| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Konsultasi Keluarga
13 October 2009 Tolong Selamatkan Pernikahan Kami!
Michael Christian, S.Psi., M.A. Counseling Bapak Konselor yang terhormat, saya seorang wanita. Nama saya H dan suami Y. Kami sudah menikah hampir 6 tahun, memiliki seorang anak berusia 3 tahun, dan tahun depan kami memiliki rencana untuk memiliki seorang anak lagi. Namun ketika kami memutuskan untuk memiliki anak lagi, malah kami merasa bahwa ada yang salah dalam hubungan ini, dan semakin banyak tuntutan dan harapan terhadap pasangan. Y pernah menduakan hatinya dua kali. Dan ketika saya amati dia melakukannya karena fisik kedua tersebut lebih menarik dari saya. Dan saya pun pernah melakukannya namun motivasi saya adalah membalas perbuatan suami. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk tetap mempertahankan hubungan ini, hanya saja hubungan ini sepertinya menjadi tidak wajar: saya tidak pernah mempercayai Y, setiap hari saya mencurigai Y sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Sebenarnya lelah juga menjalani hidup seperti itu. Perlakuan dia pun aneh, saya tidak pernah dikenalkan kepada teman-teman kantornya. Banyak acara yang ia datangi dengan teman-temannya tanpa saya. Timbulah pemikiran aneh lagi “apakah semua ini karena fisik saya lagi?” Akhirnya saya memutuskan untuk mulai menjalani program penurunan berat badan sejak tahun lalu dan sebenarnya hasilnya sudah ada, hanya saja belum signifikan. Masih banyak hal yang menurut saya tidak wajar dalam hubungan kami. Baru-baru ini Y menginginkan saya untuk menurunkan bobot badan. Dia mengemukakan alasan tsb untuk mencegah terjadinya perselingkuhan di masa yang akan datang. Dan dia merasa takut bahwa setelah saya melahirkan anak kedua, fisik saya akan lebih buruk lagi. Entah kenapa saya merasa keberatan akan keinginannya itu. Bukan karena saya enggan untuk menurunkan berat badan itu toh sampai sekarang pun saya masih dalam program penurunan berat badan, namun saya berpikir mengapa dia tidak bisa menerima saya apa adanya? Dan jika saya mengiyakan permintaan Y maka saya tidak akan pernah hidup tenang karena selalu curiga dan ketakutan. Dalam suatu percakapan, akhirnya dia menyimpulkan bahwa saya memang kurang dapat dibanggakan di antara teman-teman perempuannya. Akhirnya saya sudah tidak bisa menahan semua ini dan saya memutuskan untuk mengakhirinya. Saya bersikukuh bahwa saya tidak akan mau lagi meneruskan hubungan ini. Namun, Y mungkin masih mencintai saya dan masih menginginkan agar hubungan ini bisa diselamatkan. Tapi dia akhirnya merasa bahwa memang ada yang salah dalam hubungan kami. Sebenarnya apa yang salah dengan hubungan kami? Mohon Lifespring membantu untuk memperbaiki hubungan kami. Ibu H.
IBU H yang terhormat, dalam keadaan seperti ini, kita kadang-kadang merasakan menjadi seorang wanita itu kok sepertinya tidak adil ya dan seolah-olah harus terus-menerus mengikuti tuntutan suami, yang sebetulnya kita tahu bahwa hal itu bisa “mengecilkan” diri dan pribadi kita jika sering dilakukan. Banyak wanita yang menjadi tidak percaya diri karena penilaian-penilaian dan perlakuan dari suami, dan merasa diri buruk. Padahal di sisi lain, kita mungkin sudah berusaha segenap hati untuk menyenangkan suami, memberi dan membesarkan anak baginya, atau pun melakukan tugas rumah tangga, sehingga rasanya wajar jika penampilan kita tidak lagi semanis dan seelok dahulu. Hal ini menjadi tidak mudah lagi di saat kita menemukan bahwa suami pernah beberapa kali berpaling hati ke wanita lain, dan bahkan mengatakan kepada kita tanpa rasa bersalah bahwa kesalahan ini dikarenakan fisik kita yang tidak lagi OK di matanya. Tentu saja hal ini menimbulkan berbagai macam perasaan dan pemikiran dalam diri kita. Mungkin kita merasa marah, merasa direndahkan dan dicela, bahkan dikecewakan dan disakiti dengan sangat sehingga ada rasa dan keinginan untuk membalas, yang sebetulnya kita tahu bahwa hal itu lebih merugikan diri kita dan keluarga kita. Pengalaman ini pun menghasilkan pemikiran yang melihat suami sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya, tidak terbuka, dan selalu menyembunyikan sesuatu, dan siap untuk menyakiti diri kita kembali. Tidak heran jika kita menjadi orang yang paranoid, dan merasa tidak secure dalam rumah tangga sendiri.
