User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

Suluh

18 November 2009

Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku

Naskah Agung Tuhan, Menjadi Perilaku.jpg
PENDETA nyentrik, begitulah gelar yang diberikan kepada Glorius Bawengan. Pasalnya, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Juni 1964 ini, selalu menghadirkan nuansa baru dalam setiap penampilannya. Di mimbar, ada kalanya dia memakai kain sarung, ikat pinggang besar, ber-kepala gundul, bawa kondom, dan berbagai ekspresi lainnya. Ide-ide dan karya seni yang dirangkai dalam bentuk teater dituangkan melalui khotbah, tata ibadah, bahkan dra-ma kolosal. Semua dikonsep unik oleh hamba Tuhan yang juga diju-luki “pendeta sutradara”. Disebut demikian, karena Glorius ada di balik pementasan teater seperti: “Sangir Merindu”, “Dalam Bayangan Tu-han”, “Penculikan Kristus”, “Jubah Kotor”. Glorius, seorang yang sangat ekspresif kala ada di depan audiens. Naluri dan semangat untuk tetap “menggelandang” mem-buatnya tetap energik dan tak kehabisan ide.

Ekspresi sehari-hari
Tampil apa adanya, bukan seadanya, itulah Glorius. Berada di antara para pengamen, tukang ojek, membaur dengan masyarakat pasar, bukan hal asing baginya. Naik turun bus kota atau kereta rel kelas ekonomi, tertidur dengan santai dan membangun komunikasi dengan orang-orang pinggiran, dilakukannya setiap dua kali se-minggu, sebagai wujud memba-ngun stamina kerakyatan. Glorius mendapatkan inspirasi melalui pendekatan-pendekatan ini, men-cerahkan setiap konsep berpikirnya tentang bagaimana Tuhan mem-beri hidup kepada banyak orang. Bincang-bincang bersama Rendra atau Butet, berada di bengkel-bengkel teater, membangun komunitas Depot Teologi Kreatif (DETIK), adalah wahana yang memperkaya dirinya untuk terus berkreasi.  
“Orang yang kreatif harus mulai dari kegelisahan. Kalau mau survive harus gelisah positif,” aku ketua Resort Indonesia Barat Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) ini. Glorius selalu gelisah ketika menonton sinetron-sinetron yang ditayangkan di televisi, atau pun terhadap gereja yang merasa diri lebih benar. Ber-awal dari kegelisahan-kegelisahan inilah, muncul ide untuk dituang-kan melalui konsep-konsep teater. “Tuhan saya kreatif, maka saya harus kreatif. Konsep Allah kreatif melalui gagasan kristologi. Dia bukan Allah yang diam. Gereja yang memiliki paham spirit kristologi, pasti kreatif,” inilah yang selalu ingin ditampilkan ayah Paramatha Lemba-yung (14) dan Rekah Buana (6) ini.
Tidak membatasi diri dalam melayani, adalah komitmen Glo-rius. Tetap peduli dengan sekolah Minggu maupun kaum lansia, adalah komitmennya. “Saya sadar sebagai pelayan, jadi semua harus dilayani,” cetus dosen yang juga penulis ini.

