MENGAMATI minat anak sejak dini pastilah sesuatu yang menarik. Ada beragam keinginan, niat dan cita yang banyak ragamnya. Tak jarang di antara cita-cita dan minat mereka, tercetus keinginan untuk menjadi seorang hamba Tuhan, menjadi pendeta atau penginjil. Suatu harapan dan cita mulia yang hendaknya orang tua pun masyarakat sekitar turut mendukung niat luhur itu.
Bagi masyarakat Simalungun, Sumatera Utara, nama August Theis tentu tidak asing lagi. Dia seorang penginjil yang lahir di Haiger, Jerman, pada 16 Februari 1874. Anak sulung dari tiga bersaudara dalam keluarga berpenghasilan pas-pasan ini pernah melayani di Simalungun.
Sejak kecil August Theis begitu berminat dengan pekerjaan pemberitaan Injil, dan impian itu pun terus berkembang hingga ia dewasa. Karena itulah seusai sekolah menengah, August bergabung dalam sebuah seminari zending di Barmen. Meski itu adalah keputusan yang tepat, toh tidak menghilangkan sama sekali kesulitan yang dialami. Pendidikan yang dijalaninya sejak sekolah dasar dilakoni dengan cucuran keringat dan air matanya. Sejak kecil August Theis terkenal sebagai anak yang rajin ke sekolah Minggu dan beribadah di gereja. Dalam hal bekerja dan membantu keluarga pun ia tak perlu disangsikan. Ia bekerja keras menanggung seluruh biaya sekolahnya sendiri. Tak heran August memiliki mental baja dan sangat mandiri dalam segala hal.
Setelah belajar 7 tahun, August menyelesaikan studi. Kebahagiaan karena menyelesaikan studi serasa lebih lengkap lagi tatkala direktur Rheinische Missionsgesselschaft (RMG), menahbiskannya menjadi pendeta, tepatnya 6 Agustus 1902.
Merintis pelayanan
Pada 23 Oktober 1902, August diutus RMG dari Belanda untuk berangkat ke Indonesia. Dengan menumpang kapal laut milik kapal dagang Belanda, August menga-rungi lautan luas berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya sampailah ia di Kota Padang (ibu kota Provinsi Sumatera Barat). Kota ini menjadi pijakan kaki pertamanya dalam mengawali langkah pelayan-an di Indonesia. Dari kota yang terkenal dengan tari piring itu August melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat ke Sigumpar, Tapanuli, Sumatera Utara.
Berbekal surat pengutusan dari atasannya, Pdt. Nommensen, August beserta timnya menuju Simalungun. Pada masa itu seba-gian besar wilayah Simalungun masih ditutupi hutan-hutan lebat, dan ini merupakan tugas berat bagi August dalam mengawali pela-yanannya. Babat alas (membelah hutan) adalah pekerjaan pertama yang dilakukannya. Saat tiba di Pematang Raya, August Theis langsung membacakan ayat kutipan dari Yohanes 4: 35, “Lihat-lah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Dalam bahasa Simalungun ayat ini berbunyi: Mangkawah ma hanima, tonggor hanima ma juma in, domma gorsing, boi ma sabion.
Sungguh suatu visi besar dari seorang August. Lading pelayanan yang ada di depan matanya digarapnya secara sungguh-sungguh. Metode yang dilakukan-nya pun mirip seperti metode pendahulunya, Nommensen, yakni mencerdaskan masyarakat dengan mendirikan sekolah-sekolah. Pen-didikan merupakan jembatan Injil yang sangat efektif, meskipun dari 183 murid didikannya, yang menerima Yesus sebagai juru selamat hanya 19 orang. Namun hal itu tak membuat August patah arang.
Jerih payahnya akhirnya berbuah juga. Pada 26 Desember 1909, atau tujuh tahun masa pelayanan, August melakukan pembap-tisan pertama atas sejumlah warga Simalungun. Tahun-tahun selanjutnya, berkat kesabaran dan kegigihan August banyak jiwa yang dimenangkan. Salah satu di antaranya adalah nama J. Wismar Saragih yang kemudian menerus-kan jejak pelayanan August di Raya Usang dan Tuan Anggi (saudara dari Raja Raya). Posisinya di Pematang Raya sendiri pun didelegasikan ke Pendeta Guillaume. Dan August sendiri di utus ke Doloksanggul (masih kawasan Sumatera Utara), untuk melayani jiwa baru di tempat itu.
Slawi/dbs