Sembilan desa di Mali, Afrika, menyerukan "tidak" terhadap sunat perempuan. Perlahan, situasi seputar sunat perempuan berubah di Afrika. Dan Eropa harus belajar dari hal ini.
"Salima dilahirkan dari air sungai Nil. Salima adalah gadis manis yang ceria. Ia adalah masa depan."
Demikian nyanyian perempuan-perempuan Afrika yang berjuang melawan sunat perempuan. Salima adalah bahasa Arab yang artinya "utuh".
Belajar
Eropa harus belajar dari perjuangan Afrika melawan sunat perempuan, kata sekretaris negara Belanda Jet Bussemaker, karena sampai sekarang sunat perempuan masih jadi masalah besar di lingkungan kaum migran di Eropa. Sunat perempuan dilarang, baik di Eropa maupun di 17 negara Afrika. Kaum migran di Eropa harus tahu bahwa mentalitas di kampung halaman mereka sudah berubah menghadapi sunat perempuan, kata Bussemaker lagi.
"Migran di sini harus belajar mengenai perkembangan di negara asal mereka, Afrika. Hal itu bisa membantu mereka menolak sunat perempuan di sini. Karena itulah, saya juga bekerja sama dengan Koenders, Menteri Kerja sama Pembangunan, untuk menyebarkan informasi. Selain itu, kita di Belanda juga harus memastikan bahwa negara-negara Eropa lainnya juga ikut berpartisipasi dengan lebih aktif."
Dengan kampanye 'salima' yang berskala kecil - berkonsentrasi pada tradisi dan norma lokal - para aktivis berhasil menggerakan masyarakat.
Tolakan
Jelas, ada yang sedang berubah, kata Berhane Ras-Work dari Ethiopia. Sudah 25 tahun ia berjuang memberantas sunat perempuan. Di negara-negara seperti Ethiopia, Guinea, Nigeria dan Sudan makin banyak perempuan menolak sunat, kisahnya.
Toh sampai sekarang, masih banyak pendukung sunat perempuan, kata Berhane Ras-Work, dan yang menarik adalah, sebagian besar pendukung sunat justru kaum perempuan. "Penolakan terkuat justru datang dari perempuan, mereka tidak merasa aman dan bisa membayangkan hidup tanpa sunat, karena itu adalah salah satu syarat pernikahan. Lebih mudah meyakinkan laki-laki, karena mereka lebih melihat sunat sebagai masalah perempuan."
Dilarang
Terdapat sekitar 100-140 juta perempuan punya hubungan dengan sunat. Begitu perkiraan organisasi kesehatan dunia WHO. Sunat perempuan adalah tradisi yang tidak hanya muncul di komunitas Islam, tapi juga Kristen. Terdapat banyak jenis sunat perempuan di 28 negara Afrika, Timur Tengah, Indonesia, dan Irak. Biasanya sunat dilakukan terhadap gadis-gadis berusia antara 4-12 tahun, tapi kadang juga di usia lebih tua. Akibat sunat sangat besar, baik secara fisik maupun psikologis.
Di Belanda, sunat perempuan dilarang. Tapi sampai sekarang, sejumlah gadis dari keluarga migran masih mengalami penyunatan ketika sedang "berlibur" ke Afrika. Pemerintah mencoba campur tangan untuk mencegah hal ini: lewat pusat kesehatan dan sekolah-sekolah, lewat penyuluhan dan juga lewat ancaman hukuman. Sekretaris negara Jet Bussemaker telah mengangkat duta khusus untuk memberantas sunat perempuan di Afrika. Dengan masukan dan pengalaman di Afrika, mereka ingin membuat para migran di Eropa jadi 'salima'.
sumber:Ranesi