User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Editorial

14 July 2009

Pemimpin yang Mengabdi

garuda-indonesia.jpg

Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

Siapa pun yang menang    dalam Pilpres 8 Juli lalu (kalau   ternyata cukup satu putaran saja), apalah gunanya bergirang atau bersedih? Lain halnya jika kita terlibat atau terkait dengan tim sukses pasangan capres-cawapres itu. Tapi bagi kita yang cuma par-tisipan, yang hanya datang untuk mencontreng lalu selesai, netralitas emosi justru harus ditingkatkan menjadi kesadaran kritis untuk siap-siap mengawal pasangan capres-cawapres terpilih yang akan dilantik 20 Oktober nanti. Artinya, janganlah menjadi sekedar partisi-pan pasif, tetapi jadilah partisipan aktif yang selalu siap mengawasi kedua pemimpin itu selama lima tahun ke depan.


Siapa pun yang menang, kita berharap, mereka adalah pemim-pin-pemimpin yang sadar panggi-lannya untuk mengabdi negara, bangsa, dan seluruh rakyat. Menjadi abdi, itu berarti melayani. Ini bukan menunjuk pada jabatan atau posisi sebagai yang lebih rendah, melainkan penghayatan diri bahwa mereka menjadi pemim-pin karena menerima amanah dari rakyat, sehingga harus rendah hati dan selalu mau belajar. Inilah prinsip kristiani tentang kepemimpinan yang melayani (servanthood leadership). Modelnya adalah Yesus sendiri, sang Pemimpin Sejati.


Suatu kali Ia berkata: “Barang-siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43-44). Dari ajaran-Nya itu dapat disimpulkan bahwa langkah per-tama untuk belajar memimpin adalah belajar mengikuti dengan cara memosisikan diri sebagai hamba. Hamba selalu mengikuti apa yang dikatakan tuannya.
Ketika Yesus mengatakan hal itu sesungguhnya Ia ingin mengakhiri kontroversi di antara para murid-Nya sendiri tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Sebab, setiap mereka adalah calon pe-mimpin yang sedang dipersiapkan dan kematangan mereka kelak sebagai pemimpin ditentukan da-lam masa-masa pembelajaran se-kaligus penggemblengan bersama Yesus. Persoalannya adalah murid-murid saat itu dikacaukan oleh pemahaman yang salah tentang kepemimpinan. Mereka cenderung memahami kepemimpinan sebagai-mana lazimnya pemerintah yang bertangan besi dan keras terhadap rakyatnya, sehingga mereka ingin menirunya. Tapi kata Yesus, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-peme-rintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka” (Matius 20:25).


Yesus adalah contoh terbaik dalam hal kepe-mimpinan yang meng-hamba. Dia rela turun dari surga ke dunia menang-galkan segala kemuliaan-Nya demi menjumpai ma-nusia yang berdosa. Dia ihklas membasuh kaki para murid-Nya dan memberi teladan yang luar biasa ketika Ia memberikan diri-Nya disalib demi meng-gantikan orang-orang yang berdosa. Itulah pen-deritaan, yang rela ditang-gung-Nya demi melayani.
Pertanyaannya, harus-kah seorang pemimpin menderita? Mungkin tidak, jika ia memimpin hanya un-tuk memerintah atau me-ngatur. Sebaliknya pemim-pin seperti itu bahkan bisa bertambah hartanya se-iring waktu. Termasuk jabatannya, karena dari sana-sini selalu saja ada pihak-pihak yang memintanya menjadi pelindung, pembina, penasihat, atau komisaris — jika pihak itu adalah kelompok bisnis. Tapi, Yesus bukanlah tipikal pe-mimpin seperti itu. Sebab, ke-utamaannya bukanlah memimpin itu sendiri, melainkan melayani.


Inilah kepemimpinan yang lang-ka. Mudah didiskusikan, tapi ter-amat sulit untuk diterapkan. Para pakar manajemen bisa bicara berbusa-busa tentang kepemim-pinan yang melayani. Tapi, cobalah tunjukkan contoh konkretnya. Apalagi di Indonesia, kita melihat banyak orang yang berambisi ingin jadi pemimpin. Sayangnya, keuta-maan mereka adalah jabatan atau posisi yang prestisius itu. Itu sebabnya, alih-alih hidup susah, mereka malah sibuk memupuk harta demi memperbaiki status sosial ekonomi sekaligus melang-gengkan kekuasaan. Dan sayang-nya lagi, demokrasi Indonesia yang kian maju dewasa ini kian banyak saja melahirkan para pemimpin yang sarat ambisi hanya untuk menjadi pemimpin. Dampaknya niscaya menyuburkan kepemim-pinan otoriter yang bukan saja amat membahayakan, tetapi juga merugikan orang banyak.
Dalam tiga setengah tahun pela-yanan-Nya di dunia, Yesus memim-pin 12 murid yang akhirnya menjadi pelopor-pelopor pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Dari orang-orang Galilea, kasar dan tak berpendidi-kan, Yesus berhasil mencetak 12 rasul yang penuh dedikasi, berka-rakter seperti diri-Nya, dan berhasil meneruskan misi-Nya. Yesus juga berhasil membentuk mereka menjadi pemimpin-pemimpin melalui pengajaran dan gaya hidup, selama mereka bergaul langsung dengan Dia dari hari ke hari.


