| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Bincang-Bincang
04 June 2009 Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar
TIDAK mungkin hilang dari benak kita bahwa lahirnya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara, dilalui dengan perjuangan panjang. Salah satu momentum penting bagi bangsa ini adalah ketika pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pemi-kirannya dalam pidato tanpa teks, tentang dasar negara. Pada kesempatan itulah Bung Karno mengemukakan pendapatnya mengenai Pancasila.
Dihitung dari saat pencetusan oleh Bung Karno itu, kini Pancasila telah memasuki usia 64 tahun, atau sama dengan usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan tiga bulan setelah itu. Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar NKRI, sebagai mana tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia ke-4. Pada intinya telah disepakati bahwa Pancasila sudah final sebagai dasar ideologi, falsafah NKRI. Siapa pun, baik pribadi maupun golongan tidak ada yang dapat membantah fakta tersebut. Dalam perjalanan waktu, tam-paknya tidak mudah bagi Pancasila untuk bertahan sebagai dasar negara. Beberapa peristiwa sejarah mencatat bahwa beberapa kali ada percobaan untuk mengusik Panca-sila atau bahkan secara tidak lang-sung ingin mengganti Pancasila dengan falsafah lain. Pada masa ini pun Pancasila masih menghadapi tantangan. Kelompok tertentu ingin mengakhiri eksistensi Panca-sila, yang telah terbukti bisa men-jadi pemersatu kebhinekaan di Indonesia. Arus reformasi yang meng-hasilkan demokrasi yang kebablasan bahkan telah sukses melakukan amandemen atas UUD 45 yang malah menghilangkan semangat yang terkandung dalam UUD itu sendiri. Maka kini tidaklah menghe-rankan jika bangsa ini bagai kehilangan arah dan jati dirinya. baca secara lengklap dalam RFORMATA edisi 108
Others
- Sebastian Salang, DPR Tidak Pantas Memaki
- Herdi Sahrasad, Istana Presiden Cemaskan Eskalasi Kasus Century
- Moch. Nurhasim, Pengamat Politik LIPI, Rekomendasi Tim 8, Terbentur Balas Budi?
- Ketika Negara Gagal Capai Tujuan
- Dr. Yuda Tangkilisan, Menjaga Persatuan
- Bela Negara adalah Harga Mati
- Hukum Agama Tak Boleh Dipaksakan untuk Semua
- G 30 SPKI, Persaingan Meraih Kekuasaan
- 'Tak Ada Perjanjian Bagi-bagi Jabatan dengan SBY'
- Oslan Purba, Pengamat Politik Harus Ada Partisipasi Kaum Muda
- Fadjroel Rachman, Negeri Ini Butuh Ekonomi Kesejahteraan
- Teguh Wardoyo, Masalah Perlindungan, Tidak Ada yang Mudah
- KPU Terkontaminasi Kepentingan Politik Tertentu
- Butuh Presiden yang Punya Nyali
- Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja.SJ Tanggungjawab Umat dalam Pemilu
- Arvin N. Chandra, Psikolog: Stres, Dipicu Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah
- Fenomena 'Dukun Cilik', Makin Memperteguh Iman
- Bara Hasibuan, Pengamat Politik AS: Amerika Akan Tetap Keras terhadap Terorisme
- Christovita Wiloto, Anggota CEO Statement HAM PBB Perlu Kesepahaman HAM dalam Konteks Indonesia
|
|