User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Bumi Bukan Ciptaan Tuhan?  |  FPI Suruh Polri Bercermin  |  Masyarakat Tak Perlukan FPI  |  Bollywood Bikin Film Tentang Yesus Semasa Kecil  |  Wanita Katolik Buka Warung Murah Untuk Buka Puasa  | 

Konsultasi Keluarga

03 June 2009

Mencintai Suami-Istri Tanpa Syarat

angsa1.jpg

Bersama: Bimantoro Elifas

Bapak Konselor yang saya hormati.
Perkawinan kami baru memasuki tahun ke-2. Ketika menikah dengan istri, saya tahu kalau dia sudah pernah berhubungan badan dengan pria lain. Dia mengaku pernah diperkosa oleh pacarnya. Usia saya 38 tahun dan istri saya 30 tahun. Masalah selama ini adalah dia selalu menghindar dalam urusan kebutuhan seks, yang seringkali memicu pertengkaran. Dan dia selalu mengatakan bahwa saya tidak mengerti perasaannya. Akhir-akhir ini dia juga enggan berbicara dengan saya dan lebih sering sibuk dengan kegiatan sosial di luar rumah. Saya mencoba untuk mengalah dan berupaya menghindari konflik dengan cara tidak lagi meminta dia untuk berhubungan badan. Tapi di sisi lain saya juga dipusingkan dengan keinginan orang tua untuk segera mempunyai keturunan, mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi.
Mr. X
Bekasi

BAPAK X yang terkasih, memang  pernikahan bukanlah hal yang mudah, ada banyak problema yang muncul  yang semula tidak terpikirkan oleh kita. Ketika Bapak mau menikahi istri yang jelas-jelas dengan jujur menceritakan pengalaman masa lalu, mungkin Bapak punya keyakinan untuk menjadi pelindung dan pendamping  yang bisa membuat istri melupakan masa lalu yang pahit dan memulai lembaran baru yang berbahagia. Namun realita yang dihadapi ternyata  kehidupan pernikahan  tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ada banyak hal yang tadinya kita pikir bisa kita kerjakan namun ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Ketika hal ini terjadi berulang-ulang,  ini bisa membuat kita menjadi tidak berdaya dan mungkin bingung apa yang harus kita lakukan. Apalagi ada tambahan tuntutan dari pihak keluarga yaitu masalah keturunan.
Bagi sebagian orang, hubungan seksual menjadi hal yang sangat penting, karena melalui keintiman seksual ini orang tersebut menjadi yakin bahwa pasangannya mencintai dia. Namun bagi yang lain ada banyak keintiman di luar seksual yang bisa dilihat sebagai tanda bahwa pasangan mencintai dia. Ada keintiman emosional  di ma-na  dia bisa mengungkapkan perasaan-perasaan pada pasangan secara terbuka, baik itu kecemasan, ketakutan, kesedihan  maupun kegembira-an. Ada keintiman intelektual di mana dia bisa bertukar pikiran secara sejajar  dengan pasang-an, memiliki banyak topik untuk didiskusikan bersama. Ada juga keintiman spiritual di mana dia dan pasangan memiliki nilai yang sama dalam hal moral, nilai hidup dan nilai-nilai iman. Masih ada lagi keintiman seperti keintiman rekreasional.
Dalam konteks ini, mana yang  kira-kira Bapak bisa lakukan bersama  istri yang menurut  Bapak bisa membuat dia merasa lebih tenang dan  mau membangun relasi yang lebih personal dengan Bapak,  serta tidak lagi dicemaskan dengan pengalaman masa lalu yang  mungkin membuat dia terluka, dan mempengaruhi relasi saat ini.
Firman Tuhan dalam Efesus  5: 25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”, mengingatkan kita akan kasih yang tanpa syarat. Apakah kita mencintai istri kita hanya ketika dia mengikuti apa kemauan kita? Hanya ketika dia memunculkan pribadi yang sesuai dengan apa yang kita harapkan? Lalu bagaimana ketika dia menjadi pribadi yang tidak kita senangi, apakah kita masih bisa mengatakan kita mencintai dia, dan berupaya untuk terus mencintai dia walaupun realita yang dihadapi tidak mendukung?  
Dalam permasalahan yang Bapak X hadapi, pertanyaan apakah Bapak mencintai istri  “tanpa syarat” perlu digumulkan kembali. Mengapa ini perlu? Ketika dia menolak untuk berhubungan,  Bapak bisa  memikirkan apa kira-kira penyebab penolakan ini  atau bisa juga memikirkan hal-hal negatif yang bisa memicu pertengkaran. Kalau Bapak memikirkan apa kira-kira yang menyebabkan istri menolak, langkah berikutnya adalah  apakah Bapak pernah meng-upayakan keintiman dalam sisi lain seperti rekreasional, spiritual, emosional atau intelektual, di mana melalui keintiman di sisi selain seks ini Bapak bisa membangun relasi personal bersama istri. Dan mungkinkah ketika relasi personal semakin terbentuk, istri kemudian  bisa mengungkapkan kepada Bapak tentang apa yang membuat dia menolak  berhubungan seks.       Pernikahan  memang memerlukan kemauan untuk saling mengenal lebih dalam lagi satu dan lainnya.  Kemauan untuk saling mengenal secara personal (pribadi) ini merupakan pekerjaan yang terus-menerus harus dilakukan oleh suami dan istri sepanjang usia pernikahan mereka, sesuai dengan janji pernikahan: “ sampai maut memisahkan kita”.         Tuhan memberkati.
Bookmark and Share

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.423.223 Hit: 2.022.944 Since: 14.11.05 | 1.0008 sec | TOP
Online Support :