| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Konsultasi Keluarga
19 August 2009 Mencintai Kelemahan Istri
 Bersama: Bimantoro Elifas Bapak Konselor yang saya hormati, usia saya dan istri terpaut 15 tahun: saya 50 tahun dan istri 35 tahun. Kami sudah menikah selama 2 tahun, dan sudah memiliki seorang anak perempuan berusia 4 bulan. Saat ini istri saya terus memaksa untuk pindah rumah karena merasa tidak cocok dengan ibu saya. Kami tinggal di rumah orang tua saya bersama ibu dan adik saya. Ketika mau menikah memang saya menjanjikan akan punya rumah sendiri, dan saya mampu untuk itu. Tetapi apa kata orang kalau saya meninggalkan ibu saya sendiri. Sebagai anak laki-laki satu-satunya saya kan harus juga menjaga orang tua saya. Berulang kali istri saya mengatakan bahwa saya lebih memperhatikan orang tua dari pada dirinya. Sampai-sampai sekarang dia tidak mau campur dengan keluarga dan hanya mengurung diri di kamar. Saya sangat marah dengan tingkah laku istri yang tidak menghormati orang tua saya. Dan saat ini kami sudah 2 bulan tidak berkomunikasi dan pisah kamar. L di Tangerang
BAPAK L di Tangerang, memang menyesuaikan peran adalah sesuatu yang tidak mudah, apalagi Bapak menikah di saat sudah terbiasa hidup sendiri. Belum lagi kondisi orang tua yang memang memerlukan perhatian khusus. Di tengah kesulitan dan kondisi seperti Bapak, kehadiran istri memang bisa menjadi masalah, terutama ketika istri rasanya tidak mau mengerti dengan kesulitan-kesulitan yang kita alami, walaupun melihat jarak usia yang cukup jauh, apakah tidak mungkin ada harapan tertentu dari istri ketika akan menikah dengan Bapak, misal istri merupakan individu yang merindukan figur suami yang melindungi, pengertian dan sangat kebapakan. Ketika harapan istri ternyata tidak terwujud maka istri kemudian bertingkah laku seperti saat ini, yang karena tidak terjembatani dengan sehat maka yang muncul adalah respon dari Bapak yang merasa terganggu, kesal, mungkin marah dan kecewa, sehingga Bapak kemudian membiarkan kondisi saling mendiamkan selama dua bulan yang mungkin sebagai bentuk protes atau keputusasaan terhadap keadaan ini. Pernikahan memang bukan hal yang mudah, dan tidak otomatis bisa berlangsung baik tanpa ada kerja sama dari kedua belah pihak untuk menjalaninya. Kematangan usia ternyata juga tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan peran dan kondisi yang baru dalam pernikahan. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan ketika kita mau mengerjakan pernikahan di antaranya: 1) Kejadian 2: 24 berkata: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Firman Tuhan ini mengingatkan kepada kita bahwa ada peran yang harus berubah ketika kita memutuskan akan menikah, di mana salah satunya adalah menjadikan istri sebagai prioritas utama. Istri sebagai prioritas utama bukan berarti melupakan orang tua, akan tetapi bagaimana kita mengupayakan strategi tertentu di mana kepentingan istri tetap menjadi hal yang utama. Mungkin tanpa kita sadari seringkali kita mengambil keputusan berdasarkan sebuah logika bahwa istri pasti mengerti akan keputusan yang kita ambil (karena kita merasa secara umum hal itu memang lumrah dikerjakan) tanpa melibatkan dia di dalamnya, tanpa mencoba mengerti apa yang sebetulnya menjadi harapannya dalam pernikahan ini. 2) Sejauh apa kita mencintai istri kita, apakah kita hanya mencintai sisi baik dari istri, atau kita juga mencintai kelemahan dalam dirinya. Ini menjadi hal yang perlu dipikirkan, karena ketika kita mencintai istri hanya karena sesuatu yang baik dalam dirinya, entah itu fungsi atau kecantikan atau kepribadiannya, maka ketika dia memunculkan kelemahan dirinya yang di luar harapan kita, maka respon kita akan langsung negatif. Kita bisa kecewa dan kemudian mengembangkan ketidakcocokan. Kalau kemunculan kelemahan ini berulang-ulang, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, kita akan semakin kecewa dan akhirnya tidak bisa lagi melihat sisi baik istri yang kita cintai, yang akhirnya akan mempengaruhi pernikahan kita. Pertanyaannya apakah di dunia ini ada individu yang tidak punya kelemahan termasuk kita sendiri? Dari kedua hal ini Bapak bisa mengembangkan pola relasi yang negatif yang bisa membuat keadaan menjadi semakin sulit, atau bisa mengembangkan pola relasi yang positif dan mencoba mencari jalan terbaik untuk bisa mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan pertolongan.v
Comments
Rere, 20.08.09 19:06
kadang suami lupa janji yg pernah diucapkannya dgn satu alasan yang terkondisikan kemudian. apakah krn kenyamanan yang di tawarkan? krn tgg jwb u mnjadi ortu & suami pasti akan lebih melelahkan. syalom |
Joy, 04.12.09 13:24
Jawaban yg diberikan sama sekali tida memberi solusi. |
Others
- Lima Tahun Menikah, Saling Diam
- Jangan Menikah! Jika Takut Ada Masalah
- Komunikasi Selalu Berakhir dengan Pertengkaran
- Nikah Baru 3 Bulan, Gairah Suami Sudah Hilang
- Suami Pemabuk dan Penjudi, Istri Menyingkir
- Mau Nikah, Pacar Tiba-tiba Stres
- Tolong Selamatkan Pernikahan Kami!
- Suami di Luar Negeri, Istri Bingung
- Mengapa Anak Itu Membenci Ibunya?
- Orang Tua Pisah, Anak Berantakan
- Suami Saya Tidak Percaya Diri
- Pernikahan Kedua pun Terancam Bubar
- Tolong, Saya Jatuh Cinta Lagi!
- Mencintai Suami-Istri Tanpa Syarat
- Ayah Kasar, Ibu pun Terpuruk
- Suami 'Misterius',Cinta Istri Mulai Hilang
- Tinggalkan Selingkuhan, Suami Kembali ke Istri
- Menyesal Nikahi Duda
- Suami Meninggalkan Keluarga
|
|