran Tentara Nasional Indonesia (TNI), perkem-bangan politik dan pertahanan. Kristiadi juga kerap memberikan komentar-komentar kepada pe-merintah ataupun lembaga pemilu seperti KPU. simak bagaimana bincang-bincang REFORMATA dengan DR J Kristiadi dalam REFORMATA edisi 106
Others
- M Danial Nafis, Terjepit Di Bawah Penjajahan Gaya Baru
- Sebastian Salang, DPR Tidak Pantas Memaki
- Herdi Sahrasad, Istana Presiden Cemaskan Eskalasi Kasus Century
- Moch. Nurhasim, Pengamat Politik LIPI, Rekomendasi Tim 8, Terbentur Balas Budi?
- Ketika Negara Gagal Capai Tujuan
- Dr. Yuda Tangkilisan, Menjaga Persatuan
- Bela Negara adalah Harga Mati
- Hukum Agama Tak Boleh Dipaksakan untuk Semua
- G 30 SPKI, Persaingan Meraih Kekuasaan
- 'Tak Ada Perjanjian Bagi-bagi Jabatan dengan SBY'
- Oslan Purba, Pengamat Politik Harus Ada Partisipasi Kaum Muda
- Fadjroel Rachman, “Negeri Ini Butuh Ekonomi Kesejahteraan”
- Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar
- Teguh Wardoyo, Masalah Perlindungan, Tidak Ada yang Mudah
- Butuh Presiden yang Punya Nyali
- Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja.SJ Tanggungjawab Umat dalam Pemilu
- Arvin N. Chandra, Psikolog: Stres, Dipicu Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah
- Fenomena 'Dukun Cilik', Makin Memperteguh Iman
- Bara Hasibuan, Pengamat Politik AS: Amerika Akan Tetap Keras terhadap Terorisme
|
|