| Laporan Utama |
|
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
|
| Laporan Khusus |
|
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Jejak
18 November 2009 Santa Odilia, Tolak Kemewahan Dunia, Pilih Pelayanan
 Reformata.com - SADARKAH Anda betapa besarnya anugerah Allah dalam hidup setiap orang? Coba bayangkan, betapa bersyukurnya orang mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya dunia ini dengan kedua matanya. Mata adalah anugerah besar yang tak boleh dinafikan keberadaannya. Dengan mata, orang dapat memandang karya Allah yang agung, begitu besar, hingga mampu memaksa bibir berucap syukur. Lantas bagaimana dengan orang yang terlahir buta? Apakah mereka juga dapat bersyukur, meski tak sekalipun pernah melihat secara langsung besarnya karya Allah dalam dunia? Adalah Santa Odilia, putri pasangan bangsawan Aldaric dan Bereswinda yang terlahir buta, seorang santa Katolik yang sejak kecil hidup sengsara dan dibuang – namun di kemudian hari beroleh anugerah Tuhan untuk kembali menikmati hidup, bahkan membaktikan hidupnya bagi kemanusiaan. Mendapati anaknya terlahir buta, Aldaric ayah Odilia, yang juga seorang tuan tanah yang kaya raya itu pun kemudian berniat membunuh Odilia. Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula – sudah terlahir buta, Odilia kecil pun hendak disingkirkan dari keluarganya sendiri – demi menutupi perasaan malu dan perasaan rendahnya martabat memiliki anak buta. Sebelum tindakan nekat Aldaric betul-betul terlaksana, Bereswinda, ibu Odilia kemudian melarikan bayinya ke suatu tempat yang aman, di rumah seorang petani perempuan mantan pekerja atau lebih tepatnya pembantu di rumah tangga mereka. Bereswinda meminta bantuan mantan pekerjanya itu agar berkenan merawat Odilia, dan mau membawa Odilia ke tempat nan jauh, agar Aldaric tak dapat menemukan anaknya itu. Baumeles-Dames, dekat Besan-con, sebuah biara para suster (susteran) adalah pilihan yang tepat untuk berlindung dari niat jahat Aldaric yang memang sudah tahu pelarian Odilia oleh ibunya itu. Beruntung betul, suster-suster di biara bersedia menerima dan merawat Odilia, bahkan hingga usia bayi malang itu menginjak dua belas tahun. Mendengar cerita sedih tentang Odilia – seorang putra bangsawan besar yang disia-siakan keluarga – Erhart, Uskup Regensburg, tersentuh hatinya. Oleh prakarsa dan rencana Tuhan, Erhart pun digerakkan untuk berkunjung ke Baumeles-Dames, biara susteran tempat di mana Odilia dirawat, menemui Odilia, sekaligus membaptisnya. Saat inilah mukjizat Tuhan terjadi, saat disentuh oleh minyak krisma pada upacara pembaptisan, seketika itu juga mata Odilia terbuka dan ia dapat melihat! Uskup Erhart memberitahukan mukjizat ini kepada keluarga Aldaric. Alih-alih Aldaric percaya dan menerima anaknya kembali, ayah Odilia tetap tak mengakui Odilia sebagai anak-nya, bahkan ia justru membunuh kakak Odilia yang tertarik dengan cerita Uskup Erhart tentag mukjizat yang dialami Odilia. Suatu hari Aldaric menyesali perbuat-an yang kejinya bahkan bersedia menerima dan me-ngakui kembali Odilia sebagai pu-terinya. Meski de-mikian Odilia tak silau dengan ge-merlapnya kehidupan bangsa-wan. Ia tetap meneruskan karyanya di Obernheim bersama kawan-kawan lainnya. Odilia tetap membaktikan diri dalam karya-karya amal membantu mereka yang miskin papa dengan semangat pengabdian dan cinta kasih. Bahkan di saat ayahnya hendak menikahkan Odilia dengan seorang pangeran, Odilia memilih pergi dari rumah, melanjutkan pelayanan yang telah dikerjakannya. Aldaric pun akhirnya mengalah dan membujuk puterinya pulang, bahkan mengijinkan putrinya mengubah istana di Hohenburg menjadi sebuah biara. Di tempat itu pula Odilia menjadi kepala biara. Di kemudian hari Odilia membangun lagi sebuah biara lain, Biara Odilienberg, di Niedermunster. Di sanalah ia membaktikan diri dalam karya bagi Tuhan dan sesama hingga akhir hayatnya pada tanggal 13 Desember 720. Slawi/dbs
Others
- A.W. Tozer, Membumikan Kehidupan Jemaat Mula-mula
- Gerrit Berkouwer, Bahasa Alkitab, Kaya Unsur Seni dan Sastra
- St. Yohanes Krisostomus Pembaharu Tak Pandang Bulu
- Joseph Mohr, Pencipta Malam Kudus Orgel Rusak, Lahirkan Inspirasi
- Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden
- Rembrandt, Memadukan Seni dan Spiritualitas
- Jonathan Edwards: Melihat Tuhan dalam Lukisan Semesta
- Camilo Torres, Perjuangkan Hak Rakyat Tertindas
- St. Bernardus,Bimbing Orang Menuju Progresivitas Iman
- Sahabat dan Bapak Kaum MudaDon Bosco, Pastur
- Richard Hooker 1554-1600, Membela Tradisi Lama
- Benediktus dari Nursia, Tinggalkan Kemewahan Dunia demi Kristus
- Anak Yatim Pendiri Ordo Ursulin
- August Theis Sebarkan Injil di Simalungun
- Perjuangkan Iman, Tidak Harus dengan Kekerasan
- Johann Baptist Metz, Usung Gagasan Teologi Politik
- Ernst Troeltsch,Menghargai The Others, Bentuk Ekspresi Iman
- Matteo Ricci, Misionaris di China Pendekatan Simpatik terhadap Budaya Lokal
- St. Alfonsus Maria de Liguori, Khotbah Sederhana Sejukkan Jiwa
|
|