Search
only search from Reformata
Translate
English Japanese French German Dutch
Laporan Utama
123Laput1.jpg
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
Laporan Khusus
gus-dur.jpg
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Konsultasi Keluarga

14 July 2009

Suami Saya Tidak Percaya Diri

224.jpg

Bersama:

Bimantoro ElifasBapak Konselor yang terhormat, suami saya tidak percaya diri. Hal ini terjadi selama pernikahan kami yang sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Setiap kali dia selalu minta pendapat saya, bahkan setelah saya dorong untuk mengambil pendidikan S2, ternyata sikap tidak percaya diri ini tidak berubah dan selalu mengeluh serta tidak pernah bisa menjadi pengambil keputusan. Memang selama ini penghasilan suami saya tidak bisa mencukupi kebutuhan,  dan sejak awal penghasilan saya yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan keluarga. Saat ini dia baru saja berhenti dari pekerjaan karena merasa tidak cocok. Saya ingin berhenti bekerja dan mengurus anak-anak, tapi tampaknya semua upaya saya untuk membuat suami percaya diri dan bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga selalu gagal. Sehingga keinginan berhenti bekerja tampaknya sulit diwujudkan.

Sinta

Bekasi

IBU sinta yang terkasih. Kita berharap memiliki suami yang  bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik dan sekaligus bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga, namun harapan tidak selalu bisa terwujud. Segala upaya yang muncul dari kesadaran akan peran istri sebagai penolong yang sepadan  tentunya kita upayakan, dan memang bisa terasa melelahkan ketika upaya yang sudah kita lakukan bertahun-tahun ternyata tidak menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan. Walaupun kita perlu sadar mungkin ada peran-peran yang belum kita upayakan yang bisa membantu suami untuk keluar dari kelemahan-nya. Ketika selama ini penghasilan kita lebih tinggi dari suami, mungkin tanpa sadar kita tidak pernah menghargai penghasilan yang suami terima. Secara verbal memang mungkin tidak terucap, namun berhadapan dengan indivi-du seperti suami Ibu, tanpa kita sadari kita bisa terjebak menjadi individu yang dominan dan terus menerus berupaya mengarahkan dan mendikte. Sehingga upaya positif yang dilakukan seperti men-dorong dia sekolah lagi bisa dires-poni secara negatif. Dalam kondisi seperti ini kita perlu  memper-hatikan:

1. Siapa sebetulnya pasangan kita, apa yang menjadi kebutuhan utamanya, apa latar belakang masa lalunya? Misal upaya Ibu mendo-rong dia belajar lagi, dengan harap-an dengan ilmu yang lebih lanjut maka dia bisa mendapatkan peker-jaan dengan gaji yang lebih baik sehingga keinginan Ibu berhenti bekerja bisa terlaksana. Namun ketika lulus dan ternyata menga-lami kesulitan mendapatkan penghasilan yang sesuai target, yang muncul adalah sikap yang semakin rendah diri dan tidak berdaya. Nah kemungkinan ini bisa terjadi karena Ibu sedang berhadapan dengan individu yang mungkin rapuh dan tidak punya bekal yang cukup ketika mengha-dapi masalah atau tekanan dalam hidup. Menghadapi individu seperti ini, maka setiap dorongan dan keinginan yang Ibu upayakan bisa menjadi sebuah tekanan yang semakin membuat suami terpuruk dan tidak berdaya. Menghadapi kemungkinan seperti ini tentu Ibu perlu memiliki peran yang sesuai, misal tidak memberikan tekanan tambahan tetapi belajar memberi-kan apresiasi yang tepat kepada suami. Ketika suami mendapatkan pekerjaan walaupun dengan peng-hasilan yang tidak sesuai target, Ibu bisa memberikan kesempatan kepada suami untuk menikmati pekerjaan karena dia menyukai pekerjaan dan bukan karena nominal yang diperoleh. Dengan respon yang positif pada pencapaian suami (sekecil apa pun), mungkin ini bisa menjadi pengalaman baru bagi dia untuk memiliki modal ketika menghadapi masalah hidup di masa depan.

2. Berikutnya adalah siapa kita? Kesadaran akan siapa kita akan membantu dalam meresponi masalah dalam hidup. Friman Tuhan dalam Kolose 3:18,  “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan”. Firman ini mengingatkan bahwa siapapun istri, seberapa tingginya penghasilan, seberapa kuatnya kepribadiannya, tetap harus menempatkan suami sebagai kepala. Dalam konteks ini, Ibu perlu melihat apakah ada pencapaian lain dari suami (selain sukses dalam pekerjaan) yang bisa diapresiasi, misal bagaimana peran dia sebagai ayah, atau  bagaimana peran dia di kehidupan sosial (gereja atau lingkungan rumah misalnya), atau adakah peran dia yang bisa mengisi kebutuhan Ibu sebagai wanita (kehangatan atau kasih atau pengertian).
Menyadari siapa kita dan pasangan kita akan sangat membantu dalam membangun pola relasi, sehingga fungsi pernikahan sebagai saran bertumbuh setiap individu didalamnya bisa terwujud.
Tuhan memberkati. v  

Comments

Post your comment
* Your Name :
* Your Email :
* Description :
Chars remaining :
Enter the Verification Code shown!

Others