| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Konsultasi Keluarga
13 June 2009 Tolong, Saya Jatuh Cinta Lagi!
 Bersama:Michael Christian Bapak Konselor yang terkasih, saya seorang pria 33 tahun, sudah menikah selama 3 tahun, dan dikaruniai seorang anak perempuan (1 tahun). Saya bersyukur karena diberi Tuhan anak yang sehat dan menyenangkan, serta istri yang baik dan pengertian. Namun sebetulnya akhir-akhir ini saya menghadapi masalah yang sangat mengganggu, dan saya khawatir akan menimbulkan keretakan dalam rumah tangga. Saya jatuh cinta lagi dengan perempuan lain, dan saya mulai mendekatinya. Saya tahu hal ini seharusnya tidak terjadi, apalagi saya juga mencintai istri dan anak saya, justru itu saya memberanikan diri menulis surat kepada Bapak. Namun saya bingung bagaimana mengatasinya. Karena orang yang saya dekati ini, saya rasa lebih cocok dengan saya. Dia pandai berorganisasi, dan pintar bergaul, banyak orang yang kagum padanya. Sedangkan istri saya pemalu dan pendiam, kurang bergaul, dan penyendiri. Padahal dulu dia tidak seperti itu, karena kesupelannya saya mencintai dia. Saya sendiri adalah seorang yang aktif dan energik. Karena itu saya membutuhkan orang yang setara dengan saya. Sebetulnya apa yang terjadi dengan saya, dan bagaimana mengatasi ini? Mr. E Tangerang
Mr. E yang terkasih, menyadari bahwa diri kita adalah seorang yang berpotensi untuk menimbulkan keretakan dalam keluarga dan sadar bahwa hal ini seharusnya dapat dicegah adalah suatu hal yang baik. Namun memang kita harus mengerti siapa kita, mengapa hal-hal seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan pernikahan yang sebetulnya patut disyukuri. Memang dalam pernikahan, banyak hal bisa berubah. Kondisi keluarga bisa berubah, penampilan istri/suami bisa berubah, sikap dan komunikasi antara satu dengan yang lain bisa berubah, dan kehadiran anak juga bisa mempengaruhi setiap aspek dan spektrum dalam berkeluarga. Belum lagi permasalahan ekonomi, peran mengatur dalam rumah tangga, siapa yang mencari nafkah, menjadi breadwinner (anggota keluarga yang menghasilkan income terbesar), atau mengurus anak-anak di rumah, dan lain sebagainya. Hal-hal ini entah kenapa bisa menjadi suatu pemicu (trigger) yang bisa mempengaruhi perasaan cinta kita kepada pasangan. Mungkin kita berpikir bahwa ini adalah hal yang wajar, toh semua orang dalam kondisi seperti itu mungkin akan berespon sama. Padahal hal ini lahir dari sinful nature kita yang tidak kita sadari terus-menerus mencari pembenaran bahwa perasaan yang kita alami adalah hal yang wajar. Kebanyakan orang yang terjebak dalam hal ini biasanya menemukan pernikahannya atau pasangannya tidak lagi se-“fresh” dulu. Mungkin dulu pasangannya cantik, seksi, supel, dan menarik. Tapi setelah menikah, apalagi memiliki anak, kemungkinan besar pasangan tidak lagi mampu mempertahankan kondisi seperti itu, dan sebaliknya mulai memikirkan hal-hal rumah tangga, apalagi jika ia tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga, dan kita bekerja di kantor yang selalu bertemu dengan orang yang terlihat “fresh” dan menarik. Dalam kondisi seperti ini rasanya lebih mudah untuk jatuh cinta kembali kepada orang yang kita pandang menarik, menyenangkan, dan juga dikagumi oleh banyak orang. Apalagi jika kita sebetulnya orang yang memiliki pola pikir bahwa kesepadanan adalah kesetaraan