MENGERTI Alkitab dengan baik, tentu dambaan setiap orang Kristen. Namun sayang, pengertian Alkitab kerap diidentikkan dengan penjelasan kata-kata dari untaian kalimat retorik, dengan gaya bahasa yang “menjulang tinggi”. Padahal tak sepenuhnya hal itu benar, sebab orang yang mengerti dengan baik isi Alkitab, pastilah berdampak terhadap kehidupan, baik kehidupan sosial maupun hidup spiritualitasnya. Oleh karena itu, mengerti Alkitab meru-pakan bentuk korelasi otomatis terhadap hati dan keseluruhan diri, di mana orang tidak sekadar pandai berkata-kata, tapi juga menghidupi apa yang dikatakannya – selaras dengan dorongan hati yang dikuasai oleh pengertian yang baik akan isi Alkitab.
Bernardus, seorang teolog kelahiran Dijon, Perancis (1090), adalah satu di antara banyak teolog yang menekankan tentang sikap diri yang bersumber dari hati yang mengerti dengan baik terhadap Alkitab. Bagi Bernardus, teologi dan pemahaman Alkitab sudah seharus-nya menembus hati ketimbang pen-jelasan kata-kata dan retorika. Tidak seperti para Skolastik yang bangga dengan penekanan akal budi lantas menafikan aspek rasa dalam hati yang mampu mendorong diri berbuat sesuatu yang berlandaskan kitab suci. Karena alasan itulah Bernardus, kepada murid-murid binaannya kerap menekankan keharusan pengalaman pribadi tentang Kristus dan mendo-rong penyangkalan diri serta mengu-bah cinta terhadap duniawi menjadi cinta terhadap Allah.
Sebagai seorang teolog yang religius Bernardus memfokuskan pengajarannya pada perlunya perubahan hidup. Ia berupaya se-mampunya membungkam berba-gai ajaran orang-orang berten-tangan dengan hal ini. Hal ini tak terlepas dari didikan dalam ordo-nya, yang terkenal keras masa itu, Ordo Cistercian (Ordo Biarawan Pulih), yang ingin kembali ke hidup sederhana dengan bekerja dan berdoa.
Tiga tahun bergabung dengan Ordo Cistercian telah membentuk Bernardus menjadi sosok biarawan militan yang sangat disegani. Tak hanya karena pembawaan dirinya yang menyenangkan banyak orang, tapi juga karena pengabdiannya yang tulus terhadap ordo dan Kristus, sesembahannya. Tak heran jika di kemudian hari ia terpilih menjadi seorang abbas (pemimpin biara), yang sekaligus diutus untuk mendi-rikan biara baru bagi ordonya.
Wilayah Clairvaux, yang dalam bahasa Perancis berarti “lembah cahaya”adalah tempat yang dipilihnya untuk mendirikan biara baru. Di kemudian hari biara baru itu lebih dikenal dengan sebutan Clairvaux. Di tempat inilah Bernardus membak-tikan seluruh hidup, hingga akhir hayatnya untuk membimbing orang menuju satu progresivitas iman, dengan tetap berlandaskan pada aspek kesederhanan di kehidupan sosial. Meskipun Bernardus lebih me-nikmati tinggal bekerja dan berdoa dalam biaranya, namun ia tak menolak menjalankan tugas-tugas tertentu yang mengharuskannya keluar biara. Bagi Bernardus, tugas berkhotbah, memberi nasihat para penguasa, maupun Paus, tak berbeda kualitasnya di mata Allah, sebab hal itu merupakan tanggung jawab pelayanan yang harus dijalankannya.
Tak hanya itu, selain sebagai seorang biarawan, Bernardus juga produktif dalam menghasilkan banyak karya. Tema utama tulisannya tak terlepas jauh dari beragam hal tentang spiritualitas dan kerohanian yang indah. Satu hal yang Bernardus rindukan dari karya dan pengabdiannya adalah agar banyak orang dapat dekat dengan Tuhan, sama seperti dirinya yang terus memperbaharui diri lebih dekat dengan penciptanya.
Di jamannya, sosok Bernardus adalah seorang biarawan dan teolog yang sangat berpengaruh. Namun demikian tak sedikit pun terbersit dalam benaknya untuk berpaling dari Tuhan, lalu meninggikan dirinya sendiri. Karena itulah ia berusaha keras agar tidak menjadi orang terkenal dan populer. Bernardus meninggal pada 1153. St. Bernardus dinyatakan kudus pada 1174 oleh Paus Alexander III. St. Bernardus juga diberi gelar Doktor Gereja pada 1830 oleh Paus Pius VIII. Bernardus menjadi abbas di Clairvaux hingga akhir hayatnya. ? Slawi