| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Laporan Utama
04 August 2009 Saksi-saksi Yehuwa Makin Bergelora
Dekade terakhir, perkemba-ngan Saksi-saksi Yehuwa sangat signifikan. Jumlah ang-gota dan gerejanya terus ber-tambah. Mengapa demikian?
ISTORA Senayan penuh pada Minggu, 12 Juli silam. Lebih dari 11 ribu delegasi menghadiri kebaktian regional yang diseleng-garakan oleh Saksi-saksi Yehuwa (SSY) di jantung Jakarta itu. Selu-ruh acara disampaikan dalam baha-sa Indonesia dan juga bahasa isya-rat. Pasalnya, ada 79 orang tunarungu mengikuti kebaktian. Mereka ditempatkan di ruangan khusus bersama anggota keluarga. Total hadirin dalam ruangan itu sekitar 200 orang. “Kami memang sudah biasa memfasilitasi, sehingga mereka pun bisa menikmati apa yang dikatakan Alkitab,” kata Julius Soelele, salah seorang panitia kebaktian tersebut.
Jumlah orang yang hadir di kebaktian yang mengusung tema “Tetaplah Berjaga-jaga” itu terus bertambah. Pada hari pertama, Jumat 10 Juli 2009, peserta kebak-tian 8000-an orang. Di hari Sabtu naik menjadi 9.500-an orang, dan pada Minggu mencapai 11.000 orang lebih. “Selain SSY, hadir pula para simpatisan,” kata Tonny Adam, salah seorang koordinator layanan berita panita kebaktian. “Kami memang mengundang mereka,” tambahnya. Pada hari pertama, tema Alkitab yang diulas adalah tentang “Bagai-mana Yehuwa membantu kita tetap berjaga-jaga”. Di sore hari itu, yang dibahas adalah tema “Tetaplah berjaga-jaga sebagai keluarga Kristen”. Pada hari yang kedua, tema yang dibahas adalah “Pertahankanlah kesadaranmu, waspadalah!”. Sementara di hari ketiga, bertolak dari Habakuk 2: 3, hadirin dihantar menelaah tema “Tetaplah menantikannya … Ia tidak akan terlambat!” Di hari kedua, dilakukan pula pembaptisan atas 176 siswa Alkitab untuk menjadi anggota SSY. Seperti dituturkan Tonny Adam, sebelum menjadi SSY, ada tiga tahap yang perlu dilalui. Yang per-tama sebagai peminat. Kedua, pe-nyiar belum dibaptis yaitu mereka yang sudah ikut pelayanan dari ru-mah ke rumah, tapi belum dibaptis. Ketiga, penyiar yang telah dibaptis. Ketertiban dalam berpakaian dan kebersihan sangat terlihat. Tidak ada wanita yang mengenakan celana panjang, semuanya pakai pakaian khas wanita. Begitupun, tak ada sampah yang dibuang. Alhasil, para pemulung pun kesuli-tan mengais rejeki.
Sudah 22 ribu lebih Pada tahun 1976, SSY memang pernah dilarang di Indonesia. Tapi pada 2003, semasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pembekuan itu dicabut. Bahkan kemudian mereka terdaftar di Departemen Agama, khususnya di Bimas Kristen Protestan sebagai sebuah gereja yang resmi. Perkembangan SSY boleh dibi-lang sangat signifikan. Kini, seperti dituturkan Tonny Adam, jumlah SSY di seluruh Indonesia mencapai 22 ribu orang. Itu belum terhitung simpatisan. Jumlah gedung gereja – milik sendiri – pun terus bertam-bah. “Terakhir sudah ada 72 gereja yang permanen dan 90 buah yang sedang kita bangun,” jelas Tonny. Belum terhitung, gereja-gereja yang belum ber-IMB. Letak gerejanya pun menyebar. Di Alor, Nusa TenggaraTimur, sudah ada gereja sampai ke pelosok. Di Gunung Sitoli, Nias, ada 3 gereja. Di Papua ada 6 gereja, Sumut 10 gereja dan Manado 5 buah. Di Jakarta dan sekitarnya, ada 6 gereja yang merupakan propertinya SSY. Di Depok ada sebuah gereja SSY. Di daerah Casablanca, Jakarta Sela-tan, satu buah. Begitu pun di Pulo Gebang, Jakarta Timur dan satu lagi di Taman Palem. Di Sukabumi dan Bandung juga ada gereja SSY. “Yang di Bandung itu besar sekali,” tutur Tonny. Ukuran standar gereja SSY ada-lah yang bisa menampung 120-an orang. Dengan sengaja tidak dibuat besar-besar karena dalam kebaktian SSY selalu ada sesi dialog mengenai Firman Tuhan. Total jumlah sidang di Indonesia – satu sidang kurang lebih 60 hingga 70 orang – adalah 394 sidang. Di selu-ruh dunia, jumlah sidang SSY mencapai 103 ribu. Terbanyak di Amerika, sekitar 1 juta anggota. Berikut 500 ribu di Brazil dan Mexico.
Sangat aktif Menurut catatan Tonny, selama dibekukan, tak kurang dari 100 SSY yang ditahan dan diintimidasi. Tapi kini perkembangan menaik. Mengapa bisa demikian? Menurut Tonny, karena keaktifan mereka dalam penyiaran. “Kita sangat aktif. Semua penyiar, baik yang sudah dibaptis maupun belum, sangat proaktif dalam pelayanan, untuk menjangkau sebanyak mungkin anggota masyarakat,” katanya. Yang lebih utama, dalam melaku-kan pelayanan ini, SSY melaku-kannya dengan penuh kegem-biraan. “Kita melakukan pelayanan ini dengan penuh sukacita, bukan beban,” katanya. Setelah dilarang karena agresi-vitas mereka dalam pewartaan, mereka tidak diam. Bahkan lebih bergelora. “Kalau tidak bisa dari rumah ke rumah, kita dari mal ke mal. Lalu dari taman ke taman, juga di kebon binatang dan tem-pat rekreasi lainnya. Mewartakan itu merupakan perintah Yesus dalam Matius 28 yang semua orang Kristen harus lakukan,” kata-nya sembari menambahkan bahwa SSY melakukan itu bukan karena instruksi satu kelompok tapi karena perintah Yesus sendiri. Yesus pun, kata dia, mewartakan dari pasar ke pasar, rumah ke rumah dan desa ke desa. Baca selengkapnya dalam Tabloid Reformata edisi 112
Comments
Cia Yau, 23.09.09 08:10
Hal yang sangat positif dan perlu dipertahankan didalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara untuk lebih baik didlm proses pemahaman dan praktek uud 45_pancasila. jlu all. . . . .
|
Others
|
|