DI masa kecilnya ia ditolak. Dia hidup “bergilir” dari satu rumah singgah ke rumah singgah lainnya. Namun dalam hati ia bertekad untuk tidak akan dihina orang lebih jauh lagi karena kemis-kinannya. Bisa dibilang, ia memiliki trauma yang besar.
Siapakah dia? Perkenalkan, namanya Tom Monaghan. Tom bersama abangnya, Jim, sempat dibesarkan oleh ibunya (single parent). Tom tumbuh dalam rasa tidak aman, insecured. Maklumlah, ibu-nya tidak sanggup membiayai Tom dan abangnya. Akibatnya Tom dan kakaknya harus tinggal di panti asu-han atau rumah penampungan lain-nya, dan hidup serba kekurangan.
Namun di dalam lubuk hatinya, Tom kecil bertekad tidak akan lagi menerima olok-olokan. Kemiskinan dan penderitaan adalah temannya sehari-hari. Olok-olok dan pende-ritaan itu telah membakar sema-ngat dalam dirinya, hingga mela-hirkan suatu niat: Apa pun ia mau lakukan asal tidak lagi dihina dan ditolak orang karena kemiskinannya.
Suatu hari ia dan abangnya, Jim, meminjam uang sebesar USD 500, dan membeli restoran kecil dan diberi nama Domina Pizza. Restoran ini akhirnya berkembang menjadi restoran pizza nomor 2 terbesar di Amerika. Tom bahkan menjadi sa-lah satu orang kaya raya di Amerika. Ia mengagumi barang-barang mewah dan karya seni bernilai tinggi. Salah satunya adalah mobil Royale Bugatty. Ini mobil super deluxe yang hanya diproduksi sebanyak 6 (enam) unit saja. Harga satu unit mobil ini Rp 80 miliar! Untuk urusan meja makan (dining table), dia punya koleksi Frank Llyoid Wright senilai Rp 16 milliar.
Tom menjadi orang besar dan sukses secara ekonomi, karena niatnya amat jelas. Ia punya alasan yang membakar dirinya agar men-jadi sukses. Niat yang amat jelas itu akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk mencapai anak tangga sukses.
Banyak organisasi atau korporasi bisa membuat rencana/tujuan, dan tahu bagaimana untuk men-capainya (strategi), namun seba-gian besar tidak pernah menca-painya. Banyak orang membuat resolusi setiap awal tahun, namun yang diimpikan itu hilang setelah beberapa saat pesta tahun baru berlalu. Mereka gagal menemukan alasan atau latar belakang me-ngapa harus mencapainya.
Kalau alasan sebuah pencapaian itu jelas, kuat dan diterima oleh yang bersangkutan, maka apa pun akan ia lakukan. Jalan dan cara apa pun akan ia tempuh untuk menda-patkan apa yang ia mau. Ia punya passionate, bensin pembakar peradaban. Bahkan hal-hal “yang tidak masuk akal” dan tidak ter-pikirkan pun akan dilaku-kan. It is the intention that will take you where do you want to go.
“Bisnis” Yesus yang terbesar adalah karya Golgota. Apa pun Ia la-kukan, termasuk: dihina, dicaci, dimaki, disesah hingga wajahnya tidak lagi dianggap sebagai manusia. Bahkan akhir-nya digantung. Namun Ia tetap maju dan bisa berkata: “Mission accomplished”
Apa yang memberi-Nya kekuatan sebesar itu? Karena Ia tahu me-ngapa ia memilih untuk melakukannya. Ia memi-liki alasan yang hebat! Alasanya dimu-lai dengan kata-kata: Karena begitu besar kasih Allah pada dunia ini, sehingga Ia memberikan anak-Nya yang tunggal supaya manusia tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Martin Luther King bahkan me-ngatakannya dalam nada yang amat tegas dan menantang:
If a man has not discovered something he will die for, he isn’t fit to live.
Kalau seseorang tidak mene-mukan “alasan mengapa ia harus melakukan sesuatu”, apa pun harganya, kalaupun ia harus mati karena itu, maka ia tidak layak untuk hidup. Maksudnya, itu hanya sebuah hidup yang sia-sia, semata mata survival.
Bagaimana kisah akhir dari Tom Monaghan?
Pada 1988, ia membaca sebuah buku tipis “Mere Christianity” karya CS Lewis. Ia menemukan alasan baru yang lebih besar untuk hidup. Dan ia pun mengejarnya. Berapa harga yang dibayarnya? Ia menjual perusahaannya, Domino Pizza. Uangnya yang begitu banyak ia pakai untuk membantu orang lain. Ia tidak memerlukan lagi dining table-nya. Ia memilih menjadi penjala manusia.v (hendriklim@bringdaddyhome.com)
*Praktisi bisnis internasional dan konsultan bisnis perseroan besar