baik dalam aktivitas atau pun kemampuan, misalnya jika memiliki kecocokan aktivitas yang sama, hobi yang sama, dan bahkan karakter yang mirip. Sehingga dalam memilih pasangan hidup pun, kita lebih banyak melihat kepada faktor-faktor tersebut daripada sesuatu yang bersifat kekal/lasting di dalam hidup dan pribadi pasangan seperti: apakah pasangan adalah pribadi yang bertanggung jawab, cukup dewasa dalam menjalani pergumulan hidup, mengasihi keluarga, dsb. Jika tidak, hal ini tentu saja menjadi masalah jika kondisi berubah. Tapi di sisi lain, bisa juga hal ini lahir dari pribadi kita yang tidak peka akan panggilan Tuhan dalam berkeluarga, dan tidak mature dalam mengontrol impuls-impuls dalam diri, sehingga akhirnya kita bisa saja menyalahkan istri karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Padahal mungkin juga kita yang memiliki kontribusi sehingga istri berubah menjadi pribadi yang pemalu, pendiam, dan tidak supel. Sayang Anda tidak menceritakan sejak kapan istri berubah? Apa yang memicunya? Mungkin hal-hal ini boleh mulai kita pikirkan. Mengenai bagaimana mengatasi masalah ini, kita bersama seharusnya mulai bergumul di hadapan Tuhan, siapa diri kita sesungguhnya, apa kebutuhan-kebutuhan (needs) hidup kita yang tidak terpuaskan sehingga kita “terjebak” dalam kondisi yang mengarah pada keretakan keluarga, dan berusaha kembali untuk melihat istri sebagai teman pewaris kasih karunia di mana di dalamnya kita berusaha menjadi seorang yang kreatif untuk membuat rasa cinta itu grow dengan sehat; dan beranikan diri Anda untuk datang konseling, memahami diri Anda yang sesungguhnya, berjuang bagi keluarga yang Tuhan sudah berikan. Kami berdoa bersama dengan Anda. v
Comments
Erik, 15.06.09 11:07
Kejenuhan (resiko kefanaan kita sebagai manusia) yang membuat hubungan dengan pasangan biasanya menjadi tidak harmonis lagi. Manusia (terutama saya) memang sangat gampang untuk melu |
Mike, 17.06.09 13:11
saya setuju pak. . kadang-kadang dalam hidup pernikahan bisa bosan atau jenuh. Bersyukur kita punya Tuhan yang selalu mendengarkan dan memberi kekuatan. Semoga Tuhan menolong kita yang lemah dan hina ini ya. . . |
Kedung, 17.06.09 14:52
"Dekat pada Tuhan adalah obat untuk menghilangkan rasa "ketidak tahu dirian" itu. "
hahaha. . . dekat pada Tuhan hanya untuk lari dr kenyataan :P:P: cpd
hahahaha hadapi kenyataan, bukan lari :PP: |
Niko Lea, 17.06.09 11:05
Tahanlah niat untuk mengambil perempuan lagi. Jauhkan pikiran untuk berumah tangga lagi. Sadarilah siapa diri a |
Sahata, 18.06.09 08:50
Janganlah egois. . . . . Ingat Janji nikah anda saat akan diberkati oleh Pendeta ( Protestan ) atau Pastor ( khatolik ) bahwa Suami berjanji akan mencintai istrinya apa adanya dikala sakit atau sehat , dikala miskin atau kaya , ya |
Ruben, 04.07.09 12:35
Tuhan pasti sudah menetapkan bahwa istri anda itu sebagai o |
Rio Van Hotten, 22.10.09 09:18
bisa aja mr. e. banyak alasan bilang aja nafsu kali tuh. ya zaman skarang apa sih yg engga terjadi. laki2 perempuan sama aja. ya ini tugas para pendeta agar berstrategi yang handal untuk menghadappi gejolak modernnisasi. |
Missej, 23.11.09 13:21
dalam 10 hukum tertulis jangan berzinah! itu sudah jelas sekali,,,dan dalam alkitab pun ditulis kalau kita masih berpikir untuk berzinah (belum melakukan perzinahan) itu sudah dikonsider dengan berzinah! read the bible |
Others
|
|