MELAYANI dan melindungi umat sudah barang tentu tugas wajib seorang hamba Tuhan. Tak hanya perlindungan dari rongrongan dari beragam hal yang dapat menyesatkan umat, tapi juga perlindungan dari segala bentuk penindasan dan tekanan terhadap umat gembalaannya. Meskipun yang melakukan adalah penguasa sekalipun. Jika hal ini terjadi pastilah seorang hamba Tuhan tak sekadar menengadahkan tangan dan berdoa, lebih dari itu, juga berjuang secara aktif memimpin umat, mengorgani-sir untuk menolak segala ben-tuk kekerasan dan penindasan.
Camilo Torres, imam Katolik asal Kolombia ini adalah satu dari sekian banyak hamba Tuhan asal Amerika Latin yang berjuang keras bagi pem-bebasan dan kemaslahatan umatnya dari penindasan penguasa yang sewenang we-nang. Pria kelahiran 3 Februari 1929 di Bogota, Kolombia ini begitu yakin dengan apa yang sedang diperjuangkannya, meskipun sebelumnya terbersit keraguan dan ketakutan di benaknya tentang opini orang terhadap dirinya.
“Berkali-kali saya dituduh menyuarakan revolusi dengan kekerasan. Manakala rakyat mempunyai keberanian untuk mengorganisasi diri, kelas penguasa cepat-cepat menuduh kita menghimpun revolusi dengan kekerasan. Kita tak ingin kekerasan, kita tak hendak menggunakan paksaan. Yang kita cita-citakan adalah bahwa suatu ketika kekuasaan akan berada di tangan rakyat,” katanya.
Sebagaimana banyak teolog pembebasan yang membak-tikan diri dan seluruh hidupnya bagi pelayanan dan perjuangan bagi umat, dengan memiliki kesadaran dan semangat keagamaan untuk melakukan perubahan, melawan struktur dan kultur yang hanya mengun-tungkan sekelompok kecil manusia, tapi merugikan dan menindas mayoritas, seperti itulah yang ada dalam diri Camilo Torres. Meskipun pe-ngejawantahan dari idealisme tersebut adalah bergabung dengan kelompok gerilyawan dan memanggul senjata. Sebab Pemerintah dan aparat militer tak dapat diajak mem-bincangkan hal ini secara damai. Penguasa hanya mempunyai satu jalan yakni, senjata.
Namun demikian Camilo me-nolak bila ia dituduh komunis. “Saya tak pernah akan berga-bung kedalam aparatnya, dan saya tak hendak menjadi ko-munis, baik sebagai warga Kolombia, sebagai sosiolog, sebagai orang Kristen, maupun sebagai pastor. Namun saya bersedia berjuang bersama-sama mereka untuk meraih tujuan serupa, yakni melawan dan menentang oligarki pe-nguasa,” katanya pada September 1965.
Teladan Camilo dalam mem-perjuangkan rakyat bukanlah satu tindakan yang mencuat secara spontan. Tapi merupa-kan sebuah tugas yang digumuli sejak lama. Sebuah tugas untuk menyelamatkan “domba” yang tersisa dari genggaman “singa” penguasa yang ada. Salah satu indikasinya dapat terlihat dari kepedulian pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Uskup Katolik Leuven (Louvain) Belgia dalam memerjuangkan harkat kaum proletar dengan sarana akademis. Terekspresi dalam tesisnya di tahun1958 dengan judul “The Proletarianisation From Bogota”. Yang mengulas pengamatannya tentang kemiskinan para pekerja di Kolombia dan seluruh Amerika Latin. Slawi