User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Bumi Bukan Ciptaan Tuhan?  |  FPI Suruh Polri Bercermin  |  Masyarakat Tak Perlukan FPI  |  Bollywood Bikin Film Tentang Yesus Semasa Kecil  |  Wanita Katolik Buka Warung Murah Untuk Buka Puasa  | 

Kredo

15 June 2009

Pengudusan Sejati

pengudusan emosi.jpg
 Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
BANYAK orang Kristen yang  mengalami kegagalan dalam menjalani hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah, sekali-pun telah mencoba berulangkali namun seringkali jatuh lagi pada kesalahan yang sama dan seringkali berakhir pada perasaan-perasaan frustrasi, perasaan kalah, perasaan tidak mampu hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah.
lebih parah lagi ketika kegagalan untuk hidup kudus itu kemudian menjadi pintu yang terbuka lebar untuk masuknya pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan berbuat dosa yang dilakukan karena mengikuti pola-pola hidup dunia yang mena-warkan banyak cara dan peluang untuk menikmati perbuatan-per-buatan dosa. Keadaan seperti inilah yang seringkali terjadi dalam kehi-dupan banyak orang Kristen yang berakhir dengan kemandegan dan bahkan terperosok ke dalam kea-daan yang kadang-kadang lebih parah dari keadaan sebelumnya. Alkitab menegaskan kepada kita agar tidak mengasihi dunia ini (1 Yoh  2:15).  
Mengapa banyak orang Kristen gagal menjalani pengudusan dalam hidupnya sekalipun mereka telah mencoba melakukannya? Jerry Bridges dalam bukunya “The Pursuit of Holiness,” mengatakan: “Problem pertama yang mengham-bat proses pengudusan adalah sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centered) daripada memusatkan diri pada Allah. Kita lebih fokus untuk mencapai keme-nangan pribadi dalam mengalahkan dosa daripada berorientasi pada kesedihan Allah terhadap dosa. Kita tidak dapat menoleransi kega-galan kita dalam menggumuli dosa karena kita terlalu berorientasi pada keberhasilan (success oriented) mengalahkan dosa daripada melihatnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Allah-.…menjalani pengudusan merupa-kan kerjasama antara Allah dan orang Kristen.”
 
Kekudusan yang sesung-guhnya
Teolog Stephen Charnock men-jelaskan adanya kecenderungan tertentu dari sebagian orang Kris-ten dalam menjalani kehidupan imannya kepada Allah:  “Di antara berbagai kualitas Allah, ada bebe-rapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan ke-murahan Tuhan daripada memikir-kan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk mere-nungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan ada-lah sifat itu.” (The Existence and Attributes of God, 1979).
Sikap di atas menunjukkan se-buah pola kehidupan beriman yang tidak utuh, menaati Allah hanya secara parsial, menurut apa yang menjadi kesenangan kita, bukan berpusat pada kesenangan Allah. Hidup kudus dan menjalani pengudusan secara ketat hanya pada aspek kehidupan tertentu namun sangat longgar dan toleran terhadap dosa pada aspek hidup lain. Padahal kekudusan itu sendiri mempunyai makna menyeluruh sebagaimana dikatakan F.B. Meyer: “Kekudusan adalah menyeluruh—suatu ketaatan sepenuh hati ke-pada seluruh keberadaan Allah, suatu pengabdian diri dengan segala daya untuk melayani Allah.” Kitab Efesus 4:21-32 menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus mencapai kekudusan yang sesung-guhnya, dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang diperbaharui dalam roh dan pikiran yang kemu-dian harus menghasilkan suatu kehidupan berkenan kepada Allah, baik dalam perkataan, karakter atau perbuatan.

