CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Opini

Heboh Aliran Sesat Baru di Manado

Thursday, 01 Oktober 2009 | View : 4771
Setelah dihebohkan dengan hadirnya “Gereja Setan”, kini bumi Nyiur Melambai diramaikan isu praktek sesat dengan kekerasan dalam ibadah. Apa motif kekerasan itu?
MENGENAKAN baju berwarna biru, sambil memegang mike, seorang pendeta mendekati jemaatnya yang semuanya duduk di lantai, lalu menampar pipi beberapa di antaranya. Yang ditampar, bukan hanya pria tapi juga wanita. Yang ditempeleng, menerimanya tanpa perlawanan. Mereka hanya menunduk tanpa berani memandang wajah pemimpin mereka. Pertun-jukan kekerasan yang didoku-mentasikan oleh salah seorang mantan anggota jemaat itu disiarkan  beberapa televisi nasional pada Kamis, 10 September 2009 silam.
Rekaman dalam video itu merupakan salah satu bukti adanya pengajaran dan praktek sesat yang dilakukan oleh Herman Kemala, Ketua Yayasan Pengkabaran Kemuliaan Allah. Dianggap sesat, ratusan pendeta dan warga kristiani mendatangi kantor Kesatuan Bangsa Sulewesi Utara (Sulut). Selain aksi kekerasan itu, Herman diduga telah mengajarkan aliran sesat. “Doktrin menyimpang yang diajarkan pemimpin ini mengajarkan konsep mencuri dan membunuh dilegalkan,” kata Pendeta Hanny Pantouw, Pendeta Gereja Betel Indonesia, di Kantor Pemerintahan Provinsi Sulut. “Aktivitas ini sudah menimbulkan keresahan, khususnya bagi umat kristiani di Manado dan daerah lainnya yang pernah dijajaki,” kata Kepala Divisi Bidang Kristiani Departemen Agama Sulut, Siane Sumampau.
Dalam rapat tersebut, sejumlah saksi yang pernah terlibat dalam alirat sesat  tersebut juga ikut serta menyampaikan sejumlah kesaksian mengenai aktivitas ajaran sesat tersebut.

Merekrut anak muda
Mayoritas pengikut aliran yang diduga sesat ini adalah anak-anak muda. Herman merekrut  dan mendidik mereka sejak masih belia, saat pemahaman mereka tentang agama belum begitu matang.
Denny Dalope, salah seorang pengikut  Herman yang berhasil keluar dari jaringan aliran ini misalnya mengakui bila dia direkrut Herman sejak masih duduk di SMP, 15 tahun silam. “Saya diajak seorang kawan di sekolah,” katanya. Denny menuturkan  bahwa pada saat-saat awal, kebaktian di gereja ini berjalan biasa-biasa saja, seperti di gereja-gereja lainnya. Tapi lama kelamaan, tata cara peribadatan berubah. Pada tahun pertama bergabung, “Doktrin kekerasan mulai dijejali,” tambahnya.
Meski merasa ada yang salah dalam ajaran Herman, Denny dan anak muda yang lainnya tak melakukan apa-apa. Mereka seperti terhipnotis. Bahkan Denny sempat menjadi salah satu asisten spesial Herman merangkap sebagai sopir. Ke mana pun Herman pergi, Denny selalu mengikuti. “Saya lakukan itu dengan  niat baik dan tulus,” katanya.  Karena terus dijejali dengan doktrin kekerasan, akhirnya Denny keluar dari aliran ini.  

Seorang saksi lain menambahkan bahwa tujuan merekrut hanya yang muda-muda dan mahasiswa adalah agar untuk memudahkan penyebaran ajaran tersebut dan guna mencari dana untuk mendukung penyebarannya. Anak-anak muda dianggap memiliki energi yang kuat dan mudah dipengaruhi.  “Para remaja didoktrin setelah berusia 17 tahun untuk meninggalkan orang tuanya dan melegalkan pencurian dan boleh membunuh orang yang menghambat bahkan menghalangi setiap aktivitas dalam ibadah mereka,” katanya.
Sedangkan aksi pemukulan itu sudah biasa dilakukan oleh pemimpin aliran tersebut, tanpa alasan yang jelas. “Sikap itu sendiri diambil guna memberikan hukuman kepada umatnya yang diduga melakukan kesalahan,” tambahnya.  
Ayu Suryawati, mahasiswi Universitas Sam Ratulangi mengaku pernah terlibat dalam aliran ini. Bersama teman-temannya, ia ditugaskan mencari dana fiktif ratusan juta rupiah yang katanya akan digunakan untuk pem-buatan panti rehabilitasi. “Namun kenyataannya digunakan untuk pemba-ngunan gedung tempat penyebaran ajaran Herman Kemala yang sesat itu,” katanya.  Ia mengaku kerap kali menerima sanksi yang tidak sesuai dengan ajaran kristiani yakni berupa tamparan yang sangat menyakitkan.

Sesuai Alkitab
Herman Kemala membantah telah menyebarkan aliran sesat melalui yayasan yang dipimpinnya. Ia juga mengelak melakukan kekerasan terhadap jemaatnya.  Menurut dia, apa yang dilakukan kepada para jemaatnya itu merupakan bentuk pembinaannya atas jemaat sesuai pelanggaran yang mereka lakukan.
“Saya tidak melakukan tamparan tapi mengusap pipi. Itu merupakan upaya untuk pembinaan umat yang telah melanggar aturan. Saya tidak berbuat kasar atau menganiaya jemat saya. Itu merupakan ekspresi kasih sayang,” katanya sambil mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu sebenarnya alkitabiah. Sebagai konfirmasi atas pernyataannya, ia menunjuk Amsal 13: 24  “Siapa yang tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasih anaknya, menghajar dia pada waktunya.”  
Paul Makugoru/dbs

See Also

jQuery Slider

Comments

Arsip :201320122011201020092008
Mata Hati
umat-dan-pembelajaran--politik.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow bigmansiraitFinal sudah PilPres 2014, setelah tanggal 21 Agustus 2014, MK mengetok palu menolak gugatan Prabowo Hatta. Ini meneguhkan ..
Konsultasi Teologi
hak-kesulungan.jpg
Pdt.Bigman SiraitFollow     bigmansiraitKejadian 25:29-34, menceritakan tentang bagaimana Yakub meminta kepada Esau untuk menjual hak ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 17.479.679 Since: 14.11.05
Online Support :