
HIDUP ini adalah hasil rangkaian tangan Tuhan, dan dibentuk untuk men-jadi seperti yang dikehendaki-Nya. Tapi pembentukan itu sering tidak mengenakkan bagi manusia, ka-rena menghancurkan nafsu kedagi-ngan. Padahal itu bertujuan untuk kita menjadi kuat di dalam Roh-Nya, agar dapat melangkah pasti di jalan-Nya. Dan proses ini pernah menghampiri Sahala Hasibuan. Tapi belakangan dia meyakini bahwa perubahan itu terjadi sebagai miracle (mukjizat), karena me-mang tak terpikir olehnya sebe-lumnya. Dan ini menjadi pengala-man hidup pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara 7 Juni 1965 yang kini lebih dikenal sebagai Pdt. Sahala Hasibuan. Tuhan telah mengubah dirinya untuk hidup melayani-Nya.
Kisah hidup
Kehidupan di masa kecil hingga dewasa sama sekali kurang menyenangkan. Ketika dia hijrah ke Jakarta, kondisi suram itu tiada berubah menjadi lebih baik. Dunia gemer-lapan menghantarnya menikmati narkotika, minuman keras, pros-titusi, bahkan perjudian. Pernikahan yang dia jalani pada 1995 pun tak mampu meredam ulah-nya. Tiadanya si buah hati yang dirindukan, semakin membuat dirinya merasa tidak betah di rumah. Uang yang diperoleh setiap hari dia habiskan untuk memuaskan nafsu duniawi semata. Kesom-bongan, kebrutalan, pribadi yang keras, membuat Sahala semakin jauh dari Tuhan.
Tahun 2000, rumah tangga diterpa angin sehingga terancam terjadi perceraian. Sahala mera-sakan itu sebagai pukulan yang mengagetkan dan menyakitkan. Rasa takut, khawatir menyelimuti dirinya. Suara hati yang diyakininya sebagai suara Roh Kudus, mampu menghancurkan kekerasan hati dan pikirannya, tentang apa yang sudah dilakukannya selama ini. Tiba-tiba tangisan tak dapat dibendungnya. “Tuhan, saya tidak mau mati masuk neraka, tapi sorga. Saya mau bertobat, mau melayani dan men-jadi seorang pendeta”. Dorongan ini begitu kuat sehingga suami Rita Diana ini pun diubah. Dia bertobat dan dapat melayani Tuhan.
Sejak kesadaran itu datang, Sahala menyerahkan hidupnya hanya buat Tuhan. Dia dilayani seorang hamba Tuhan di gereja. Dan Sahala melewati proses pem-bentukan itu. Dia semakin tekun dan kembali mengarahkan hidup memahami kebenaran Firman Tuhan dan persekutuan. Dia mulai ikut penginjilan, belajar dari pendeta-pendeta senior.
Tahun 2001 Sahala mulai terjun langsung melayani di terminal, rumah sakit, komunitas pemulung, dan di penjara. Tekad mengikuti sekolah teologi semakin kuat. Tahun 2003 Sahala melepas pekerjaan di perusahaan angkutan. Dia memilih untuk melayani dan terus memperlengkapi diri. Dia rajin mengikuti pembinaan-pembinaan gereja seperti di GBI Damai Sejah-tera Cempaka Putih, BBC Pdt. Ir Niko Natorahadjo, dan tak sungkan melayani bersama pendeta-pen-deta senior. Tahun 2007, Hasibuan ditabiskan sebagai pendeta di Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Elshadai, Tambun, Bekasi. Sambil menjalankan tugas ini, Sahala melanjutkan studi teologia-nya di STT Betesda Harapan Indah, Bekasi.
“Bagaimana supaya Injil sampai ke ujung dunia,” itu adalah semangat pelayanan Sahala. “Saya tidak akan menghambat waktu melayani di mana saja, selama Tuhan ijinkan. Uang, perasaaan, materi, tenaga, saya akan berikan karena Kristus sudah melayani saya lebih dulu,” demikian Sahala bertekad. Sema-ngat itulah yang membuat Hasibuan tetap gigih menyampaikan Injil door to door atau di angkot. “Injil harus diperkuat baru kasih, seperti di penjara. Pelayanan pemulung, makanan selalu menjadi harapan mereka. Tapi di penjara, fisik dan roh yang dipenjarakan jadi mereka butuh Injil untuk membebaskan mereka. Sehingga saya melihat ini pelayanan yang lebih tepat untuk menolong mereka mengenal Injil,” ujar Sahala yang saat ini mem-berikan hari-harinya penuh untuk pelayanan. Aktvitasnya, melakukan kunjungan ke jemaat, penjara, bahkan sharing dengan hamba-hamba Tuhan pemula.
Menangkan jiwa
Memenangkan jiwa, adalah moto hidup Hasibuan. Ini yang mendo-rongnya melayani di seluruh kala-ngan tanpa melihat siapa mereka. Yesus yang melayani tanpa pamrih adalah teladannya. Latar belakang hidup yang gelap, menjadi panggi-lan kuat untuk melayani orang-orang dengan latar belakang demi-kian. Karena Hasibuan meyakini, Firman Tuhan bukan untuk meng-hakimi, tapi untuk menerangi hati setiap orang. “Buat apa pusing kalau kita memiliki Yesus. Yang utama adalah kita menyenangkan hati-Nya. Maka Dia akan beserta kita dan menghidupi hari-hari kita dengan pemeliharaan-Nya. Keta-kutan dan kekhawatiran jangan menguasai kita,” demikian keyakinan Sahala. Maka walaupun full untuk pelayanan, dia tidak pernah memakai uang gereja atau mengharapkan amplop ketika melayani. Sebaliknya dia belajar memberi dari apa yang dimilikinya.
Melihat keberadaan hamba-hamba Tuhan yang penuh kekura-ngan di daerah Sahala berpesan: “Marilah setiap Hamba Tuhan, jangan pernah membangun kera-jaannya sendiri. Tapi bangunlah kerajaan Tuhan. Jangan tutup mata kepada gereja atau hamba Tuhan yang miskin di daerah. Ber-kat yang ada, kita limpahkan pada orang yang membutuhkan perto-longan, khusus Hamba Tuhan yang miskin di daerah”.
Hasibuan melihat pelayanan ada-lah panggilan. Sehingga kesetiaan berpegang pada komitmen, serta menyadari kesalahan dan kembali melakukan kebenaran, adalah kekuatan untuk tetap melakukan pelayanan dengan konsisten. “Istri adalah penyemangat dan peno-long bagi hidupku. Walaupun dia tidak sempurna, tapi dia luar biasa bagi hidupku”. Inilah kejujuran Hasibuan di balik kesempatan mengalami perubahan untuk dapat melayani Tuhan saat ini.
Lidya