DARI empat bom yang dibawa kelompok teroris ke Jakarta, tiga di antaranya sudah diketahui publik. Dua bom hasil racikan Upik Lawanga alias Taufik Buraga itu meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli silam. Satu lagi ditemukan di kamar 1808 Hotel JW Marriott. Rencananya, bom itu meledak sebelum bom di JW lounge meledak. Tapi karena bom itu tak jadi meledak karena pengendali jarak jauhnya tidak berfungsi karena sudah di luar radius sinyal kamar 1808.
Lalu ke mana bom yang keempat? Tam-paknya polisi masih mencari keberadaan bom itu. Tapi mengutip sebuah sumber di kepolisian, Koran Tempo (Selasa, 4 Agustus 2009) menyebutkan bahwa pada tanggal 18 Juli lalu, sebuah paket bom kecil dijinakkan Tim Gegana di Blok M Square. Bom itu dite-mukan di sebuah rumah ibadah yang terletak di dalam kompleks perbe-lanjaan itu. “Tak jauh dari pintu gereja,” kata sumber itu. Bentuknya pipa paralon sepanjang 20 sentimeter.
Apakah paket bom yang diledakkan di Blok M itu adalah bom keempat yang dibawa para teroris dari Wonosobo itu? Kepala Polsek Kebayoran Baru Komisaris Suhandana membantah kabar yang mengatakan bahwa benda yang meledak di Blok M Square pada 18 Juli itu bom. “Itu simulasi dan tidak ada yang diledakkan,” katanya.
Gereja masih sasaran?
Telepas dari benar-tidaknya bom yang diletakkan di pintu gereja tersebut, sebuah perta-nyaan selalu muncul berkaitan dengan para teroris: Apakah ge-reja masih menjadi target pengeboman? Menyisir ulang peristiwa demi peristiwa penge-boman di Indonesia oleh para teroris, jelas terlihat bahwa gereja (atau umat Kristen) menjadi sasaran bom atau teroris.
Pada 24 Desember 2000 misalnya, bom meledak di Bekasi, Jakarta, Sukabumi, Mataram, Pematangsiantar, Batam dan Pekanbaru. Sasaran utamanya adalah gereja dan menyebabkan 16 korban meninggal dunia, 96 luka dan 37 mobil rusak. Tahun berikutnya, tepatnya 22 Juli 2001, bom meledak di Gereja Katolik Santa Anna, dan HKBP Kalimalang, Jakarta Timur yang menyebabkan lima orang meninggal, dan puluhan luka-luka. Pada 31 Juli 2009, lagi-lagi gereja menjadi korban. Kali ini menimpa Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alpha Omega, Semarang.
Setelah mengebom beberapa tempat lainnya seperti Atrium Senen, KFC Makassar, Sulawesi Selatan, Paddy’s Pub dan Sari Club, Kuta, Bali serta JW Marriot I, pada 12 Desember 2004, gereja jadi sasaran lagi. Meski tak ada korban jiwa, Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah dibom pada tanggal itu.
Setelah tahun 2004 itu, tampaknya, gereja tidak lagi dijadikan sasaran pengeboman oleh para teroris. Apakah gereja benar-benar tak lagi dijadikan sasaran kebiadaban teroris? Menurut aktivis gerakan Islam Al Chaidar, gereja dan mal tidak lagi menjadi sasaran teroris. Yang menjadi sasaran teroris adalah tempat-tempat berkumpulnya orang Amerika seperti di apartemen, hotel, kedutaan, dan kantor perusahaan milik Amerika. “Mereka mengikuti fatwa Osama bin Laden yang dikeluarkan pada tahun 2006 bahwa Amerikalah yang menjadi sasaran gerakan mereka,” kata peneliti masalah teroris ini.
Tapi staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh ini menambahkan bila teror terhadap gereja kemungkinan bisa terjadi, tapi terbatas di daerah bekas konflik yaitu di Poso dan Ambon. “Mereka terbagi dua kelompok. Ring Poso itu masih berhubungan dengan masalah agama. sementara kelompok Cilacap, Palembang dan Banten, modusnya adalah mati syahid dengan sasaran Amerika dan sekutunya,” urainya.
Ditambahkannya bahwa kelompok Poso ini adalah kelompok yang masih sangat brutal. Mereka mengejar dan menargetkan orang Kristen, apalagi yang terlibat dalam perang di daerah sana. “Mereka hanya memperlakukan perang teror itu hanya di daerah Poso, Tentena, pokoknya di Sulawesi Tengah. Terbatas lokasinya. Setahu saya, Ambon sendiri sudah tidak mereka putuskan sebagai wilayah jihad. Jadi tinggal wilayah Poso saja,” tambahnya.
Tafsiran yang keliru
Aksi bom bunuh diri yang mulai dilakukan belakangan ini, menurut Prof. Dr. Azumardi Azra diakibatkan oleh banyak faktor, baik faktor agama, internal politik atau politik domestik dan politik internasional. Semua penyebab itu saling berkaitan. Tapi menurut guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini ada dua dosa besar dalam Islam yang dilakukan oleh para pengebom bunuh diri yang menjadi modus aksi pengeboman belakangan ini. “Yang pertama, bunuh diri. Itu dilarang dalam Islam. Yang kedua, membunuh orang lain, bahkan menyebabkan orang tak bersalah pun meninggal,” katanya.
Kesalahan dalam pemahaman atas jihad, menurut dia, menjadi pemicu tindakan bom bunuh diri itu. Padahal, melakukan bom bunuh diri itu bukanlah jihad sama sekali. “Jihad itu intinya adalah berjuang semaksimal mungkin untuk mencapai kemaslahatan bagi diri dan bagi masyarakat,” katanya. baca selengkapnya dalam REFORMATA EDISI 113