
TADINYA Ayu bercita-cita untuk menjadi biarawati, karena ingin berbuat sesuatu untuk menolong orang lain. Namun wajangan sang ayah dan ibunda, Petrus de Alkantara dan Christina Winanti, bahwa “un-tuk bisa menolong orang lain tidak harus menjadi biarawati”, membuat dia mengubah cita-cita. Setelah merenungkan dalam-dalam petuah kedua orang tuanya itu, akhirnya wanita bernama lengkap Maria Veronika Ayu Florensa ini pun ingin menjadi perawat, yang baginya merupakan profesi yang tidak kalah mulia dibanding biarawati.
Usai menamatkan SMA-nya, Ayu yang lahir di Lubuklinggau, Suma-tera Selatan, 5 Maret 1988 ini mendaftar ke Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Sint Carolus Jakarta. Berkat ketekunannya, Ayu terpilih sebagai mahasiswa terbaik I angkatan 2006. Bahkan untuk periode 2007-2009, Ayu terpilih menjadi ketua Himpunan Maha-siswa Sarjana Keperawatan STIK Sint Carolus Jakarta.
Kerinduan untuk membahagia-kan orang tuanya, memacu Ayu untuk dapat terus meraih prestasi. Dan pada 2009 ini, Ayu terpilih sebagai wakil Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DKI Jakarta, untuk studi banding ke Sydney, Australia. Terpilihnya Ayu adalah karena karya ilmiahnya yang ber-tema: “Pengaruh Internet untuk Mahasiswa, Berbasis Identitas Bangsa untuk Globalisasi (Influence Internet for Student According in the Nation Identity).
Selain itu, Ayu juga mampu melewati seleksi di antara maha-siswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di Tanah Air. Setelah ter-pilih, Ayu mematangkan kemam-puannya berbahasa Inggris. Dia juga memperhatikan kondisi kese-hatan. Sesaat sebelum berangkat ke Negara Kanguru itu, Ayu masih sempat mengungkapkan suka citanya, terutama kesempatan un-tuk mengunjungi beberapa pergu-ruan tinggi di Australia lewat studi banding tersebut.
Ditanya tentang strateginya dalam meraih prestasi, Ayu mengemukakan kalau dirinya terus-terusan belajar, bukan saat dibutuhkan saja. Selain itu dia juga telaten menjaga kesehatan fisik. Di atas semua itu, dia selalu berdoa minta bimbingan dan penyertaan Tuhan.
Dan dengan prestasi yang dia peroleh, kerinduannya untuk da-pat membahagiakan orang tua pun terpenuhi. Dia ingin lulus dengan nilai terbaik, serta mendapat pe-kerjaan. Baginya itu adalah kebahagiaan. Dia tidak peduli sekalipun nanti menjadi perawat di puskesmas atau di desa yang fasilitas kesehatannya minim.
Aktifitas
Mahasiswa semester VII ini lebih banyak berada di kampus. Biasanya dia pulang pada sore atau malam, karena dia mengikuti les tambahan bahasa Inggris. Tiba di rumah, dia bukannya berisantai-santai namun kembali belajar menyelesaikan setiap tugas-tugas yang diberikan dosen. Pagi harinya, dia selalu menyempat-kan diri membaca ulang bahan pela-jaran sambil mempersiapkan materi pelajaran hari ini. Kini, Ayu sedang mempersiapkan proposal skripsi agar semester 8 perkuliahannya bisa selesai.
Selain aktif sebagai mahasiswa, Ayu juga menjadi pemimpin choir di Gereja Paroki Hati Kudus, Kramat. Kehidupan di tampat kos yang tidak sepi dari gosip, menyulitkan dirinya untuk dapat beradaptasi dengan lebih baik. Nyanyi dan membaca ada-lah hobi yang sangat menyenangkan bagi pemilik moto: Selalu Berusaha, Tuhan Pasti Mendampingi ini.
Mengamati perkembangan anak muda saat ini, Ayu berpesan: “Di era globalisasi ini banyak hal yang bisa masuk dengan mudah ke dalam kehidupan. Maka saringlah semua yang masuk itu dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang kita yakini. Lakukan semua yang kita punya untuk kemuliaan Tuhan”.
Sebagai seorang mahasiswi keperawatan, Ayu tidak ragu untuk mengkritisi kondisi profesi perawat selama ini. Menurutnya, “Perawat bukan pembantu dok-ter. Tetapi profesi perawat sejajar dengan profesi lainnya”. Jika ada banyak perawat yang terlihat judes dan tidak care pada pasien, menurutnya hal itu karena tugas yang banyak serta gaji yang minim. Dia menam-bahkan, seorang pera-wat harus memiliki lisence, nilai dan profesional, care secara optimal pada pasien.
Akhirnya, de-ngan senyum yang manis, Ayu meng-akhiri bincang-bin-cangnya dengan kali-mat, “Tuhan setia. Dia selalu punya cara untuk mengingatkan anak-anak-Nya. Dari selentingan lagu, orang yang tidak aku kenal. Tuhan selalu punya cara, maka isilah hidup ini dengan sebaik mungkin untuk Tuhan”. Lidya