| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Bincang-Bincang
14 July 2009 Oslan Purba, Pengamat Politik Harus Ada Partisipasi Kaum Muda
KRITIK terhadap para calon pemimpin bangsa ini terus berlanjut. Penampilan dan kemampuan berbicara di banyak media dianggap sebagai sarana menarik simpati rakyat. Konflik yang terjadi antara kubu capres pun menjadi sandiwara politik yang tidak terlepas dari kritik. Kemam-puan para calon pemimpin sempat diragukan ketika debat capres ber-langsung. Acara debat antara ca-pres dan cawapres yang dicanang-kan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) nyatanya tidak cukup meng-gambarkan kualitas calon pemimpin bangsa ini. Jawaban-jawaban para kandidat yang seharusnya dapat menjadi semacam kontrak politik antara calon pemimpin bangsa dengan rakyat Indonesia berlalu begitu saja. Segala yang diucapkan terkesan normatif.
Lebih parahnya lagi permasala-han daftar pemilih tetap (DPT), sehari sebelum pilpres ternyata be-lum juga selesai, banyak pelangaran yang ditemukan, dan dua kubu capres mengajukan keberatan mereka atas kisruhnya DPT. Pada kenyataannya pemilu presiden (pilpres) tetap dilangsungkan pada Rabu (8/7), dan melalui penghitu-ngan cepat (quick count), sore harinya capres peraih suara ter-banyak sudah dapat diketahui. Saat tulisan ini dibuat (9/7), pasangan SBY-Boediono meraih 60% lebih suara, atau jauh di atas kedua rivalnya. Hampir dapat dipas-tikan, SBY-Boediono adalah presi-den dan wakil presiden terpilih. Terlepas dari sikap pro dan kontra yang mungkin ada, tidak bisa dipungkiri bahwa presiden terpilih adalah pilihan rakyat yang ditentu-kan lewat sebuah momen yang dianggap sebagai ajang demokrasi Indonesia. Kembali pada wacana kritik tadi, siapa pun pemimpin yang terpilih, bagi sebagian orang hal tersebut tidak akan memberikan kemajuan yang signifikan bagi bangsa Indonesia. Pendapat ini timbul ketika para kandidat capres dan cawapres yang ada dianggap sebagai orang-orang lama yang tidak lepas dari sistem pemerintahan yang lama pula. Sementara banyak masalah-masalah baru bangsa ini yang timbul. Ada keinginan untuk menghadirkan sosok pemimpin baru bagi bangsa ini, untuk menggantikan sosok-sosok lama yang sejauh ini belum dapat memberikan solusi terbaik bagi bangsa ini.simak bincang-bincang REFORMATA dalam REFORMATA edisi 111
Others
- M Danial Nafis, Terjepit Di Bawah Penjajahan Gaya Baru
- Sebastian Salang, DPR Tidak Pantas Memaki
- Herdi Sahrasad, Istana Presiden Cemaskan Eskalasi Kasus Century
- Moch. Nurhasim, Pengamat Politik LIPI, Rekomendasi Tim 8, Terbentur Balas Budi?
- Ketika Negara Gagal Capai Tujuan
- Dr. Yuda Tangkilisan, Menjaga Persatuan
- Bela Negara adalah Harga Mati
- Hukum Agama Tak Boleh Dipaksakan untuk Semua
- G 30 SPKI, Persaingan Meraih Kekuasaan
- 'Tak Ada Perjanjian Bagi-bagi Jabatan dengan SBY'
- Fadjroel Rachman, “Negeri Ini Butuh Ekonomi Kesejahteraan”
- Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Tanpa Pancasila, Indonesia Bubar
- Teguh Wardoyo, Masalah Perlindungan, Tidak Ada yang Mudah
- KPU Terkontaminasi Kepentingan Politik Tertentu
- Butuh Presiden yang Punya Nyali
- Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja.SJ Tanggungjawab Umat dalam Pemilu
- Arvin N. Chandra, Psikolog: Stres, Dipicu Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah
- Fenomena 'Dukun Cilik', Makin Memperteguh Iman
- Bara Hasibuan, Pengamat Politik AS: Amerika Akan Tetap Keras terhadap Terorisme
|
|