Search
only search from Reformata
Translate
English Japanese French German Dutch
Laporan Utama
123Laput1.jpg
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
Laporan Khusus
gus-dur.jpg
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Laporan Utama

14 July 2009

Kristen Semakin Tersingkir dari Wilayahnya

Copy of IMG_1007.jpg
BILA dicermati, gelombang  pertumbuhan umat Kristen tiap tahun di beberapa provinsi di Indonesia yang merupa-kan kantong (wilayah) Kristen, tidak menampakkan grafik menaik. Sebut misalnya, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Menurut data CI-TRAS (Center for Indonesia Transform  Studies) keberadaan umat Kristen di provinsi yang beribu kota Pontianak ini, tahun 2001 hingga 2005 mengindikasikan grafik me-nurun. Tahun 2001 jumlah umat Kristen Katolik ada 21,85%; tahun 2002 ada 21,95%; tahun 2003 ada 22,56 %; tahun 2004 ada 21,97%; dan tahun 2005 ada 21,73%. Sementara umat Kristen Protestan pada 2001 ada 18,95%; tahun 2002 sebesar 15,92%; tahun 2003 sejumlah 20,90%; tahun 2004 ada sebesar 17,04%; dan tahun 2005 berkisar 19,47%.
Di Provinsi Maluku hanya ditemukan data tahun 2001 dan 2005. Tahun 2001 umat Kristen Katolik ada 8,8% dan tahun 2005 hanya 8,38%. Sementara umat Kristen Protestan tahun 2001 di provinsi ini ada sebesar 46,22% dan tahun 2005 menjadi 42,69%.  
Sementara jumlah umat Kristen di Sulawesi Utara (Sulut) dapat diurai sebagai berikut. Kristen Katolik tahun 2001 ada sekitar 6,21%; tahun 2002 sekitar 6,36%; tahun 2003 sebesar 5,98%; tahun 2005 ada 11,81%. Umat Kristen Protestan tahun 2001 adalah 64,55%, tahun 2002 mencapai 67,85%; tahun 2003 berkisar 63,59%; dan tahun 2005 ada sejumlah 52,25%.
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jumlah umat Kris-ten terbanyak untuk semua provinsi di Indonesia juga meng-alami penurunan. Tahun 2001 jumlah umat Katolik ada 54,78% dan tahun 2005 menurun menjadi 51,29%. Sedangkan umat Kristen Protes-tan tahun 2001 ada 33,94% dan tahun 2005 menurun ke kisaran 32,14%.
Tahun 1999 laju pertumbuhan umat Kristen Katolik di Provinsi Papua mencapai 24,81%, tahun 2001 ada 24,74%, sedangkan ta-hun 2005 menurun hanya 21,8%. Sementara umat Kristen Protestan tahun 1999 ada 54,76%, tahun 2001 jumlahnya cenderung naik 56,80% dan tahun 2005 ada 61,56%. Provinsi Irian Jaya Barat jumlah muslim tahun 2005 mencapai 213.311 jiwa, Kristen Katolik hanya 39.716 jiwa dan Kristen Protestan 311.610 jiwa.

Tren menurun
CITRAS menyimpulkan sampai dengan tahun 2005, jumlah umat Kristen di kantong Kristen terjadi tren yang menurun. Demikian pun wilayah teritorial yang ada di kan-tong Kristen semakin dipersempit. Sebagai contoh adalah Papua. Penduduk asli Papua yang mayoritas Kristen semakin  kecil oleh adanya program transmigrasi yang datang dari Pulau Jawa dan Sulawesi ke  Papua dan menguasai beberapa wilayah di sana.
Kenyataan itu akan makin sulit dibendung oleh karena hingga kini orang-orang yang datang ke Papua tidak kurang dari 200 orang per minggu. “Kebanyakan mereka datang dari daerah Bugis, Buton, dan Makassar. Dalam satu minggu, dua kali kapal mampir di pelabuhan Sorong. Dan setiap kali singgah selalu menurunkan pendatang baru tidak kurang dari 100 orang,” kata Pastor Dr. Neles Tebay, Pr.
Dituturkan Rektor Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik St. Paulus, Fajar Timur,  Papua ini, waktu jaman Belanda, umat di Papua lebih dari 90% Kristen Protestan dan selebihnya adalah Kristen Katolik. Setelah Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1963, jumlah umat non-Kristen semakin bertambah. “Itu dipicu oleh adanya program transmigrasi oleh pemerintah tahun 1960-an sampai dengan tahun 1990-an,” katanya. Karena itu, diper-kirakan, lanjut Pastor Neles, sekitar dua atau tiga tahun lagi, jumlah umat menurut klasifikasi agama di Papua itu terbalik. “Jumlah Kristen mungkin masih menduduki urutan nomor pertama, urutan kedua sudah diduduki Islam dan Katolik urutan ketiga,” lanjutnya.
“Gabungan orang asing di Papua, yaitu antara para pengusaha dan pekerja di berbagai perusahaan, transmigran yang kini makin besar jumlahnya, dan ditambah dengan pendatang baru  yang datang se-cara spontan tiap minggu ke sana menyebabkan tanah Papua makin dikepung,” lanjut Pastor Neles, dan melanjutkan bahwa fenomena itu membuat orang Papua tambah tak berdaya, orang Papua akan semakin menjadi orang asing di daerahnya sendiri.  baca ulasan selanjutnya dalam TABLOID REFORMATA edisi 111

Comments

Post your comment
* Your Name :
* Your Email :
* Description :
Chars remaining :
Enter the Verification Code shown!

Others