Aspek-aspek pengudusan
Fenomena lain adalah banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka telah hidup dalam kekudu-san yang sesungguhnya dan merasa bahwa mereka telah hidup sebagaimana yang Allah kehendaki. Mungkin mereka beranggapan, de-ngan setia beribadah dan meme-nuhi kewajiban-kewajiban gerejawi atau aktif dalam berbagai pelayanan gereja, mereka sedang berjalan dalam kekudusan yang sesungguh-nya. Namun apakah betul bahwa perasaan dan keyakinan bahwa seseorang telah hidup dalam keku-dusan benar-benar telah hidup dalam pengudusan yang sejati? Bukankah perasaan, pikiran serta pengalaman rohani seseorang sa-ngat relatif dan bisa sangat subyek-tif?
Siapakah yang menentukan bahwa seseorang telah hidup dalam kekudusan yang sesunguh-nya? Tentu Allah adalah penilai utamanya. Lalu apakah yang men-jadi syarat utama pengudusan sejati? Apakah dengan aktif dalam kegiatan dan pelayanan gereja, para hamba Tuhan, majelis/pena-tua, pengurus-pengurus dan pela-yan-pelayan ibadah, dengan sendirinya berarti telah hidup dalam kekudusan sejati? Apakah tanda dari pengudusan sejati dan apakah bukti bahwa seorang Kristen betul-betul telah hidup kudus sebagai-mana yang Allah kehendaki?
Melalui beberapa topik yang telah dibahas mengenai aspek pe-ngudusan dalam rubrik “Kredo” ini kita dapat mengingat beberapa hal penting mengenai pengudusan: (a) Pengudusan adalah perintah dan tuntutan Allah sebagaimana Ia adalah Allah yang kudus (Im. 19: 2, 1Pet 1:16); (b) pengudu-san adalah inisiatif Allah, dimulai oleh Allah dan dilakukan oleh Kris-tus melalui pembayaran korban tebusan di kayu salib yang meru-pakan tindakan kasih dan pengam-punan Allah atau pembenaran (justification by faith alone) yang menyucikan orang-orang Kristen dari dosa-dosanya dan pembeba-san dari tuntutan hukuman/ ke-matian kekal (Yoh 3:16, Rm 3:21-28; 5:8); (c) pengudusan adalah sebuah proses yang bersifat pro-gresif (progressive sanctification) dan selama di dunia tidak ada keadaan di mana seseorang dapat mencapai kekudusan yang sem-purna (moral perfection) kecuali saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (Rm 8:29-30); (d) pengudusan hanya dapat terjadi dengan kehadiran dan pertolo-ngan  Roh Kudus yang disertai respon ketaatan orang Kristen kepada Firman Allah (Yoh 14: 16, 26; Rm 8:23-28).  

Pengudusan sejati
Pengudusan sejati tidak hanya ditandai oleh keterlibatan seorang Kristen dalam berbagai aktivitas ibadah dan pelayanan gereja atau oleh karena seseorang memiliki pemikiran-pemikiran yang agung serta mampu menjelaskan konsep-konsep kebenaran Alkitab secara indah atau utuh. Pengudusan yang sejati merupakan suatu kehidupan yang utuh dan secara total taat dan bergantung pada Allah, sekalipun tidak ada kata sempurna, namun akan tampak tanda-tanda kerohanian yang dinamis pada orang yang hidup dalam kekudusan.
J.C. Ryle dalam bukunya “Holiness” memberikan beberapa hal penting: (a) Kekudu-san adalah suatu kebiasaan untuk menyetujui pikiran Allah sebagai-mana dituangkapkan dalam Kitab Suci; (b) Orang yang hidup kudus akan berbalik dari semua dosa yang ia lakukan dan memegang teguh perintah-perintah Allah; (c) Orang yang hidup kudus akan berjuang untuk hidup seperti Kristus; (d) Orang yang hidup kudus akan mengejar kelemah-lembutan, ketekunan, kesabaran, kebaikan dan menguasai perka-taannya; (e) Orang yang hidup kudus akan mengejar penguasaan diri dan penyangkalan diri; (f) mengejar kasih dan kebaikan bagi saudara-saudaranya; (g) Orang yang hidup kudus akan mengejar kemurahan; (h) Orang yang hidup kudus kemurnian hati; (i) Orang yang hidup kudus akan mengejar takut akan Allah, … rendah hati, setia dalam semua relasinya dan memiliki pikiran yang rohani.” R.C. Sproul mengatakan: “Jika tidak ada perubahan yang nyata dan berkelanjutan dalam diri orang-orang yang menganggap diri mereka telah bertobat, maka kerohanian/keagamaan mereka tidak ada gunanya, betapapun hebatnya pe-ngalaman mereka.” (The Holiness of God).
Pada akhirnya kemampuan se-orang Kristen untuk mampu ber-jalan dan bertumbuh dalam keku-dusan adalah anugerah Allah, tak seorang pun berhak membangga-kan diri jika ia mampu menjalani kehidupan yang kudus dan berke-nan kepada Allah, semua keber-hasilan kita untuk taat kepada Allah semata-mata karena anugerah Allah, sebagaimana diungkapkan pencipta lagu Amazing Grace, John Newton: “I am not what I might be, I am not what I ought to be, I am not what I wish to be, I am not what I hope to be. But I thank God I am not what I once was, and I can say with the great apostle, “ÿþBy the grace of God I am what I am.ÿþ” “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianu-gerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”  (I Kor 15:10). -Soli Deo Gloria.v

Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.

Bookmark and Share

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.423.350 Hit: 2.023.092 Since: 14.11.05 | 1.0455 sec | TOP
Online Support :