User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Dari Redaksi

01 October 2009

Toleransi Sedang Diuji

cover 116 copy.png
Syalom. Saudara tercinta, kita bangsa Indonesia baru   saja melalui suasana bulan puasa dan Lebaran yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh sau-dara kita umat muslim. Satu bulan penuh mereka berjuang menahan hawa nafsu sampai akhirnya tiba di hari yang fitri, di mana mereka yang telah melaksanakan ibadah itu secara sempurna, telah lahir baru. Selayaknya pulalah kita turut mera-yakan suka cita dan kebahagiaan itu, sebagai umat yang hidup di tengah bangsa yang pluralis.
Hidup dalam alam toleransi memang sudah menjadi tuntutan bagi kita yang beraneka latar belakang agama, suku, dan ras. Apalagi hal itu telah tersurat dalam dasar negara Pancasila dan dasar konstitusional Undang Undang Dasar 1945. Itu pula keinginan dan cita-cita para pahlawan, pejuang, pendiri republik (founding fathers) yang rela mengorbankan jiwa raga, dan mau saling bertenggang rasa sehingga tercapailah Negara Kesa-tuan Republik Indonesia (NKRI) yang pluralis ini.

Saudara terkasih, tidak bisa dipungkiri bahwa ada saja segelintir orang yang sulit menerima takdir bangsa dan negara ini sebagai hunian insan beragam asal-usul dan keyakinan. Tentu masih segar dalam ingatan kita peristiwa meng-harukan di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan, Solo, Jawa Te-ngah, Jumat 28 Agustus 2009 lalu. Hari itu merupakan “perjamuan terakhir” bagi saudara muslim kita yang biasa menunaikan acara berbuka puasa di gereja tersebut selama bulan puasa.

Acara berbuka puasa  sudah dilaksakanan di dalam gereja itu sejak 13 tahun silam. Sebagai wujud kepedulian kepada lingku-ngan, khususnya bagi warga yang penghasilannya minim, pihak ge-reja menyediakan makanan murah namun bergizi untuk dijual kepada warga setempat yang hendak ber-buka puasa. Nasi itu dijual dengan harga yang sangat murah, Rp 500. Ratusan paket nasi murah itu biasanya ludes. Dengan pertimba-ngan agar yang menyantap hida-ngan itu merasa lebih nyaman dan sejuk, tidak terkena polusi udara dan suara, acara berbuka dilaksana-kan saja di dalam gereja. Dan sekali lagi, acara ini sudah berlangsung selama 13 tahun, dan disambut antusias.

Namun, seperti telah dikatakan di atas, pada Jumat 28 Agustus 2009 lalu, acara berbuka puasa yang sarat nilai-nilai toleransi itu menjadi yang terakhir. Aparat kea-manan setempat, yang mestinya turut mendukung, justru memerin-tahkan pihak gereja agar meng-hentikan acara tersebut untuk selamanya. Alasannya, ada pihak yang tidak setuju dengan acara tersebut, dan minta agar acara itu dihentikan untuk selamanya. Demi kedamaian, pihak gereja memilih patuh, dan menghentikan acara tersebut untuk selamanya.
Keputusan yang sangat pahit itu tentu membuat kecewa banyak warga, khususnya yang biasa membeli nasi murah itu untuk ber-buka puasa. Bisa ditebak, alasan pihak-pihak yang melarang acara itu tentu tidak jauh dari adanya rasa takut terjadi pemurtadan. Tentu saja ini alasan yang sangat tidak masuk akal dan sangat berlebihan, sebab selama 13 tahun toh belum pernah ada masyarakat setempat yang meninggalkan keyakinan lamanya hanya gara-gara makan nasi murah. Dan lagi pula gereja sangat jauh dari tujuan-tujuan semacam itu. Gereja hanya ingin membantu saudara-saudaranya se-sama warga yang kekurangan agar bisa melaksanakan kewajiban aga-manya dengan khusuk.  

Namun itulah situasi yang sering terjadi di negara ini. Niat baik umat Tuhan untuk membantu sesama lewat berbagai kegiatan positif, semisal pengobatan gratis, bagi-bagi sembako, jual nasi murah bagi warga yang sedang menjalankan ibadah agamanya, malah dituding sebagai upaya kristenisasi. Rasa ketakutan yang berlebihan memang sering membuat orang tidak rasional, curiga berlebihan, akhirnya hal-hal yang baik pun dilihat sangat buruk.
Akhirnya, kepada gereja, agar tidak pernah berhenti berbuat kebajikan, sekalipun ada yang tidak suka. Kebenaran memang mahal!v

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.587 Hit: 1.857.332 Since: 14.11.05 | 0.9214 sec | TOP
Online Support :