Orang-orang atau pasangan yang mengalami ini sejujurnya tidak merasakan bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang harus dikerjakan dan tidak bisa dibiarkan naturally grow (bertumbuh secara natural), apalagi kalau sebetulnya kita dan pasangan adalah dua pribadi yang tidak matang dan tidak dewasa dalam menjalankan bahtera pernikahan, sehingga mungkin unsur fisik, nafsu, kesenangan semata yang hanya ingin kita lihat dan rasakan di dalam pernikahan ini, dan banyak hal yang berorientasi fana yang justru kita kerjakan, sesuatu yang lekang oleh waktu. Seperti mengubah fisik atau penampilan, merasakan sensasi dengan pasangan lain, bergaul dan bersenang-senang dengan teman-teman tanpa mengingat bahwa kita dan pasangan seharusnya sudah bergumul menjadi sepasang family-man/woman yang memiliki tanggung jawab lebih dan khusus yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Sehingga tidak mengherankan bahwa segala sesuatunya menjadi lebih buruk, dan ingin diakhiri. Dalam kondisi seperti ini akan sangat sulit untuk melihat anugerah Tuhan yang masih diberikan bagi keluarga. Dalam kasus Ibu, mungkin keinginan suami untuk memper-tahankan dan menyelamatkan pernikahan ini adalah anugerah yang Tuhan beri. Suami yang pernah dua kali mengecewakan Ibu meminta pernikahan ini diselamatan. Untuk itu tentu saja ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan.
Pertama, apakah ada kemauan untuk melihat dan menyadari serta menumbuhkan keinginan untuk memulai kembali pernikahan ini dengan pertobatan yang sejati dan kedewasaan pikiran serta mempertimbangkan segala aspek yang ada (termasuk anak di dalamnya), meski pernah dilukai, namun meminta pertolongan dari Tuhan untuk mengambil kesempatan kecil, yang mungkin lahir dari kondisi the best from the worst untuk kembali berjuang dalam pernikahan.
Kedua, tekad untuk mengubah pola-pola yang buruk yang selama ini ada dalam pernikahan. Pada umumnya, perserlingkuhan tidak muncul secara tiba-tiba tapi ada faktor pendukung di belakangnya, dan kadang-kadang hal ini bukan masalah fisik semata, tapi juga pola komunikasi dan relasi. Bagaimana respon kita terhadap suami saat kita melihat dia pulang dari perkerjaan, bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu, apakah kita juga teledor membiarkan diri kita berpenampilan seadanya setiap saat, atau memarahi, membebankan tugas kepada suami dengan dalih kita sudah merasa capek seharian, dll. Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi atmosfer dalam berumah tangga.
Ketiga, usahakanlah untuk datang kepada konselor pernikahan. Kadangkala hal-hal seperti ini membutuhkan pihak ketiga untuk menjembatani, menolong kita semakin mengerti siapa sebetulnya diri kita, mengapa kita seringkali tidak berespon dengan tepat terhadap masalah, dan bagaimana cara kita mengatasi masalah ini. Kiranya Tuhan menolong dan memberi kebijaksanaan pada Anda berdua.vð
Comments
Thsocrates, 22.11.09 15:03
Ada hukum perubahan yang berlaku universal. Seorang gadis cantik suatu saat akan menjadi nenek2tua.
Sedangkan perkawinan adalah masalah komitmen&kesetiaan. Tentu menyakitan kalau salah satu melanggarnya. |
Post your comment
Others
- Aktivis Gereja Pacaran, Bawa-bawa Anak
- Lima Tahun Menikah, Saling Diam
- Jangan Menikah! Jika Takut Ada Masalah
- Komunikasi Selalu Berakhir dengan Pertengkaran
- Nikah Baru 3 Bulan, Gairah Suami Sudah Hilang
- Suami Pemabuk dan Penjudi, Istri Menyingkir
- Mau Nikah, Pacar Tiba-tiba Stres
- Suami di Luar Negeri, Istri Bingung
- Mengapa Anak Itu Membenci Ibunya?
- Mencintai Kelemahan Istri
- Orang Tua Pisah, Anak Berantakan
- Suami Saya Tidak Percaya Diri
- Pernikahan Kedua pun Terancam Bubar
- Tolong, Saya Jatuh Cinta Lagi!
- Mencintai Suami-Istri Tanpa Syarat
- Ayah Kasar, Ibu pun Terpuruk
- Suami 'Misterius',Cinta Istri Mulai Hilang
- Tinggalkan Selingkuhan, Suami Kembali ke Istri
- Menyesal Nikahi Duda
|
|