Michael Christian, S.Psi., M.A. Counseling
Pak Konselor yang saya hormati, saya adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal bersama ketiga anak kami. Anak pertama dan ketiga perempuan (usia 20 dan 12), dan yang kedua laki-laki (16). Suami saya tinggal di luar negeri bertahun-tahun, untuk mencari nafkah bagi kami sekeluarga. Terus terang saya adalah orang yang kurang berpendidikan, saya tidak bisa mendidik anak dengan baik, sehingga anak-anak saya tidak berhasil dalam dunia pendidikan, dan juga dalam pergaulan sosial. Saya menduga suami saya sudah memiliki istri di negeri lain, tapi sampai hari ini masih mengirimkan nafkah. Saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal ini, saya pasrah saja, namun saya kebingungan bagaimana supaya anak saya bisa bertumbuh dengan baik. Terima kasih.
KD
Semarang
Ibu KD yang terhormat, memiliki anak yang bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik, pasti merupakan dambaan dan harapan semua ibu yang telah melahirkan dan mengasihi mereka. Hanya saja persoalannya memang tidak mudah membesarkan mereka persis seperti yang kita harapkan. Apalagi kalau sekarang ini kondisi kita merupakan orang tua tunggal, tanpa didampingi suami selama bertahun-tahun. Ada orang yang begitu depresi, sedih, atau khawatir dengan kondisi ini, tapi ada juga yang sebetulnya telah begitu terbiasa menjalani hari-hari tanpa kehadiran suami, sehingga dalam keseharian, mereka banyak berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anak mereka, dan tidak lagi merasakan perasaan yang tidak nyaman atau kehilangan.
Heran sekali, dalam area-area tertentu dalam pernikahan, khususnya mengenai situasi dan kondisi yang unik dalam pernikahan seperti lokasi mencari nafkah yang berbeda antara suami dan istri, tempat tinggal yang terpisah, dan hubungan yang jauh untuk membangun keintiman, entah kenapa hal tersebut cenderung mendorong kita untuk memfokuskan pandangan lebih kepada anak-anak kita daripada ke pernikahan itu sendiri atau hubungan kita dengan suami. Di satu sisi hal ini dapat dimengerti karena kita dalam kondisi yang inevitable (tidak terhindarkan) sehingga menghasilkan pola berkeluarga yang berbeda dari sebelumnya, tapi di sisi lain, kita juga secara tidak sadar bisa mematikan (kehilangan) perasaan kita terhadap suami yang notabene merupakan pasangan yang Tuhan telah berikan dalam kehidupan kita.
Kita menjadi lebih fokus dalam membesarkan anak tanpa kehadiran suami, dan berusaha tutup mata selama nafkah dicukupi, padahal ada sesuatu yang harus kita waspadai dalam pernikahan kita sendiri yang kita tahu akan memberikan dampak kepada anak-anak kita di kemudian hari.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Pertama, kita harus memahami kondisi pernikahan kita sendiri, apa yang terjadi dengan diri kita, apa yang terjadi dengan suami sehingga kita berada dalam kondisi seperti ini, coba untuk kembali berkomunikasi dengan suami, membicarakan mengenai pernikahan ini dan juga anak-anak, mungkin ada berbagai macam.
Kedua, menceritakan kondisi yang dialami dalam keluarga bahwa anak-anak yang sedang dalam fase remaja ini membutuhkan ayah mereka untuk mendampingi bukan saja mencukupi kebutuhan secara materi, tetapi lebih kepada kehadiran ayah mereka. Kemung-kinan besar ketidakberhasilan anak-anak juga merupakan dampak yang kurang sehat dari ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan mereka, sehingga mereka kehi-langan rasa kepercayaan diri mereka di dalam pendidikan, dan pergaulan sosial mereka.
Ketiga, jika memang kondisi pertama dan kedua tidak memungkinkan, maka kita juga harus menyediakan support-system bagi anak-anak kita, misalnya guru-guru di sekolah, teman-teman dekat, atau keluarga/saudara yang bisa memberikan kita insights/masukan untuk bisa mendidik dengan baik, memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak kita bukan hanya materi tetapi juga emosi. Ada baiknya kita mendatangi konselor keluarga, dan bekerja sama mencari solusi yang terbaik bagi kondisi keluarga kita.