Jonathan Edwards, Teolog
ALAM semesta adalah lukisan agung yang mahabesar nan indah sepanjang sejarah. Dari alam orang dapat mem-peroleh banyak hal. Tak sekadar berupa materi yang dapat memuaskan diri secara fisik, lebih dari itu, alam juga menyediakan beragam makna yang dapat memuaskan jiwa dan mengha-dirkan ide-ide dengan beragam kompleksitasnya. Menariknya lagi, dari alam orang juga dapat memahami betapa hebatnya Sang Pencipta yang telah melukiskannya dan menghadirkannya secara nyata. Tak heran jika kemudian banyak orang mencoba menilik, mengamati, juga menyelidiki secara mendalam luas dan da-lamnya makna dari alam semesta. Satu di antaranya tersebutlah nama Jonathan Ed-wards, seorang teolog, dan misionaris untuk penduduk asli Amerika.
Sebagai seorang pengagum alam semes-ta, Jonathan Edwards menemukan beragam makna yang luar biasa dari alam semesta. Tak heran jika pria yang lahir pada 5 Oktober 1703 ini begitu mengagumi penemuan-penemuan Isaac Newton dan ilmuwan-ilmuwan lain pada masanya. Bahkan sebelum Edwards me-mutuskan untuk mem-baktikan diri dalam pelayanan secara penuh, ia pun sempat menghasilkan karya tulis tentang beragam topik filsafat alam, di antaranya adalah “laba-laba terbang”, cahaya, dan benda-benda optik lainya.
Ketertarikannya pada alam semesta tak terlepas dari studinya di Yale College, termasuk keter-tarikannya mempelajari tulisan John Locke “Essay Concerning Human Understanding” yang kemudian sangat memengaruhi-nya. Selama kuliah, di Yale College, pria muda yang nantinya akan menjadi pendeta kolonial American Congregational (Jemaat Amerika) ini, juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan produktif, khususnya keterlibatannya dalam diskursus keilmuan. Hal ini terlihat jelas dari keseriusannya meng-gumulkan tentang sesuatu yang kemudian dikumpulkannya dalam catatan penting yang diberi nama “The Mind”, “Natural Science” (berisi sebuah diskusi mengenai teori atom), “The Scriptures”, dan “Miscellanies” yang berisi rencana besar untuk sebuah karya dalam bidang filosofi alam dan jiwa, termasuk merumuskan teori dan aturannya sendiri dalam rencananya tersebut.
Klimaks dari diskursus kelimuan Edwards adalah saat dia terlibat tentang dualisme antara materi dan iman. Sebab bagi seorang ilmuwan dan filsuf seperti Edwards, memilih di antara keduanya bukanlah persoalan mudah. Dan ketertarikan atas keduanya pun tentu tak terlepas dari alasan yang kuat. Singkatnya, dalam beberapa hal Edwards lebih memilih iman. Hal ini tak terlepas dari pengamatannya terhadap alam yang kemudian mengha-dirkan pencerahan padanya hingga menyimpulkan bahwa hukum alam yang Tuhan berikan lebih menunjukkan hikmat dan kepedulian. Meskipun demikian, Edwards tak melihat adanya jurang konflik yang terlalu dalam antara persoalan rohani dan materi – sebab keduanya memiliki keterkaitan tersendiri.
Tak hanya itu, penemuan Edwards atas pencariannya tentang kebesaran Tuhan dari fenomena alam yang diamatinya juga menghasilkan tulisan khotbah-khotbah dan traktat-traktat (artikel-artikel) teologia penting yang menekankan kemuliaan Allah dan peranan estetika dalam kehidupan rohani.
Kerinduan Edwards atas dunia pelayanan secara penuh mengan-tarkannya kembali pada dunia pendidikan untuk mempelajari
teologi di New Haven. Pendidikan tersebut dijalaninya dengan penuh kesabaran dan disiplin. Dan seperti biasa, Edwards juga terus menggali dan terlibat dalam dunia baru yang sebenarnya tidak asing baginya. Edwards ditahbiskan sebagai seorang pendeta pada 15 Februari 1727 di Northampton, kota dan tempat di mana ia melayani jemaat dengan menjadi asisten kakeknya, Solomon Stoddard. ? Slawi/dbs