TUHAN memiliki kedaulatan dan rencana yang tidak terselami oleh siapa pun. Keagungan kasih-Nya telah meng-hantar pria kelahiran Tanah Hitam (Sambas), 13 Desember 1963 ini untuk menjadi hamba-Nya. Dialah Pdt. Andreas Himawan, putra dari Lim Hon Lin dan Lo Khius Tjhin. Walau berlatar belakang non-Kris-ten, anugerah untuk menjadi anak Tuhan itu ditemukan Andreas me-lalui pertemuan pribadinya dengan Tuhan. Panggilan untuk menjadi hamba-Nya dirasakan sangat kuat mempengaruhi dirinya, sejak duduk di SMA kelas 2. Penelaahan Alkitab (PA) yang diikutinya, men-jadi wadah yang telah menolong-nya, untuk tetap mempertahan-kan komitmen rohaninya. Setelah lulus SMA (1984), Andreas melanjutkan studi ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, Jawa Timur.
Kiprah Pelayanan
Sejak lulus dari SAAT tahun 1989, Andreas mendapat kesempatan melayani di Ge-reja Pemberitaan Injil (GEPEM-BRI) Jakarta, dan di beberapa cabang yang ada di daerah. Andreas juga sempat melayani di GKI Bungur, dan part time mengajar di beberapa sekolah tinggi teologi (STT) di antara-nya: Amanat Agung, Refor-med, IMAN, dan STT Cipanas. Meski sibuk, Andreas dapat menyelesaikan studi lanjutan pada program S2 dan S3, di Trinity Theological College, Singapura. “Memaksa diri untuk rela, dan rela memaksa diri” itu prinsip Andreas untuk mengembangkan dirinya. Prinsip ini diadopsi dari mantan dosennya.
Pada saat dia telah mengajar banyak orang, bahkan di usia yang semakin bertambah, dirinya kem-bali diproses untuk harus menjadi murid. Tapi di situlah Andreas semakin menikmati masa-masa dilengkapi Tuhan, hingga mene-rima kepercayaan pada 2001 un-tuk melayani full time di STT Amanat Agung (STTAA), Jakarta. Delapan tahun kemudian, tepat-nya 2009, Andreas dipercaya menjadi ketua STTAA.
Berkecimpung secara total dalam bidang pelayanan, menjadi tekad suami dari Maliana ini. Maka selain mengajar di kelas-kelas reguler, menjalankan tugas administratif sebagai seorang ketua, dan bersama tim merancang program ke depan, Andreas dan tim pun harus merealisasikan banyak hal se-perti akreditasi, kerja sama dengan pihak luar, pengembangan dan penambahan dosen, dan tetap fokus mendidik mahasiswa. Seperti moto STTAA, 4S: Scriptura: Alki-tab, Scientia: Ilmu Pengeta-huan, Sanctitas: Kekudusan, Servitas: Pelayanan, ini menjadi tugas yang menguras pikiran, tenaga Andreas, yang harus dikerjakan dengan kesungguhan hati.
Dinamika pelayanan menjadi upah kebahagiaan tersendiri bagi Andreas. “Ketika melakukan tugas sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, itu adalah kebahagiaan. Tak dapat dipungkiri ketika mendapat kesempatan melihat hasil yang dikerjakan, itu juga menambah kebahagiaan tersendiri. Seperti melihat mahasiswa yang dapat mengakhiri studinya dengan baik, kemudian diterima masyarakat ketika mengabdi. Hidup benar, berhasil, dan setia melayani,” tandas ayah Alister dan Aiden ini.
Kebahagiaan menikmati, namun tetap harus peka melihat dan mengatasi kesulitan. Dari sekian kesulitan yang ada, Andreas menyadari bahwa pengembangan diri menjadi agenda penting dalam pelayanan yang harus terus dipertahankan. Spiritualitas, rasa cinta pada Tuhan, penggalian dan pemahaman Alkitab, maupun teo-logi. Walau menjadi guru, namun harus tetap menjadi murid, sehingga semangat tidak menjadi kendor. Kemudian ketika berhu-bungan dengan orang lain, bagai-mana menghadapi banyak orang dengan latar belakang yang ber-beda-beda. Sehingga membu-tuhkan model pelayanan dalam kondisi yang beragam. Ini menjadi kesulitan yang hanya dapat dihadapi dengan pertolongan Roh Kudus, serta kekuatan team work yang baik, dalam memberi daya juang bersama.
Masa-masa bersama teman-teman alumni SAAT, kesatuan team work dalam pelayanan, serta keluarga adalah kekuatan yang mendukung Andreas untuk tetap menjalankan panggilan pelayanan hingga saat ini. Semua dirasakan sebagai anugerah Tuhan. Sukacita ini memberi harapan yang dalam bagi seluruh rekan sepelayanan di Indonesia bahwa: “Kesehatian dan kesungguhan melayani ber-sama. Tidak saling menjatuhan atau melecehkan, tapi saling melengkapi. Bisa saling terbuka untuk berkomunikasi. Agar selu-ruh pelayanan menjadi berkat untuk bangsa ini,” cetus Andreas bagi seluruh rekan-rekan hamba Tuhan di Indonesia.
Melihat banyak orang Kristen dibangunkan untuk memiliki hati yang cinta Tuhan dan mencintai kebenaran, yang sungguh-sung-guh mendalami kebenaran Kristen dan mengerti harta karun kebena-ran Kristen, inilah kerinduan An-dreas yang ingin diwujudkannya. Membangun kesadaran, apa dasar orang melakukan sesuatu?
Untuk itu, maka gereja dan STT harus menjadi satu kesatuan, berhubungan akrab tidak perlu saling curiga. Silakan ktitik tapi membangun. STT harus didukung oleh gereja: finasial, tenaga, mau-pun doa. Sebaliknya STT meng-hasilkan orang-orang yang melayani di gereja dan di masyarakat pada umumnya. Gereja mendukung STT dengan mengirimkan anak-anak muda untuk sekolah di STT, men-jadi sinergi. Sehingga STT menjadi institut yang kuat, dapat menghasilkan mahasiswa berkua-litas, alumni yang berkualitas yang bisa memberkati gereja, maupun menjadi berkat untuk bangsa.
Cita-cita menciptakan atau menghasilkan alumni haste teolo-gian. Bisa menjadi gembala, Bisa berpikir, mengajar, mengkritisi, dan memiliki sumbangsi pemikiran dalam seluruh aspek: sospol, etika, kebu-dayaan dan lain-lain. Itu adalah pandangan yang terus dibangun Andreas dan tim untuk diraih dan diwujudkan.
Andreas menutup harapan-hara-pannya dengan sebuah kalimat: “Iman Kristen bukan masalah melakukan sesuatu, namun bagai-mana dasar untuk melakukan se-suatu, mencintai Tuhan dan kebenaran-Nya”.
?Lidya