CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Bincang-Bincang

G 30 SPKI, Persaingan Meraih Kekuasaan

Tuesday, 29 September 2009 | View : 3477

Prof. Dr. Payung Bangun, Pengamat Sejarah dan Politik

SETIAP 30 September, ingatan kita selalu dihantarkan pada sejarah tragedi G 30 S PKI. Saat itu terjadi penculikan dan pembunuhan atas beberapa jenderal Angkatan Darat, yang didalangi oleh PKI. Jasad para jenderal itu dibuang di sebuah sumur tua di sebuah kawasan Jakarta, yang kini dikenang sebagai Lubang Buaya.

Pembunuhan atas jenderal itu mengakibatkan adanya intervensi keras terhadap PKI bahkan ber-ujung pada pembantaian orang-orang PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta tempat-tempat lainnya. Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha pemberontakan yang disebut se-bagai usaha kudeta yang dituduh-kan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Penumpasan terhadap gerakkan tersebut pada masa itu dipimpin oleh Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayjen Soeharto.

Isu-isu yang timbul atas terjadi peristiwa tersebut pun muncul ke permukaan. Isu yang paling me-nguat adalah adanya keinginan untuk menggulingkan kekuasaan yang memerintah pada masa itu. Isu tersebut diperkuat dengan adanya kabar bahwa kondisi kese-hatan Presiden Republik Indonesia, Sukarno dalam keadaan yang tidak baik. Tampaknya situasi ini dijadikan momentum untuk mela-kukan perebutan kekuasaan. Un-tuk mengetahui lebih jauh tentang peristiwa tersebut, kami menanya Prof. Dr. Payung Bangun. Saat ini ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di Universitas Kristen Indonesia.

Dari sisi sejarah dan sebagai orang yang hidup pada jaman itu, boleh Bapak jelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada waktu peristiwa G 30 S PKI berlangsung?
Seperti halnya yang orang kebanyakan bilang, peristiwa itu memang agak kabur. Saya kan waktu itu ada di Medan, kita di sana tidak langsung tahu. Saat peristiwa itu terjadi, di Medan aman-aman saja, esok harinya saya dengar kabar di kampus bahwa telah terjadi peristiwa penangka-pan enam orang jendral yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Kabar itu saya dengar dari RRI, karena memang RRI ada-lah sumber informasi satu-satunya saat itu. Hanya saja berita di RRI berubah ketika siang hari, siang harinya kita mendengar bahwa peristiwa yang terjadi di Jakarta adalah permasalahan dewan revo-lusi yang dipimpin oleh Letkol Untung. Lebih membingungkan lagi ketika pemberitaan RRI berubah pada malam harinya, di mana dikatakan bahwa RRI telah dikuasai oleh KOSTRAD. Berita-berita semacam ini tentunya membingungkan kita pada saat itu.
    
Apa ada dampak dari peris-tiwa tersebut selain berita-berita yang membingunkan dan menimbulkan perta-nyaan?
Tidak lama setelah peristiwa tersebut situasi semakin memanas, termasuk di dalam universitas-universitas. Banyak penangkapan terjadi di dalam fakultas. Karena memang pada saat itu PKI memiliki  gerakan mahasiswa yang bernama CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia). Mahasiswa-mahasiswa anggota CGMI ditangkap dan dibawa ke sebuah tempat yang tidak kita tahu keberadaannya. Peristiwa ini membuat kita merasa tidak aman di kampus, bahkan rumah-rumah dosen dijaga oleh beberapa mahasiswa.
    
Di mata Bapak sebagai se-orang akademisi, apa sebenar-nya konflik utama penyebab terjadinya peristiwa tersebut?
Perebutan kekuasaan. Ka-rena pada waktu itu kan ada perebutan pengaruh komunis di berbagai wilayah di Asia. Di banyak wilayah Asia seperti Cina, Vietnam Utara pengaruh komunis sudah cukup kuat. Sedangkan di Indonesia hasil pemilihan umum 1955, PKI itu partai terbesar keempat. Selain itu Bung Karno seperti memberi angin kepada PKI lewat NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis). PKI juga bisa memperhitungkan ke-sempatan di mana Indonesia masih dalam keadaan pulih dari berbagai pemberontakkan. PKI pun melihat adanya pe-luang di mana bantuan per-senjataan datang dari negara komunis seperti Rusia meng-ingat pada saat itu hubungan dengan Amerika sudah jauh. Jadi perhitungan-perhitungan pada masa itu memang banyak menguntungkan PKI.
    