Dalam model Yesus, pemimpin adalah seorang yang mengubah-kan. Pemimpin adalah seorang yang membawa pengaruh untuk meng-hasilkan perubahan positif di dalam diri orang lain. Ini relevan dalam konteks apa saja, baik di bidang pendidikan, politik, di lembaga pemerintahan, perusahaan, bah-kan di gereja, dan lainnya. Sese-orang yang menduduki posisi pun-cak barulah layak disebut pemimpin jika kehadirannya membawa peru-bahan positif bagi orang-orang di sekitarnya. Perubahan nilai di dalam diri orang-orang (yang terkena pe-ngaruh tersebut) akan memben-tuk sebuah sistem nilai yang juga baru di lingkungan di mana orang-orang itu berada. Jadi, fokus uta-manya adalah pembentukan nilai-nilai di dalam diri orang lain, sehingga terbentuk karakter dan kebiasaan yang sangat baik.


Dalam Matius 9:16-17, Yesus mengajar para murid-Nya demikian: “Tidak seorang pun menambal-kan secarik kain yang be-lum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu ter-buang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan de-mikian terpeliharalah ke-dua-duanya.” Itu berarti, perubahan haruslah bersifat transformatif: me-lahirkan hal-hal yang benar-benar baru. Prosesnya seperti tahapan-tahapan biologis, ibarat kepom-pong menjadi kupu-kupu, dari yang buruk rupa menjadi yang cantik menawan. Tentu saja ada proses yang harus dijalani, yang mungkin saja menyakitkan dan memerlukan pengorbanan. Namun, perubahan demi perubahan itu akhirnya mem-bawa pada kemajuan. Itulah pe-mimpin sejati, yang melalui kepe-mimpinannya seiring waktu banyak orang dibawa ke kehidupan masa depan yang penuh harapan.  


Kepemimpinan, menurut seor-ang tokoh pergerakan Indonesia di masa pra-kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara (bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat, tapi me-ngubahnya agar dekat dengan rakyat), harus mampu memeran-kan prinsip “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Artinya, ketika berposisi di depan, pemimpin haruslah tampil sebagai teladan, ketika di tengah mampu memba-ngun prakarsa, ketika di belakang siap memberikan dukungan. Jadi, tergantung konteksnya. Kalau ia sedang memimpin orkestra sebagai dirigen, tentulah ia harus berdiri di depan. Tapi kalau sedang meng-gembala bebek, apakah ia bisa memimpin dari depan? Lain lagi sebagai kapten kesebelasan sepakbola, ia bisa berada di depan, di tengah, dan di belakang secara bergantian. Yang jelas ia tak boleh njegideg, diam-diam saja alias tidak kreatif-inovatif. Ia harus optimistik, menjadi penggerak dan motivator, yang dinamis bukan statis.


Lain lagi nasihat Julius Caesar, bahwa seorang pemimpin harus menghayati Vini, Vidi, Vici: “Saya datang, saya lihat, dan saya me-nang.” Artinya, pemimpin jangan hanya sibuk rapat di belakang meja saja. Ia harus turun ke lapangan, bercakap-cakap dan mendengar keluh-kesah rakyat, lalu bekerja menyelesaikan masalah mereka. Sementara menurut filsuf Cina Sun Tzu, perang yang berlalut-larut haruslah dihindari. Artinya, janganlah berlama-lama dalam membuat keputusan – meski tetap harus berhati-hati, jangan asal-asalan. Jangan membiarkan ketidakpastian melanda hidup rakyat.
Ah, terlalu banyak bukan yang harus dipahami terkait kepemim-pinan ini? Karena itu, yang penting bagi kita bukanlah siapa yang men-jadi presiden dan wakil presiden terpilih dan terlantik nanti. Melain-kan kita sendiri, untuk selalu me-ngawal mereka dengan kritik dan koreksi, agar jangan sampai mereka menyimpang dan menyalahguna-kan kekuasaannya. Untuk itu, tak bisa tidak, kita harus berdaya dan berpartisipasi aktif di tengah kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Kalau rakyat kuat, niscaya negara pun sehat.
Akhirnya, bagi pasangan capres-cawapres yang “kalah”, ingatlah bahwa kepemimpinan tak selalu identik dengan jabatan. Jadi, tetaplah memerankan diri sebagai pemimpin yang melayani rakyat, sekalipun tidak mendapatkan posisi prestisius sebagai orang nomor satu dan dua di negara ini.  

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.663 Hit: 1.857.422 Since: 14.11.05 | 0.9521 sec | TOP
Online Support :