Mengapa para mahasiswa tak diijinkan kembali ke tempat mereka sendiri di Kampung Pulo, Jakarta Timur?
Reformata.com - SEBUAH spanduk berukuran besar dibentangkan di depan pintu masuk Kampung Pulo. Bunyinya sungguh tidak menge-nakkan, khususnya bagi para mahasiswa SETIA yang sedang mengembara. “Kami warga Kam-pung Pulo dan sekitarnya, tetap menolak ‘Setia’ kembali ke Kam-pung Pulo, apa pun alasannya. Nekat gua sikat!” Pernyataan itu, tentu saja, merusak rasa persatuan dan persaudaraan.
Tapi mengapa warga setempat – minimal oknumnya – menolak de-ngan tegas SETIA untuk kembali ke bangunan miliknya? Wakil Camat Makasar, Dian Purfanto mengatakan bahwa permasalahan ini masih dibahas di tingkat peme-rintah provinsi bersama aparatur pemerintahan setempat yang terkait, yaitu Camat Makasar dan Lurah Pinang Ranti. “Kalaupun me-mang tanah dan gedung milik Yayasan STT SETIA sah, perlu ditinjau dan diperhatikan baik-baik masalah ijin peruntukan gedung mereka. Karena adalah dua hal yang berbeda antara kepemilikan dan peruntukan,” ujarnya.
Tak bisa melebur
Ditanya soal bunyi spanduk itu, ia mengaku bila hingga saat ini, belum ada warga setempat yang keberatan dengan keberadaan SETIA di tempat itu. “Seharusnya setiap konflik yang ada antara war-ga Kampung Pulo dan STT SETIA bisa diatasi dengan cara yang lebih baik. Janganlah konflik yang dibe-sar-besarkan, tapi solusi atas konflik yang ada,” katanya.
Lalu mengapa bisa muncul konflik antara SETIA dengan war-ga sekitar? Dian enggan menye-butkannya, tapi disinyalir, ada image buruk masyarakat tentang beberapa oknum yang ada di SETIA. “Mereka dianggap tidak mampu melebur dengan warga sekitar Kampung Pulo. Konflik bisa ditangani dengan mudah dan cepat bila masing-masing pihak yang bertikai sebelumnya sudah memiliki relasi pribadi yang akrab,” katanya.
Risman, juru bicara warga Kam-pung Pulo menegaskan bahwa permasalahan SETIA dengan war-ga bukan hal baru. Warga sebe-narnya telah mengeluhkan bebe-rapa hal sejak tahun 1991. Keluhan mereka adalah ketidaksetujuan mereka terhadap keberadaan yayasan tersebut. “Bukan karena adanya sentimen agama tapi karena tidak memadainya ruang warga yang cukup sempit diper-gunakan sebagai kegiatan yayasan pendidikan,” katanya sembari menambahkan, bahwa yayasan apa pun tidak memadai berada di sekitar pemukiman sini.
Ditambahkannya, pihak Yayasan seharusnya memperhatikan bahwa letak gedung yayasan yang berada di tengah-tengah pemukiman dapat menimbulkan gesekan kapan saja. “Uniknya ijin peruntukan gedung sebagai tempat tinggal sudah beberapa kali dicek oleh pihak pemerintah yang berwenang dan setiap kali ditemukan penyim-pangan, tidak ada tindakan berarti dari pihak pemerintah untuk mem-berikan sanksi tegas kepada yayasan,” katanya.
Ulah oknum mahasiswa
Masih menurut Risman, beberapa kali ketenangan warga terganggu dengan kebiasaan beberapa maha-siswa yang melakukan aktivitas di luar kampus pada malam hingga sore hari. Entah mahasiswa atau bukan, beberapa pasangan sering terlihat berkeliaran di sekitar kampus pada malam hari. Hal ini tentu saja membuat warga merasa risih. Belum lagi peristiwa di mana sesama mahasiswa baku hantam yang membuat warga semakin merasa tidak nyaman.
Sifat arogansi sebagian maha-siswa dari etnis tertentu yang sering kali membuat warga dan beberapa orang mahasiswa terse-but mungkin salah persepsi dalam menangkap maksud komunikasi masing-masing pihak. Suatu saat bahkan sempat terjadi ketegangan antara warga dan mahasiswa STT SETIA yang waktu memaksa war-ga untuk membubarkan sebuah panggung akbar warga dengan alasan panggung tersebut menu-tupi jalan. “Hal-hal semacam ini tentu saja menjadi peristiwa yang bisa meledak kapan saja jika terjadi gesekan kecil,” katanya.
Menurut Risman, permasalahan itu selalu dibiaskan dengan masalah agama. “Itu keliru besar. Sebelum-nya, ritual-ritual keagamaan biasa dilakukan di sekitar pemukiman warga sini, dan selama itu tidak mengganggu, warga tidak pernah keberatan, dan tidak pernah ada penolakan dari warga Kampung Pulo,” tegasnya sembari meminta agar masalah ini tidak dibiaskan terlampau jauh.
Mohon maaf
Masih menurut Risman, warga sebenarnya tidak bermasalah dengan mahasiswa tapi dengan pihak yayasan SETIA yang telah memaksakan diri mendirikan yayasan di pemukiman warga yang padat. Opsi untuk mengembalikan mahasiswa SETIA ke lokasi semula di Kampung Pulo tetap ditentang warga karena mereka tidak ingin berada dalam situasi yang sama seperti saat STT SETIA berada di kawasan mereka.
“Lebih baik mahasiswa SETIA bersama warga Kampung Pulo ber-amai-ramai menyambangi Pemprov DKI untuk menuntut pertang-gungjawaban atas nasib kawan-kawan SETIA saat ini. Kalau mereka mau memaksakan untuk kembali ke tempat ini, ya saya tidak tahu apa nanti yang terjadi, kita lihat saja nanti,” ujar Risman. Atas nama warga, Risman memo-hon maaf kepada kawan-kawan mahasiswa STT SETIA jika meng-alami perlakuan yang kurang me-nyenangkan atau pun situasi dan kondisi yang menyulitkan. “Dari hati yang paling dalam, saya me-ngaku prihatin terhadap kondisi mahasiswa STT SETIA. Tapi kami sama sekali tidak simpatik terhadap Yayasan SETIA berada di tengah-tengah pemukiman warga kami,” tukasnya.
Jenda Munthe