Teologi dan teater
Berawal dari kecintaan akan teater, sastra, dan menulis, Glorius menjadi mahasiswa fakultas sastra di sebuah universitas di Makassar. Dia juga sempat berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tapi tidak tuntas. Sekalipun demi-kian, Glorius makin aktif mengikuti bengkel-bengkel teater. Sampai akhirnya di tahun 1985, Glorius menjadi mahasiswa STT Jakarta. Tadinya Glorius hanya ingin mendalami ilmu filsafat, namun STT mengantarnya mengenal teo-logi. Hingga lulus tahun 1990, dia tidak berhasrat untuk menjadi pendeta. Namun kenyataan ber-kata lain, Glorius ditahbiskan menjadi pendeta di GMIST, saat melayani 5 tahun di Sangihe Talaud.  
“Garis saya sebenarnya adalah berteater, berkebudayaan. Tapi ternyata menjadi pendeta. Inilah simpang gagasan itu dimulai. Rupanya saya harus berteologi tetapi mengambil bentuk-bentuk teater. Inilah awal saya mencip-takan bentuk-bentuk ibadah/liturgi, drama di gereja dengan format baru. Model teater itu adalah sebuah upaya berteologi,” demikian pengakuan Glorius.
Dengan kekuatan teologi, Glo-rius mengembangkan periba-datan dalam model kreatif. Hadirlah Depot Teologi Kreatif (DETIK). Model-model pelayanan di gereja/non gereja yang tidak verbal. Kreatif organizer melalui acara-acara dengan model teater. Setelah perjalanan itu, Glorius berpikir, “Jika dulu teater itu seba-gai media berteologi, namun da-lam perjalanan pelayanan dengan bentuk-bentuk kreatif, kita masuk pada diktum baru: teater, teologi itu sendiri. Kalau teater menjadi teologi, maka dia tidak akan dipisahkan. Itu menjadi satu kesatuan”.  
Berteologi melalui berteater menjadi konsen Glorius. “Teologi adalah pengertian dari “teos” dan “logos”, yaitu firman yang menjadi manusia, kata yang menjadi daging. Maka teater adalah wujud dari kata menjadi perilaku. Hidup kita adalah teater kita. Naskah agung Tuhan itu menjadi perilaku,” ungkap Glo-rius memberi arti. Itulah yang menjadikan dirinya selalu berkreasi melalui teater. “Teater bukan tontonan. Jemaat terlibat menjadi pemain, dan penontonnya adalah Tuhan,” urainya.

Impian yang mencerahkan
“Lulusan mahasiswa teologi terus bertambah, namun tidak semua dapat ditampung di gereja. Tak heran banyak oportunis, penge-lana, yang sekadar mencari makan. Teologi dibunuh para pembunuh Tuhan, dari sekolah teologi itu sen-diri. Oleh karena orientasi hanya ke gereja,” itulah pengamatan Glorius. Dia memikirkan sutradara, produser, programmer, dan masih banyak profesi lainnya sebagai tuntutan ja-man yang dapat dihasilkan dari sekolah teologi. Belajar komunikasi masa dengan pengembangan baru, menjadi kerinduan Glorius untuk dapat dihadirkan di sekolah-sekolah teologia.
“Saat membahagiakan adalah bisa menelurkan karya-karya baru. Di sanalah daya kreatifnya diasah,” urai pemilik moto: “You are sele-brity’s God” ini. “Karena selebriti Tuhan maka harus dan pasti kreatif,” tandas suami Holy M. Manila ini. Menampilkan isi yang cer-das, dan dalam bentuk menarik, adalah tantangan bagi Glorius. Dia juga ingin gereja/institusi tidak lagi tersekat oleh sektarianitas. Untuk berkhotbah dapat diberikan kesempatan secara bergilir, tidak hanya pendeta, namun kiai/haji, budayawan.  
Mimbar bukan hegamoni sekta-rian tapi proses refleksi inklusif. Sutradara yang khotbah, seperti Gari Nugroho. Sebaliknya di mesjid, pendeta atau pastor menjadi penceramah,” itu mimpi Glorius. “Apakah mimpi itu menjadi kenyataan atau tidak, yang penting kita punya makna untuk titik mimpi itu,” tandas Glorius.  Lidya

Comments

Efraim Paparang, 26.06.10 20:09
Pdt Glorius Bawengan kiranya Tuhan makin menambahkan hikmat agar menjadi pendeta yang berteater sehingga dalam menyampaikan firman akan lebih mudah untuk dipahami oleh warga jemaat Tuhan memberkati

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.643 Hit: 1.857.398 Since: 14.11.05 | 0.8566 sec | TOP
Online Support :