Search
Translator
Laporan Utama
Selebaran-KristenisasiPicu-Penutupan-Rumah-Ibadah.jpg
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
Login
User ID :
Kata Sandi :
Laporan Khusus
Menanti-Mayat-Hidup-Kembali.jpg
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Dari Redaksi

07 September 2009

Tanah Papua, di Sana Injil Bersemi

cover 114 revis 2i.jpg
SAUDARA terkasih dalam nama Tuhan Yesus, sejak lama Tanah Papua menjadi keprihatinan kita bersama. Pasal-nya, kawasan paling timur negeri tercinta tersebut, sejak detik-detik kemerdekaan 64 tahun silam, tiada pernah lepas dari yang namanya kemiskinan, kebodohan, keterbe-lakangan, dan berbagai sisi kelam lainnya. Papua adalah potret kemiskinan. Tragis, sebab Bumi Cenderawasih ini berlimpah sumber daya alam. Tetapi, kenapa masyarakat Papua mayoritas hidup dalam penderi-taan? Bila dilihat dari kayanya bumi yang dianugerahkan Tuhan bagi mereka, masyarakat Papua mesti-nya hidup dalam berbagai kemu-dahan dan kelimpahan, sebagai-mana kondisi rakyat di beberapa negeri kaya minyak di Timur Tengah atau di Brunei Darussalam. Sayang, rakyat Papua seolah tidak berdaya untuk menuntut haknya. Atas situasi dan kondisi yang terjadi di Tanah Papua ini, tidak sedikit pihak yang yakin bahwa telah terjadi pembiaran sehingga
masyarakat Papua tetap bodoh. Mereka dibiarkan bodoh agar pihak lain bisa dengan mudah menguasai aset berharga mereka, yakni tanah yang “berlimpah susu dan madu” tersebut. Menyedihkan, meng-ingat Papua adalah salah satu pintu gerbang masuknya Injil ke Indonesia. Di Papua, Firman Tuhan itu tumbuh dengan subur, bahkan se-jak dulu Papua menjadi salah satu basis kekristenan di negeri ini. Tapi sekarang, ditengarai ada geliat pihak lain untuk memaksakan niat-nya menjadi “penguasa” di Papua.
Sejak dulu, sudah terasa adanya gerakan pihak-pihak tertentu, atau pun kebijakan untuk semakin menghambat perkembangan ke-kristenan di tanahnya itu, dengan misalnya membiarkan pembodohan itu. Terbitnya peraturan yang membatasi dana dari luar negeri untuk membantu kegiatan organi-sasi kemasyarakatan dan keaga-maan juga telah menghalangi akti-vitas misionaris yang sejak dahulu telah menjejakkan kaki di bumi Papua, dan berjasa besar menye-barkan berita keselamatan itu. Sebaliknya, berbagai kemudahan dan fasilitas yang diberikan pe-nguasa bagi orang-orang penda-tang, bukan saja semakin melebar-kan cengkeraman mereka, namun juga semakin mempersempit ke-kristenan. Dengan segala sumber daya dan dana serta dukungan dari berbagai pihak, mereka leluasa melakukan aksinya.   
Sebagaimana telah diberitakan di beberapa media, belum lama ini sebuah kapal telah dipersiapkan untuk mendukung aktivitas penye-baran agama tertentu di Papua. Fakta yang disebut terakhir ini membuktikan betapa makin gen-carnya mereka untuk “menguasai” Papua dalam waktu yang singkat.
Ironis. Di Papua mereka bisa bergerak dengan sangat leluasa, sebaliknya di tempat lain, di berba-gai pelosok Tanah Air, nasib tragis dialami umat minoritas yang tidak leluasa menjalankan ibadah. Lihat saja nasib beberapa gereja yang digusur pemerintah hanya karena “ada segelintir warga yang tidak senang dengan keberadaan gereja di satu tempat”. Jangankan gereja yang belum memiliki surat ijin, yang sudah memiliki surat ijin pun bisa dinyatakan tidak berlaku. Berbagai cara dan dalih bisa dipaksakan untuk menghalangi pendirian tempat ibadah bagi umat Kristen di berbagai tempat.
Padahal jika bangsa ini masih memiliki nurani dan moral, sebagaimana sering didengang-dengungkan, baik dalam pidato, khotbah, tulisan, ceramah, dan lain-lain, maka penyebaran agama pun seharusnya dilakukan secara elegan, bermartabat dan mengin-dahkan etika. Artinya, jika sampe-yan ingin menyebarkan agama di suatu tempat, maka setidaknya umat lain pun diberi keleluasan dan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai kayakinannya, jangan malah dihalangi, diintimidasi, dianiaya.
Semoga umat Tuhan, khususnya yang ada di Papua bisa cerdas da-lam iman, dan tidak mau mengga-daikan janji keselamatan kekal yang sudah mereka terima, yang hanya ada di dalam satu nama: Tuhan Yesus Kristus, Allah Yang Maha-kuasa itu.v
    
    

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others