DEWASA ini banyak orang yang pandai bicara dan fasih lidah dengan mudahnya menjadi hamba Tuhan. Tak heran jika bobot yang diwarta-kan pun kurang memuaskan. Hal ini tentu sama sekali berbeda de-ngan Yohanes Krisostomus, se-orang uskup dan pujangga yang hebat di masanya. Pria yang diju-luki si Mulut Emas ini tidak sekadar pandai bicara, tapi memiliki nilai materi khotbah yang tidak dapat disangsikan. Tak heran, Yohanes belajar pidato di bawah asuhan Libanius, seorang kafir yang terpe-lajar, orator paling terkenal pada jamannya. Yohanes dibentuk men-jadi seorang yang militan dan cer-das dalam mewartakan berita bahagia dari Tuhan. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran didikan dan disiplin orang tuanya yang kebetulan bangsawan.
Yohanes Krisostomus lahir di dunia dalam suasana yang menye-dihkan di Antiokia, Syria antara tahun 344 dan 354. Ayahnya me-ninggal ketika ia masih bayi. Ber-untung Yohanes memiliki ibu yang sangat mencintai Tuhan – memilih untuk tidak menikah lagi, dan men-curahkan seluruh perhatiannya untuk membesarkan anak-anaknya menjadi pribadi tangguh dan ber-ilmu tinggi. Harapan ibunda men-jadi kenyataan setelah Yohanes menyerahkan dirinya untuk dibap-tis pada umur 20 tahun.
Keputusannya inilah yang men-jadi titik awal Yohanes untuk me-ngembangkan sayap-sayap militan-sinya dalam mewartakan Injil. Segera gaya hidup monastik, (menjauhkan diri dari persoalan du-niawi / sekuler dan hidup semata-mata bagi karya rohani) mewarnai hari-harinya. Dengan tekadnya yang bulat untuk mendalami per-soalan rohani, Yohanes dengan ikhlas menjalani hidup monastik, mulai di rumahnya dan berlanjut terus hingga dia bergabung de-ngan sebuah biara di Silpos. Di sinilah Yohanes secara serius mendalami cara hidup membiara dan belajar teologi di bawah bimbi-ngan Diodorus dari Tarsus, pemim-pin Sekolah Teologi Antiokia.
Ketekunannya belajar dan menjaga spiritualitas dengan baik pun membuahkan hasil. Seperti kerinduannya, Yohanes kembali ke kota, di mana ia pernah melayani. Di sini dia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Flavian I dari Antiokia. Di sini Yohanes betul-betul mencurahkan seluruh po-tensi dan ilmunya dalam pelaya-nan. Yohanes pun dikenal banyak orang sebagai pengkhotbah ulung, si mulut emas, yang kerap berkhotbah secara spontan tanpa teks. Tiap Yohanes berpidato, orang akan mengangguk-angguk menikmati kepandaiannya dalam berbahasa, kejelasan suara, kein-dahan gaya bicara, dan tak lupa kedalaman pembahasan Alkitabnya.
Selain pandai bicara Yohanes juga dikenal sebagai orang yang produktif. Ia banyak menulis bera-gam esai-esai yang menarik. Salah satu karyanya yang terkenal ber-judul “Keimaman” (390). Melihat kegigihan dan keseriusannya dalam melayani gereja pun segera mem-berinya gelar kehormatan sebagai doctor ecclesiae (pujangga gereja), terutama karena ratusan homili-homilinya (khotbah), yang umumnya merupakan komentar-komentar Kitab-kitab utama dalam Perjanjian Lama dan Baru.
Pada 398 Yohanes dipromosikan sebagai uskup ke-12 sekaligus menjadi salah satu panutan gereja. Namun situasi sosial saat itu tidak mendukung. Moralitas penduduk kota sangat merosot. Ini mensti-mulusnya untuk segera membuat gerakan pembaharuan hidup moral di seluruh kota, termasuk kalangan rohaniwan. Kepiawaiannya ber-pidato dimanfaatkan betul untuk menyukseskan gerakan itu. Khot-bah-khotbah yang disampaikannya mengena, tegas dan blak-blakan. Karena itulah Yohanes dibenci oleh pembesar-pembesar kota, bahkan rohaniawan lainnya. Yoha-nes pun sempat dikucilkan karena programnnya itu, bahkan sempat diasingkan karena kritikannya yang pedas terhadap Kaisar (wanita) Eudogia dan pembantu-pemban-tunya – hingga akhir hayatnya. ?Slamet