ADA banyak anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat, hanya karena perilaku orang tuanya yang buruk. Kete-ladanan yang tidak dapat dicontoh, miskinnya kasih sayang dan perhatian, serta merosotnya peran dan tanggung jawab orang tua, memberi dampak yang fatal bagi anak. Hendi Yefta adalah salah satu korban itu. Pria kelahiran Pon-tianak, 24 Agustus 1979 ini, dibesarkan oleh orang tua yang diktator, sibuk di luar rumah. Rasa jenuh, marah, benci karena komunikasi yang sulit, serta ketidakharmonisan di rumah, menyebabkan Hendi kecil menyenangi kehidupan di luar rumah. Inilah awal Hendy terpe-rosok ke dalam pergaulan buruk, hingga menjadi pecandu narkoba.
Di masa kecilnya, Hendi miskin kasih sayang, dan terbentuk menjadi pribadi yang suka mem-berontak. “Dari kecil Papa selalu memukul dan menghajar, jika saya berbuat salah. Tapi setelah saya remaja, Papa tidak lagi memukul tapi memarahi, karena saya sudah berani melawan. Saya sering kabur dari rumah jika diomeli orang tua,” kenang Hendi pilu.
Masa-masa kelas 2 SMP menjadi titik awal yang buruk dalam kehi-dupan anak ke-5 dari 9 bersaudara ini. Dia bergaul dengan teman-teman senasib yang dinilai lebih dapat memahaminya. Cara melam-piaskan kemarahan adalah dengan berkelahi, balapan motor liar, minum-minuman keras, dan me-rokok. Hendi gemar berkelahi, bah-kan mencaci-maki dan memukul guru dia berani. Dia dikeluarkan dari sekolah sampai tiga kali.
Dia juga mulai mengenal dugem (dunia gemerlap), yang mengiring-nya mengenal narkoba. Di usia 18, Hendi yang ada di Jakarta, ditangkap polisi karena narkoba. Ini untuk pertama kali dia berurusan dengan polisi. Tapi Hendi tidak sampai dipenjara, karena mem-bayar denda. Sekalipun demikian, Hendi makin kehilangan arah. Dia sudah bergantung pada narkoba.
Orang tua Hendy kewalahan dan pasrah. Mereka terus mencari informasi mengenai narkoba dan penanganannya. Segala cara dicoba, mulai secara ritual agama, pergi ke dukun, dikurung di rumah, dikirim ke RSKO, tapi semuanya gagal total. Kakak perempuan Hendi yang ada di Taiwan meng-usulkan Hendi dikirim ke Taiwan.
Taiwan dan pergolakan
Di Taiwan, Hendi bekerja sebagai waiter restoran. Namun dia juga mau bekerja kasar seperti mencuci gedung, me-moles marmer. Awalnya, di Taiwan, Hendi benar-benar bisa lepas dari narkoba dan dapat menjalani hidup normal. Hidup makin indah ketika Hendi ber-temu dengan Mickey, atasannya di restoran Itali, tempatnya bekerja. Mereka saling jatuh cinta. Setelah pacaran hampir 3 tahun, mereka menikah tahun 2002. Dari pernikahan ini lahir seorang putri yang mereka beri nama Evelyn.
Sayang, menginjak tahun ke-4 pernikahan mereka, Hendi kembali pada kebiasaan lamanya. “Awalnya saya berpikir bahwa anak kecil berumur 3-4 tahun seperti anak saya, tidak akan mengerti dengan apa yang saya lakukan. Saya sering bertengkar dengan istri di hadapan anak saya. Saya juga memakai drugs di depan anak saya. Saya dapat merasakan bahwa dia sangat membenci saya waktu itu. Anak saya selalu menjauh bila saya men-coba memeluk dia,” kenang Hendi dengan nada menyayat hati.
Pernikahan Hendi tidak bahagia. Hendi mencari hiburan di luar rumah dan tidak pulang rumah, mabuk-mabukan, pesta pora, dan kembali ke narkoba. Hendi hidup dalam keputusasaan. Pernikahan di ambang kehancuran. Narkoba membuat Hendi kehilangan akal sehat. Mencuri, menjambret, dan merampok dilakukannya demi menikmati narkoba. Akhirnya Hendi mendekam di penjara Taiwan sebanyak 2 kali. Tapi itu tidak membuatnya melepaskan diri dari jerat narkoba. Dia bahkan membongkar kantor tempat istrinya bekerja. Tapi dia bisa lolos dari incaran polisi, ketika berada di bandara Taiwan untuk kembali ke Indonesia.
