Bersama:
Bimantoro Elifas
Konselor yang saya hormati, usia pernikahan kami 2 tahun dan memiliki anak kembar. Saat ini saya sedang mengalami kesulitan dalam hal relasi saya dengan istri. Setiap kali berkomunikasi selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Kesulitan ini terjadi sejak usia pernikahan 6 bulan, saat istri sedang hamil. Saat itu saya juga mendapatkan promosi dalam pekerjaan, yang membuat saya sering melakukan perjalanan ke luar kota secara rutin.
Akhir akhir ini pertengkaran semakin sering di mana istri merasa saya sudah tidak lagi memperhatikan dia. Bahkan beberapa waktu lalu dia sempat mencoba melakukan bunuh diri. Sejak itu saya selalu khawatir dan mencoba mengalah, bahkan saya meminta kepada atasan untuk mengurangi perjalanan ke luar kota, dan berupaya mengantar dan menjemput istri ke tempat pekerjaannya.
Tapi upaya saya rasanya sia sia, karena istri semakin menunjukkan sikap ketakutan ditinggal yang berlebihan, dan mengungkit-ungkit permasalahan di masa lampau, yang akhirnya memicu kemarahan saya. Saya tidak bisa lagi menahan diri apalagi tekanan pekerjaan juga membuat saya lelah.
Mr. G
Jakarta
TERIMAKASIH untuk sharing yang Saudara sampaikan. Hidup di kota besar seperti Jakarta memang penuh dengan tekanan. Tekanan ini bahkan sudah mulai di pagi hari ketika kita berada di jalan raya yang seringkali berhadapan dengan kemacetan yang luar bisa. Sangat melelahkan memang, apalagi Saudara juga mendapatkan tekanan di peker-jaan dan juga di rumah tangga. Tekanan tekanan yang terus-menerus terjadi itu bukan cuma melelahkan tapi bisa juga mem-buat kita tidak bisa berpikir secara jernih dalam melihat permasalahan dalam kehidupan. Suatu kondisi yang akhirnya bisa membuat kita berputar-putar di satu masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar.
Dari apa yang Saudara sampaikan saya melihat bahwa saat ini saudara sedang menghadapi promosi paling tidak di dua segi kehidupan; yang pertama adalah promosi di pekerjaan, berikutnya adalah pro-mosi dari status suami istri / pasa-ngan menjadi orang tua, bukan hanya orang tua untuk satu anak tetapi dua anak. Promosi yang ter-jadi tentu menuntut Saudara untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam hidup, yang bisa saja tidak dipahami oleh istri yang juga mengalami promosi yang sama da-lam hidupnya. Saat ini istri juga harus menyesuaikan diri dengan peran sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak kembar, dan juga karirnya. Dalam masa transisi ini, kemungkinan terjadi kesulitan komuni-kasi memang sangat besar, apalagi kalau kita tidak memper-siapkan diri untuk melewati masa transisi ini.
Untuk itu saya ingin mengajak Saudara untuk memikirkan prioritas utama dalam hidup. Pemi-kiran ini bisa menjadi dasar untuk menetapkan apa yang penting untuk dikerjakan dalam kehidu-pan pernikahan Saudara.
Pernikahan paling tidak bisa dibagi dalam tiga masa yaitu: pairing, parenting dan partnering. Dalam setiap masa tantangan yang terjadi tentu berbeda misalnya di masa pairing tantangan yang dihadapi adalah mengejar karir versus mengenal pasangan. Dalam rumah tangga Saudara belum cukup masa ini dilalui, Saudara sudah masuk ke masa berikutnya adalah menjadi orang tua, di mana ada tambahan kepentingan mengasuh anak di dalamnya.
Dengan menyadari adanya tiga masa dalam pernikahan ini, bahwa di akhir dari masa pernikahan ada masa partnering yang mungkin terjadi saat anak anak sudah de-wasa lalu Saudara memasuki masa purna bakti (pensiun). Sebuah masa di mana pasangan akan menjadi bagian hidup yang terbe-sar yang kita miliki sebelum kita me-ninggalkan dunia ini, mari kita pikirkan relasi seperti apa yang ingin kita capai di masa tersebut. Relasi seperti apa yang ingin kita nikmati di masa partnering tentu-nya harus dibangun di setiap masa dalam per-nikahan, mulai dari masa pairing.
Dalam iman Kristen, pernikahan merupakan lembaga yang diciptakan oleh Tuhan di mana prio-ritas utama adalah mem-bangun relasi personal antara suami dan isteri, di mana Firman Tuhan me-ngatakan “menjadi satu daging” (Kejadian 2: 24). Setelah mengenal masa-masa dalam perjalanan kehidupan pernikahan, pertanyaannya yang perlu digumulkan adalah sejauh mana prioritas hidup Saudara saat ini mempe-ngaruhi relasi personal saudara dengan istri.
Berikutnya adalah meli-hat istri pernah mencoba melakukan bunuh diri, rasanya Saudara perlu mencari per-tolongan konseling, Dalam kon-seling tentunya Saudara bisa di-bantu untuk melihat latar belakang kenapa istri melakukan hal terse-but, dan juga latar belakang kekha-watiran istri yang menurut Saudara berlebihan.
Sekian, dan Tuhan memberkati.v
LIFESPRING COUNSELING CENTER
68199933 / 22
www.my-lifespring.com