User ID Kata Sandi
Google reformata.com
 
Gambar Wajah Di Planet Mars  |  Dimulai, Pembangunan Gedung Baru UKI  |  Persekongkolan Negara Dan Massa Anarkis  |  Suplemen Kalsium Tingkatkan Risiko Serangan Jantung  |  Pemerintah 'tak Hargai' Kebebasan Beragama  | 

News

03 December 2009

Kearifan Lokal Penting untuk Memperkuat Keindonesiaan

Kearifan Lokal Penting untuk Memperkuat Keindonesiaan.jpg
Mencuatkan kembali kearifan-kearifan lokal yang dimiliki ratusan etnis dan suku bangsa dinilai sangat penting untuk memperkuat rasa keindonesiaan dan menekan potensi konflik di masyarakat.

Sejarawan Anhar Ganggong saat pertemuan pemantapan masyarakat multikultural Departemen Sosial RI di Makassar, Rabu, mengatakan, pengembangan kearifan lokal tersebut bukan untuk kepentingan lokalitas saja, namun untuk memperkuat landasan nasionalisme bangsa Indonesia.

Ia mengatakan, Indonesia sebenarnya telah memiliki simpul kearifan-kearifan lokal yakni pancasila. Namun, nilai-nilai Pancasila yang dulu disalahtafsirkan, saat ini justru malah terlupakan.

"Siapa yang mau berbicara Pancasila saat ini? Malah anggapan saya, selama 64 tahun kita merdeka, baik pemerintah maupun masyarakat masih tidak menghayati Pancasila dengan baik," ujarnya.

Anhar menjelaskan, pencuatan kembali kearifan-kearifan lokal saat ini harus memperhatikan proses internalisasi atau komunikasi antar etnik, serta memadukannya dengan kearifan global dari dunia luar.

Proses internalisasi dibutuhkan sebab di Indonesia terdapat lebih dari seribu etnik, 15 etnik diantaranya memiliki jumlah penduduk terbesar seperti etnik Jawa dan Bugis Makassar.

"Proses internalisasi yang diolah dengan kreatifitas, memadukan kearifan lokal, nasional Indonesia dan kearifan universal, saya pikir akan menjadi sebuah kearifan bangsa yang sangat mumpuni mengendalikan dinamika kehidupan sosial masyarakat kita," ujarnya.

Internalisasi juga menjadi penting, kata dia, sebab kehidupan sosial rakyat Indonesia saat ini minim upaya-upaya dialog. Padahal pada awal abad ke-20, Indonesia dibangun dengan empat pilar, yakni kemampuan organisasi, ideologi, media massa dan dialog.

"Unsur dialog itu menjadi menjadi tantangan terbesar saat ini untuk melakukan pengembalian kearifan lokal dalam tatanan kehidupan nasional," katanya.

Pertemuan pemantapan masyarakat multikultural Departemen Sosial RI sendiri, dihadiri 177 peserta dari kalangan tokoh masyarakat se-Indonesia dan sejumlah instansi terkait.

Menurut Dirjen Bantuan dan jaminan Sosial Depsos RI, Toto Utomo Budi Santoso, kegiatan yang berlangsung 30 November-2 Desember tersebut, bertujuan sebagai upaya menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal untuk sebagai landasan kehidupan bangsa Indonesia.
sumber:Antara

Others

Baca Gali Alkitab  •  Bincang-Bincang  •  Buku SMK  •  Cover Story  •  Daily News  •  Dari Redaksi  •  Editorial  •  English  •  Garam Bisnis  •  Gereja & Masyarakat  •  Hikayat  •  Jejak  •  Kawula Muda  •  Khas  •  Khotbah Populer  •  Konsultasi Hukum  •  Konsultasi Keluarga  •  Konsultasi Kesehatan  •  Konsultasi Theologi  •  Kontroversi  •  Kredo  •  Laporan Khusus  •  Laporan Utama  •  Leadership  •  Manajemen Kita  •  Mata Hati  •  Mata Mata  •  Muda Berprestasi  •  News  •  Opini  •  Peluang  •  Podcast  •  Profil  •  Resensi Buku  •  Resensi Kaset  •  Senggang  •  Suara Pinggiran  •  Suluh  •  Ungkapan Hati  •  Varia Gereja  • 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.299.557 Hit: 1.857.302 Since: 14.11.05 | 0.8079 sec | TOP
Online Support :