| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Konsultasi Keluarga
03 June 2009 Mencintai Suami-Istri Tanpa Syarat
Bersama: Bimantoro Elifas Bapak Konselor yang saya hormati. Perkawinan kami baru memasuki tahun ke-2. Ketika menikah dengan istri, saya tahu kalau dia sudah pernah berhubungan badan dengan pria lain. Dia mengaku pernah diperkosa oleh pacarnya. Usia saya 38 tahun dan istri saya 30 tahun. Masalah selama ini adalah dia selalu menghindar dalam urusan kebutuhan seks, yang seringkali memicu pertengkaran. Dan dia selalu mengatakan bahwa saya tidak mengerti perasaannya. Akhir-akhir ini dia juga enggan berbicara dengan saya dan lebih sering sibuk dengan kegiatan sosial di luar rumah. Saya mencoba untuk mengalah dan berupaya menghindari konflik dengan cara tidak lagi meminta dia untuk berhubungan badan. Tapi di sisi lain saya juga dipusingkan dengan keinginan orang tua untuk segera mempunyai keturunan, mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi. Mr. X Bekasi
BAPAK X yang terkasih, memang pernikahan bukanlah hal yang mudah, ada banyak problema yang muncul yang semula tidak terpikirkan oleh kita. Ketika Bapak mau menikahi istri yang jelas-jelas dengan jujur menceritakan pengalaman masa lalu, mungkin Bapak punya keyakinan untuk menjadi pelindung dan pendamping yang bisa membuat istri melupakan masa lalu yang pahit dan memulai lembaran baru yang berbahagia. Namun realita yang dihadapi ternyata kehidupan pernikahan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ada banyak hal yang tadinya kita pikir bisa kita kerjakan namun ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Ketika hal ini terjadi berulang-ulang, ini bisa membuat kita menjadi tidak berdaya dan mungkin bingung apa yang harus kita lakukan. Apalagi ada tambahan tuntutan dari pihak keluarga yaitu masalah keturunan. Bagi sebagian orang, hubungan seksual menjadi hal yang sangat penting, karena melalui keintiman seksual ini orang tersebut menjadi yakin bahwa pasangannya mencintai dia. Namun bagi yang lain ada banyak keintiman di luar seksual yang bisa dilihat sebagai tanda bahwa pasangan mencintai dia. Ada keintiman emosional di ma-na dia bisa mengungkapkan perasaan-perasaan pada pasangan secara terbuka, baik itu kecemasan, ketakutan, kesedihan maupun kegembira-an. Ada keintiman intelektual di mana dia bisa bertukar pikiran secara sejajar dengan pasang-an, memiliki banyak topik untuk didiskusikan bersama. Ada juga keintiman spiritual di mana dia dan pasangan memiliki nilai yang sama dalam hal moral, nilai hidup dan nilai-nilai iman. Masih ada lagi keintiman seperti keintiman rekreasional. Dalam konteks ini, mana yang kira-kira Bapak bisa lakukan bersama istri yang menurut Bapak bisa membuat dia merasa lebih tenang dan mau membangun relasi yang lebih personal dengan Bapak, serta tidak lagi dicemaskan dengan pengalaman masa lalu yang mungkin membuat dia terluka, dan mempengaruhi relasi saat ini. Firman Tuhan dalam Efesus 5: 25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”, mengingatkan kita akan kasih yang tanpa syarat. Apakah kita mencintai istri kita hanya ketika dia mengikuti apa kemauan kita? Hanya ketika dia memunculkan pribadi yang sesuai dengan apa yang kita harapkan? Lalu bagaimana ketika dia menjadi pribadi yang tidak kita senangi, apakah kita masih bisa mengatakan kita mencintai dia, dan berupaya untuk terus mencintai dia walaupun realita yang dihadapi tidak mendukung? Dalam permasalahan yang Bapak X hadapi, pertanyaan apakah Bapak mencintai istri “tanpa syarat” perlu digumulkan kembali. Mengapa ini perlu? Ketika dia menolak untuk berhubungan, Bapak bisa memikirkan apa kira-kira penyebab penolakan ini atau bisa juga memikirkan hal-hal negatif yang bisa memicu pertengkaran. Kalau Bapak memikirkan apa kira-kira yang menyebabkan istri menolak, langkah berikutnya adalah apakah Bapak pernah meng-upayakan keintiman dalam sisi lain seperti rekreasional, spiritual, emosional atau intelektual, di mana melalui keintiman di sisi selain seks ini Bapak bisa membangun relasi personal bersama istri. Dan mungkinkah ketika relasi personal semakin terbentuk, istri kemudian bisa mengungkapkan kepada Bapak tentang apa yang membuat dia menolak berhubungan seks. Pernikahan memang memerlukan kemauan untuk saling mengenal lebih dalam lagi satu dan lainnya. Kemauan untuk saling mengenal secara personal (pribadi) ini merupakan pekerjaan yang terus-menerus harus dilakukan oleh suami dan istri sepanjang usia pernikahan mereka, sesuai dengan janji pernikahan: “ sampai maut memisahkan kita”. Tuhan memberkati.
Comments
Others
- Lima Tahun Menikah, Saling Diam
- Jangan Menikah! Jika Takut Ada Masalah
- Komunikasi Selalu Berakhir dengan Pertengkaran
- Nikah Baru 3 Bulan, Gairah Suami Sudah Hilang
- Suami Pemabuk dan Penjudi, Istri Menyingkir
- Mau Nikah, Pacar Tiba-tiba Stres
- Tolong Selamatkan Pernikahan Kami!
- Suami di Luar Negeri, Istri Bingung
- Mengapa Anak Itu Membenci Ibunya?
- Mencintai Kelemahan Istri
- Orang Tua Pisah, Anak Berantakan
- Suami Saya Tidak Percaya Diri
- Pernikahan Kedua pun Terancam Bubar
- Tolong, Saya Jatuh Cinta Lagi!
- Ayah Kasar, Ibu pun Terpuruk
- Suami 'Misterius',Cinta Istri Mulai Hilang
- Tinggalkan Selingkuhan, Suami Kembali ke Istri
- Menyesal Nikahi Duda
- Suami Meninggalkan Keluarga
|
|