Kehidupan baru
Di Jakarta, Hendi berpikir untuk memulai hidup baru, tapi tetap gagal. “Suatu hari ada seorang pecandu yang tidak saya kenal, dan memakai drugs bersama saya. Dia bercerita tentang Yesus yang juga pernah mengubah dia,” kisah Hendi. Waktu itu Hendi dalam keadaan putus asa dan tidak ada pengharapan sama sekali. Hendi yakin bahwa saat itu, Injil sudah menjamah dirinya, sehingga memi-liki kerinduan untuk mengenal pribadi yang sanggup mengubah hidup seseorang. “Singkat cerita saya masuk ke rehabilitasi narkoba di Yayasan Breakthrough Missions Indonesia (YBMI), Oktober 2007 sampai hari ini,” kisah Hendi. Di sinilah titik awal Hendi mengalami perubahan.
Bukan perkara mudah melewati proses pendisiplinan. Mendapatkan suguhan hal-hal rohani, adalah sesuatu yang baru bagi Hendi sebagai orang berlatarbelakang bukan Kristen. “Waktu itu saya masih ‘buta’ tentang Kristen, na-mun kerinduan saya untuk berubah begitu besar yang membuat saya mampu melewati proses sampai hari ini. Tuhan melihat kemauan saya dan Dia memampukan saya. Sekarang saya diijinkan untuk melayani Tuhan melalui Breakthrough Missions sebagai koki untuk menyediakan makanan bagi penghuni rehabilitasi ini,” urai Hendi penuh sukacita.
“Setelah saya sadar bahwa Allah mengasihi saya dan mau memberikan hidup-Nya bagi saya, yang kotor ini. Tuhan menerima saya apa adanya, bahkan memulih-kan hidup saya. Saya tidak tahu pasti kapan saya berkomitmen, tapi yang pasti itu terjadi tidak lama setelah pertobatan saya,” jelas Hendi mantap.
Keseriusannya mencari Tuhan, membuat dia mencoba menaati semua aturan dan program yang diberikan. Kesempatan mengikuti training staff/mentor/pembina se-bagai rekan kerja di YBMI, semua-nya berjalan seiringan dengan perubahan Hendi. Hendi dinilai sebagai seorang yang bertang-gung jawab atas segala tugas dan kewajiban yang diberikan kepada-nya. Sikap yang matang dan kerendahan hati, karena kesadaran akan kasih Tuhan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya dapat dilihat di YBMI.
Aktivitas Hendi sehari-hari adalah memasak untuk semua orang yang tinggal di panti rehabilitasi. Dia mem-bangun diri dengan hidup disiplin, misalnya bangun pagi, jam tidur tidak terlalu malam, tanggung jawab dan disiplin dalam pekerjaan, juga displin rohani: saat teduh, doa pagi, puasa, dan lain-lain. Semuanya semakin memben-tuk Hendi sebagai pribadi yang menjadi berkat. Hendi mau men-jadi seorang hamba yang harus melayani.
Hendi sadar, tidak sedikit pecan-du yang keluar dari rehabilitasi dan jatuh lagi walaupun banyak yang juga bertahan. “Sampai hari ini pun, saya tetap direhabilitasi dan masih diproses. Bukan suatu hal yang mudah bagi saya, seorang mantan pecandu untuk menjaga hidup agar tidak lagi jatuh ke dalam dosa, terutama narkoba,” aku Hendi jujur.
Hendi menyadari proses dan kelemahanya, namun keyakinan kepada Kristus yang mampu mengubah siapa pun, memberi harapan bagi Hendi. Dampak peru-bahan Hendi memberi sukacita bagi keluarganya, khususnya bagi istri dan anaknya. Titik perubahan drastis itu terjadi setelah Hendi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itulah titik pen-ting di balik perkembangan Hendi yang menggembirakan. ?Lidya