Apakah sikap Sukarno yang seringkali dalam membuat keputusan me-nguntungkan PKI, meng-indikasikan bahwa ia ada-lah seorang yang mem-punyai pemahaman kiri?
Saya rasa tidak. Kita perlu ingat bahwa Bung Karno itu adalah seorang solidarity maker. Ia mempunya idealisme yang tinggi bahwa bangsa Indonesia harus satu. Jadi nation building-lah yang mendorong dia untuk bersikap demikian. Dia mempunyai tujuan untuk mempersatukan bangsa, itu saja. Memang dia cu-kup radikal, tapi dia bukan kiri.

Bagaimana dengan kabar yang tersiar bahwa konflik perebutan kekuasaan yang terjadi pada masa itu konflik antara PKI dan Angkatan Darat?
Ada hipotesis seperti itu. Di mana terjadi hipotesis segitiga antara PKI, Angkatan Darat, dan Sukarno. Di mana kedua belah pihak ini saling menunggu untuk merebut kekua-saan dikarenakan Sukarno pada masa itu dalam keadaan yang tidak baik kondisi kesehatannya. Ditam-bah dikeluarkan isu-isu bahwa kon-disi kesehatan Sukarno sudah tidak mungkin membaik lagi. Jadi menu-rut sebuah hipotesis, keduanya menunggu kesempatan untuk merebut kekuasaan saat itu.

Bagaimana komentar Bapak tentang adanya diskriminasi terhadap keturunan mereka (PKI) yang dianggap terlibat?
Memang ada peraturan itu, di mana garis keturunan mereka tidak boleh menjadi pegawai negeri atau pun angkatan bersenjata dan polisi. Peraturan itu menurut saya diberla-kukan karena situasi yang belum stabil pada saat itu. Hanya saja seharusnya setelah keadaan setelah keadaan lebih stabil per-aturan tersebut bisa dicabut. Apa-lagi pada masa itu banyak orang yang terdaftar sebagai anggota PKI tapi sebenarnya dia tidak terlibat sama sekali. Hal ini terjadi di mana orang-orang yang pernah dibantu oleh PKI da-lam penerimaan alat pertanian seperti cangkul dan pu-puk itu diberikan tanda terima. Nama-nama itu dibuatkan dalam organisasi yang bernama Barisan Tani Indonesia. Di sinilah mereka dianggap terlibat. Jadi seharusnya kita sudah tahu, bahwa hukuman semacam itu, jangan diberlakukan lagi.Jenda
    

See Also

Revolusi Mental Jokowi Sebagai Pembawa Harapan
Gravitasi Jokowi Dan Pondasi Kebinekaan
Hendrik Dikson Sirait Aktivis Mahasiswa Yang Dianiaya
Jokowi Presiden Sudah Sampai Pada Top Mind
Sabam Sirait, Politisi: Menyerap Aspirasi Rakyat Tetap Saya Lakukan!
Memperdagangkan Keputusan Itu Perbuatan Bejat!
PemudaHarus Bangkit Dan Beri Warna Indonesia!
Gereja Mesti Terlibat Mengurangi Prilaku Korupsi
Pdt. DR. Jimmy Oentoro: Gerejaku Kotaku, Kotaku Gerejaku
Perlu Ada Langkah-langkah Konkrit Pemerintah
Kita Amnesia Sejarah, Pancasila Masih Sebatas Slogan
Tak PerluBangga, Bila Tak AdaPemerataan
Harus Ada Keseimbangan Antara Tanggung-jawab Pengusaha Dan Karyawan
Saya Bukan Haus Kekuasaan, Saya Hanya Mau Mengabdi!
AnatomiThai Boxing Democracy Menjelang Pilpres RI Ketujuh
Pemimpin Tidak Boleh Hanya Memikirkan Satu Golongan Saja
Pemimpin Mesti Memberi Harapan
Karena Pemimpin Mempertontonkan Kekerasan!
Advokat Wajib Mengedepankan Pembelaan Dengan Cara-cara Profesional
Gereja Sering Gagal Bangun Regenerasi Kepemimpinannya
Jangan PolitisirHKBP
Usulan Saya Tidak Digubris Bupati
Pemerintah Tidak Tegas Memberantas Korupsi
HKBP:Tobat Atau Tamat
Eksploitasi Buruh, Merusak Industri
jQuery Slider

Comments

Arsip :2014201320122011201020092008
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
kekecewaan-hidup.jpg
Follow Twitter bigmansiraitCHARLIE yang dikasihi Tuhan, memahami hidup ini secara utuh bukan hal yang mudah, apalagi untuk mengerti secara tuntas apa yang ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 17.102.429 Since: 14.11.05
Online Support :