Es campur merupakan salah satu makanan yang terdiri dari macam jenis bahan makanan yang dicam-pur sedemikian rupa sesuai dengan suatu resep dan menghasilkan suatu makanan yang sangat enak. Sama halnya dengan informasi. Kumpulan informasi dapat dikom-binasikan sedemikian rupa dan menghasilkan sebuah pengeta-huan (knowledge), pemahaman (understanding), dan hikmat (wisdom).
Kita hidup di jaman atau era infor-masi. Apa maksudnya? Kita dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah. Apalagi dengan adanya internet dan kecanggihan teknologi informasi, kita dapat mengunggah dan mengunduh data dengan sangat mudah. Saya sempat terkejut ketika saya baru mengetahui bahwa saya dapat memperoleh peta citra satelit untuk mencari sebuat alamat. Teman saya dengan entengnya mengatakan kepada saya bahwa kalau ingin mencari alamat, guna-kan saja google map atau search map lainnya. Selain itu, melalui internet kita dapat belajar banyak hal. Kita dapat mengunduh reka-man kuliah, seminar, temu wicara, baik dalam bentuk audio maupun video secara cuma-cuma. Sungguh luar biasa.
Selain keuntungan yang dapat diperoleh melalui kelimpahan infor-masi ini, terdapat dampak negatif pula. Menerima terlalu banyak infor-masi tanpa ditelaah justru malah berakhir dengan kebingungan dan disintegrasi. Dengan kata lain, tahu banyak namun tidak mengerti apa-apa. Banyak orang mungkin dapat memperoleh banyak informasi, namun kemampuan untuk mengo-lah informasi-informasi perlu dilatih.
Pengetahuan, Pengertian, dan Hikmat
Salah satu serial televisi kesukaan saya adalah CSI, kependekan dari Crime Scene Investigation. Suatu hal yang menarik dalam serial ini adalah bagaimana penyidik me-ngumpulkan fakta-fakta yang me-reka temukan di tempat kejadian perkara (TKP), keterangan para saksi, dan informasi-informasi lainnya, dan setelah itu mereka integrasikan dan akhirnya menun-tun mereka kepada motif dan pelaku dari suatu kejahatan.
Jika dalam proses produksi, segala input produksi, seperti bahan baku, diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya menjadi suatu produk. Begitu pula informasi, perlu dikelola sedemikian rupa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Apakah itu? Pertama, pengetahuan (knowledge). Kedua, pengertian (understanding). Ketiga, hikmat (wisdom).
Dari salah satu kamus elektronik, saya menemukan arti atau definisi yang menarik dari ketiga hal terse-but. Pengetahuan adalah fakta-fakta yang terstruktur yang didapat melalui studi dan pengalaman-pe-ngalaman. Selain itu, pengetahuan juga diartikan sebagai kumpulan ide yang merupakan hasil dari penarikan kesimpulan dari fakta-fakta atau informasi-informasi. Sebagai contoh, suatu riset pada bursa saham di Jakarta menyimpulkan bahwa harga saham naik ketika nilai tukar rupiah menguat.
Pengertian (understanding) me-ngacu kepada suatu judgment (ke-mampuan untuk menarik kesim-pulan) atas situasi yang dihadapi. Misalnya, seorang manajer mengha-dapi masalah penurunan moril dari para anak buahnya. Lalu, dia meng-olah semua pengetahuan yang pernah dia dapat melalui bangku sekolah maupun pengalaman-pengalamannya untuk memahami masalah yang dihadapi.
Hikmat (wisdom) mengacu ke-pada suatu tindakan atau keputu-san yang merupakan tindak lanjut dari pengetahuan yang dimiliki dan judgment yang baik. Jadi, hikmat lahir dari sebuah judgment yang baik. Dan judgment yang baik lahir dari pengetahuan yang benar.
Pengelolaan Informasi
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengelola informasi menjadi sebuah pengetahuan, se-lanjutnya pengetahuan digunakan untuk membuat judgment yang baik, dan akhirnya melahirkan tindakan atau keputusan yang bijak. Hal ini tidaklah mudah dan butuh latihan. Jika proses ini men-jadi suatu gaya hidup kita, maka kita akan menjadi orang yang bijaksana.
Pengetahuan merupakan struk-tur dari kumpulan fakta dan infor-masi. Untuk menyusun struktur tersebut, seseorang harus melaku-kan studi. Apa yang dilakukan dalam studi? Studi dapat dilakukan melalui mendengarkan, observasi (pengamatan), dan mengalami. Ketiga hal ini yang sering dikenal dengan learning by hearing, learning by seeing, dan learning by doing.
Selanjutnya, pengetahuan da-pat menghasilkan sebuah judgment. Bagaimana caranya? Judgment dibuat ketika berada dalam suatu situasi atau kasus. Jadi, melalui kasus atau masalah, sese-orang dapat mengolah pengeta-huan-pengetahuan yang dimilikinya untuk mengambil kesimpulan. Banyak orang takut dengan masa-lah dan begitu takutnya sedapat mungkin menghindarinya. Padahal, di dalam masalah, kita dapat belajar untuk membuat judgment yang baik. Ingat tanpa judgment yang baik, seseorang tidak akan mung-kin menjadi orang yang bijak. Orang yang takut terhadap masalah, tidak terlatih dengan baik untuk membuat judgment yang baik. Sikap menghindari masalah adalah sikap yang keliru dan merupakan usaha untuk bunuh diri mengingat dunia ini selalu dirudung dengan masalah-masalah.
Selanjutnya, berdasarkan judgment yang dibuat, seseorang harus mengambil tindakan atau keputusan. Hal ini merupakan tingkatan yang paling tinggi dalam pengelolaan informasi. Pertanyaan kunci dalam proses mengubah judgment menjadi sebuah hikmat adalah “bagaimana kesimpulan ini diterapkan dalam kon-teks saya?” atau “Apa yang harus saya lakukan dalam hal ini?” Perta-nyaan-pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab tanpa memahami situasi atau masalah yang sedang dihadapi. Sebagai contoh, seorang manajer memahami bahwa penurunan moril dari para karya-wannya disebabkan oleh ketidak-jelasan visi yang dimiliki. Pertanyaan berikutnya yang perlu manajer tanyakan dalam dirinya adalah: “Bagaimana saya dapat menolong karyawan-karyawan saya ini?”
Jika pengelolaan informasi sudah sampai tingkat hikmat, maka kita akan mengalami suatu kehidupan yang penuh arti, bukan kehidupan yang hampa. Pada krisis keuangan dalam beberapa tahun berakhir ini, sempat mencuat berita mengenai orang-orang yang melakukan bunuh diri. Beberapa di antara mereka adalah investor dan pialang saham. Saya yakin mereka mempunyai banyak pengetahuan dalam finansial, namun mereka gagal membuat judgement yang baik, sehingga menuntun mereka pada hikmat yang keliru.
Marilah kita belajar untuk mem-buat keputusan yang bijak ber-dasarkan judgment yang baik, dimulai dengan mengisi hidup kita dengan pengeta-huan-pengetahuan yang benar.v
Penulis: Dosen UPH Business School jurusan Manajemen