TERPILIHNYA Pdt. AA. Yewangoe sebagai ketua umum Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) dan Pdt. Gomar Gultom sebagai sekretaris umum (sekum) PGI periode 2009-2014 dalam Sidang Raya ke-15 PGI di Mamasa, Sulawesi Barat, 22 November 2009 lalu, oleh banyak kalangan Kristen dinilai tepat. Seperti dikemukakan Pdt. Ferry M. Kakiay, M.Th., keduanya adalah pasangan yang tepat. “Pdt. Yewa-ngoe adalah sosok yang berani, cerdas, bersahaja, dan bijaksana. Sementara Pdt. Gomar adalah sosok muda yang rendah hati, energik dan mau bekerja. Oleh karena tipikal itulah maka keduanya dipakai Tuhan untuk dapat mela-yani dengan baik,” ujar Pdt. Ferry.
Karena kedua pimpinan baru yang terpilih itu tepat, maka diha-rapkan kinerja kerja PGI selama lima tahun mendatang ditingkatkan lagi. “Sebelumnya, kinerja kerja PGI memang sudah bagus. Hanya memang kinerja kerja itu perlu dioptimalkan lagi. Kita harapkan dengan kepengurusan yang baru ini ada kemauan baru untuk menata kembali kinerja PGI,” lanjut sekretaris umum Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia (BPH-GBI) ini.
Harapan Pdt. Ferry pada pimpi-nan MPH PGI ini berlandas pada masalah-masalah yang terus menyentuh kehidupan gereja dan menggerogoti pluralitas bangsa. Secara internal, PGI diharapkan ada kemauan untuk mengayomi sinode-sinode yang ada di Indonesia. Tindakan pengayoman itu penting agar secara bersama-sama berjuang mewujudkan kasih Allah pada semua orang de-ngan berupaya memenuhi kebutuhan jemaat di daerah manapun di Indonesia. “Keti-dakbersatuan sinode-sinode gereja menyebabkan pelayanan gereja terhadap jemaatnya tersendat,” ujarnya.
Sebagai contoh, Pdt. Ferry menuturkan, dia sering men-dapat SMS dari gereja-gereja yang ada di daerah, semisal Kali-mantan, Sulawesi, dan Papua, yang menginformasikan ten-tang kurangnya Alkitab bagi para jemaat di sana. “Kenya-taan ini kan mesti disikapi. Ya, kita mau bantu, tapi kan berben-turan dengan perasaan tidak enak karena berbeda sinode. Padahal, kalau sinode-sinode yang ada di Indonesia diakomodir dan bekerja bersama, masalah kekurangan Alkitab itu bisa saja dipenuhi sebab saling memenuhi,” tandasnya. Masih banyak contoh lain sebagai akibat ketidakbersatuan sinode-sinode itu. “Untuk itu, doktrin atau aturan-aturan yang ada pada setiap sinode, barangkali, tidak terlalu diutamakan. Yang utama bagaimana pelayanan terhadap jemaat terpenuhi,” lanjutnya.
Terlambat
Selain itu, harapan lain dari Pdt. Ferry bagi PGI adalah cepat menanggapi masalah-masalah yang muncul yang terkait dengan orang Kristen. Dia mencontohkan, kasus STT Setia yang hingga kini belum tuntas. PGI terkesan lambat memfasilitasi masalah ini. Sebagai sesama Kristen, bantuan penyele-saian masalah mereka janganlah dilihat dari ‘payung’ mana yang harus memikirkannya, apakah PGI, PGLII atau PGPI. “Semua kita turut terpanggil menyelesaikan masalah ini. “Itulah sebabnya betapa pen-ting mengakomodir sinode-sinode tadi,” ujarnya.
Masalah lain, seperti makin gen-carnya aksi penutupan gereja yang dilakukan kelompok tertentu, mestinya PGI lebih menggigit lagi perjuangannya. “Selama ini PGI memang telah memperjuangkan kepentingan gereja-gereja yang ditutup. Hanya masalahnya perjua-ngan PGI terkesan sendirian. Sepertinya tak mendapat duku-ngan dari sinode-sinode di Indonesia. Ya, itu terjadi karena sinode-sinode tidak diakomodir. Karena itu, agar perjuangan PGI kuat maka sinode-sinode bersatu dulu. Kebersatuan dan kebersa-maan itu pondasi kekokohan. Sebelum PGI bergerak maju memperjuangkan haknya, para ketua sinode seluruh Indonesia diundang dulu, dibicarakan ber-sama-sama dulu baru maju. Dengan begitu, nantinya semua kepentingan sinode diakomodir. Sehingga perjuangan PGI benar-benar mengatasnamakan seluruh sinode atau gereja-gereja di Indonesia,” demikian harapan Pdt. Ferry.
Persoalan lain yang diteropong Pdt. Ferry adalah minimnya perha-tian PGI terhadap gereja-gereja di Indonesia Timur khususnya di Tanah Papua. Menurutnya, pem-bangunan gereja di Papua selalu terbelakang. Di sana terjadi kesen-jangan antara sumber daya alam dengan SDM-nya. “Bumi Papua yang kaya bahan mineral seharus-nya dikelola dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahte-raan hidup mereka, malah justru terjadi sebaliknya. Keadilan dan pemerataan makin melorot. Masalah HAM dan kesetaraan kian menghantui mereka yang mem-buat mereka tidak tenang. Belum lagi harga barang-barang penun-jang kehidupan melambung. Harga barang di sana, semisal gas elpiji dua kali lipat harga di sini (Pulau Jawa—Red). Padahal, kalau negara ini kuat dan mau konsisten men-dongkrak pembangunan kehidu-pan masyarakatnya harga barang itu tidak mesti berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya di Indonesia,” tandasnya. Kepriha-tinan ini mestinya masuk dalam poin utama perhatian dan perjuangan PGI ke depan.
Akhirnya Pdt. Ferry mengharap-kan juga dengan telah terpilihnya pimpinan baru MPH PGI tersebut diharapkan, nantinya berkomitmen membenahi Salemba 10, tempat PGI bermarkas. Seperti pernah diberitakan media ini, 6-8 Agustus 2009 lalu terjadi pengepungan atas kawasan ini oleh aparat Satpol PP yang sedang berseteru dengan pengurus GMKI yang markasnya bersebelahan dengan kantor PGI. Markas PGI mengalami kerusakan gara-gara kasus itu. Hal seperti ini tidak boleh terjadi mengingat gedung itu kantor gereja. Gereja yang harusnya menjadi berkat malah dikepung orang lain. “Bila hingga saat ini belum tuntas masalahnya, maka segera mungkin dituntaskan oleh PGI saat ini,” tandas Ferry. ?Stevie Agas