CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Gereja & Masyarakat

Yayasaan Kasih Ayah Bunda--Panti Jompo untuk Semua Golongan

Friday, 22 Agustus 2008 | View : 7086

Siang itu, Minggu, 24 Agustus 2008, tepat pukul 12.30 tampak enam mobil mewah berarak masuk pekarangan Panti Wredha Kasih Ayah Bunda yang berlokasi di Jl. Ternate Raya Ujung Perumnas III Karawaci, Tangerang. Dari dalam mobil Kijang Innova hitam seorang wanita tua berambut pirang dipapah seorang bapak-bapak setengah umur. Gerak langkahnya pelan menuju ruang tengah Panti Wredha.

 

Bila dipandang dari guratan wajahnya bisa dipastikan kalau usia wanita tua itu sudah  mendekati satu abad. Walau begitu, posisi kepalanya tetap  tegak dengan pandangan mata terfokus ke depan. Sesaat kemudian sesungging senyumnya tercuat setelah berada di tengah belasan insan yang berusia sama lanjut. Adakah Oma Fony Lusiana, nama perempuan itu, tengah melepas kerinduan mengunjungi sesama satu garis generasinya?

Jawabannya benar. Jauh-jauh hari Oma Fony sudah mengingatkan anaknya agar ulang tahunnya yang ke-a87 tepat tanggl 24 Agustus tahun ini dirayakan di panti jompo. Itulah sebabnya keluarga besar Oma pada hari itu berbondong-bodong menuju Panti Wredha Kasih Ayah Bunda itu.

Kurang lebih 30 menit kemudian sebuah lilin yang ditancapkan di tengah sebuah kue tar mulai dinyalakan. Kue itu telah dipersiapkan dari rumah. Setelah mendaraskan doa syukur atas kasih Tuhan dalam diri dan hidup Oma Fony, lagu Happy Birth Day pun dikumandangkan oleh seluruh yang hadir di dalam ruangan berukuran  15 x 20 meter itu.

Satu demi satu, oma opa, penghuni panti, yang mengitari Oma Fony meneteskan air mata haru karena mengalami kebersamaan yang tak terhingga nilainya siang itu. Lilin ulang tahun lalu ditiup Oma Fony seturut komando pembawa acara. Di titik inilah mereka berpelukan tanpa terdengar sepatah kata ucapan “selamat ulang tahun”, selain dari keluarga Oma Fony dan para pengasuh Panti Wredha.

Mulut memang mungkin sudah tak sanggup lagi untuk berkata, tapi satu hal yang pasti bahwa suasana haru nan bahagia seakan telah menjadi milik mereka saat itu. “Saya senang sekali bisa bertemu dan merayakan ulang tahunku bersama oma opa yang ada di sini,” kata Oma Fony pelan dan halus dengan mulut terus bergetar. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan makan makanan yang dibawakan keluarga Oma yang berulang tahun itu.

“Saya juga tidak mengerti mengapa Ibu menghendaki ulang tahunnya dirayakan di panti jompo ini,” kata Elisa Moctar, anak pertama Oma  Fony.  Padahal, demikian Elisa, Ibu masih beragama Buddha.  “Ini kan panti milik Kristen,” sambungnya. Tapi, saya juga bisa mengerti, lanjutnya, Ibu sebenarnya sudah lama mau masuk Kristen. “Hanya karena kami berbenturan dengan keterbatasan waktu untuk mengantarnya ke gereja menyebabkan kerinduan Ibu terus ditunda,” jelasnya.

 

Penampung para lansia

Bukan hanya Oma Fony melakukan kegiatan di panti itu. Kurang lebih sepuluh tahun terakhir panti wredha ini selalu dikunjungi orangtua yang sudah tergolong lansia. Dan rata-rata tiap bulan antara 2-3 orang lansia mendatangi tempat itu dengan tujuan berbeda. Ada lansia yang hanya sekadar merayakan ulang tahun bersama para jompo penghuni panti, ada yang datang hanya sekadar saling sharing bersama, dan ada pula mencari tahu tentang situasi sebagai alternatif pilihan calon penghuni.

Memang, Panti Wredha adalah sebuah tempat yang secara khusus didirikan dan disediakan bagi penampungan para usia jompo. Panti ini di bawah naungan langsung Yayasan Kasih Ayah Bunda. Diakui, panti ini dibangun sebagai eksplisitasi dari aksi pelayanan kemanusiaan bagi para jompo. Karena itu, dalam hal tugas pelayanan senantiasa dilandasi dan diresapi oleh sebuah visi, “Terwujudnya pengayoman dan pelayanan bagi mereka di penghujung hidupnya”.

Para jompo yang identik dengan usia senja memerlukan perhatian, utamanya perhatian secara psikologis. Dengan begitu, para jompo akan tetap merasa dirinya diterima dan dibutuhkan.  “Kami merawat secara kasih agar mereka merasa diperhatikan. Ya, sebab kita juga nanti akan jadi tua,” kata Yustina, koordinator pengawasan Panti Wredha.

Sebab itu pula, panti ini menghadirkan misi, “Melayani dengan Kasih kepada Para Wredha yang Membutuhkan Naungan Kasih dalam Suasana Persahabatan dan Kekeluargaan”. Persahabatan dan kekeluargaan adalah dua kata kunci dalam melakukan pelayanan kasih di Panti Wredha. Dua kata kunci itu pula yang melatari panti ini melayani dalam perspektif pluralisme. Sejak berdirinya 10 tahun lalu, panti ini selalu mengasuh para jompo dari berbagai agama dan suku. Para jompo yang dapat diterima untuk diasuh di panti ini hanya yang bisa memenuhi kriteria berikut.

 Pertama, berumur antara 60 sampai 80 tahun. Kedua, mempunyai penanggung jawab. Ketiga, dapat mengurus diri sendiri. Keempat, tidak berpenyakit menular atau saraf. Kelima, bisa suami istri sesuai nama Yayasan Kasih Ayah Bunda.

Dalam proses pengasuhan, Panti Wredha  menerapkan aturan harian yang mencerminkan kehidupan para jompo. Kebaktian atau misa kerap dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan rohani mereka. Demikian pun, gerakan dan rona aturan lain dibuat agar para jompo merasa aman, nyaman, dan berdamai. ? Stevie Agas

63
41 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2014201320122011201020092008
  • vita-pudding.jpg
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
Hikmat Allah dan Hikmat Manusia.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter bigmansiraitBapak Pengasuh, Saya ingin bertanya perihal hikmat Allah dan hikmat manusia.1. Apa maksudnya hikmat Allah dan ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved .
Online Support :
X