| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Kawula Muda
01 October 2009 Kota seni Rekreasi dan Apresiasi
NONGKRONG, sering diterjemahkan sebagai duduk santai buang waktu tanpa arti. Namun anggapan ini terbalik untuk kumpulan anak-anak muda yang kerap nongkrong di Taman Suropati, Jakarta. Coba ikuti apa yang mereka lakukan setiap hari Minggu dari pukul 13.00 hingga malam hari? Ada beberapa divisi yang tersebar di ujung taman, mu-lai dari divisi gesek: biola, viola, celo. Gitar: akustik nelon. Tiup: saxophone, fluit, trombon, kralinet. Teater. Sastra: puisi, Inggris/Je-pang. Seni rupa; sketsa: lukis.
Pa-tung, aksesoris, ukir. Perfilman. Fotografi, dan tari-tarian tradisional. Mereka terdiri atas anak-anak jalanan, siswa, mahasiwa, bahkan juga pengusaha dan pengacara. Semua duduk menjadi satu layak-nya keluarga. Tidak ada batasan umur dan agama. Suasana damai itu terpancar dari rasa kekeluargaan yang tercipta di antara mereka. Mereka menjadikan Taman Suro-pati menjadi taman yang ber-nyawa, memberi kedamaian hati dan kesatuan untuk mengekspresi-kan rasa seni yang kaya akan nilai.
Komunitas Taman Seni Indonesia, disingkat “Kotaseni” adalah nama yang mereka sepakati bagi komunitas mereka, mulai dipakai sejak 27 Februari 2009. Tujuan komunitas ini adalah  membina anak-anak jalanan, dan menghidupkan taman-taman di Indonesia. Jumlah siswa, mahasiswa, hingga peng-usaha dan pengacara semakin hari semakin bertambah yang berga-bung dengan Kotaseni. Kemam-puan seni mereka diasah setiap minggu. Namun dikenakan biaya sebesar Rp 200 ribu untuk pendaf-taran awal dan belajar perbulan. Iuran kolektif ini dipakai untuk ke-butuhan internal mereka. Tapi yang didapat adalah sesuatu yang sangat berarti. Selain dibina men-jadi seniman profesional, di sini me-reka menemukan suasana keke-luargaan, bahkan kesempatan ber-kreasi dan berapresiasi. Dan semua ini berawal dari “nongkrong” di Taman Suropati ini. Ikatan emosi sebagai sesama seniman sangat terasa jika duduk bersama mereka. Keunikan komunitas ini patut dicontoh dan didukung, sebagai kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia. Walaupun demikian masih saja ada kesulitan perijinan bagi mereka. Wayang Beber merupakan kebudayaan yang sudah punah, namun kembali diangkat oleh Kotaseni dengan iringan orkestra. Polesan seni modern ini menjadi-kan budaya lama tetap baru dan dapat diminati kalangan anak muda. Inilah prestasi dan fokus Kotaseni saat ini. Selain sempat menampil-kannya pada Jambore Art di Pasar Seni Ancol Agustus lalu, Kotaseni mendapat kesempatan pada 15 Desember mendatang di Goethe Institute, Pusat Kebudayaan Jerman. Batara, ketua Kotaseni meng-akui perubahan dan perkemba-ngan anak-anak jalanan yang dibi-na. “Sudah saatnya mereka dapat melihat dunia luar,” katanya. Meli-hat orkestra taman yang mereka tampilkan, Kotaseni mestinya men-dapat pengakuan. Pertunjukan mereka sudah seharusnya dapat ditampilkan di luar negeri, seperti Singapura bahkan Eropa. Keunikan yang dapat dilihat oleh para pengamen hasil didikan Kota-seni, mereka memakai biola dan menyanyikan lagu-lagu klasik. Mereka akan menghindari kekera-san dan paksaan. Tak  heran jika di taman ada pedagang yang me-nunggu pembeli, dengan mem-buka partiture lagu dan memainkan biola. Atau Berbaurnya anak jala-nan bersama pengusaha dan peng-acara. Orang tua semakin tenang, karena anak-anaknya dapat meng-habiskan waktu, bukan lagi di mal atau tempat-tempat berbahaya, sebaliknya ke Taman Suropati untuk berlatih seni dan sharing me-ningkatkan kemampuan. Kotaseni menjadikan Taman Suropati seba-gai pusat seni. Jika ada yang tidak senang musik klasik, melalui Kota-seni musik klasik diperkenalkan. Sehingga para murid semakin mengenal not balok dengan baik, dan bisa bermusik. Joe Gomay, sekjen Kotaseni mem-beri seruan bagi anak muda: “Jika ingin berkreasi dan ber-apresiasi, silahkan ke Taman Suropati. Dapat bergabung bersama Kotaseni. Kita akan menghi-dupkan pusat seni. Menikmati rasa keke-luargaan, sebagai keluarga besar Kotaseni”. Dia juga mengharapkan agar pemerintah dapat kembali mengang-kat kesenian-kesenian yang ada. Memodernkan kesenian-kesenian yang belum diterima orang muda. Con-tohnya Wayang Beber yang dikemas modern supaya bisa diterima anak-anak muda.Lidya
Others
- Kini Anak Muda Gemar Pakai Batik
- ASAF Nongkrong di Pinggir Jalan
- Tawuran Merosotnya Masa Depan Bangsa
- Hubungan Tanpa Status, Trend Anak Muda Masa Kini
- Shisha Lebih Berbahaya Dari Rokok
- Youtube, Bagi Yang Ingin Ngetop di Dunia Maya
- Taman Suropati, Membangun Komunitas dan Kreatifitas
- Capoera, Bela diri Untuk Santai
- Biliar, Ajang Prestasi dan Sumber Uang
- Distro, Antara Gaya dan Kemandirian Anak muda
- Bullying Fenomena Negatif yang Merebak Luas
- Helm Tengkorak, Ala “Ghost Raider”
- Blackberry Kini jadi Livestyle
- Aeromodeling, Hoby Asik tapi Mahal
- Facebook, dari sekadar iseng sampai media kampanye
- Saatnya anak muda jadi pelopor lingkungan
- Low Rider, Sepeda Tua Yang Kembali diminati
- Bikin Virus, Naikin gengsi?
- Bikin Virus, Naikin gengsi?
|
|