Ramalan boleh datang bertubi-tubi. Tapi sikap yang bijaksana adalah selalu bersiap-siap dan berserah pada Tuhan.
Reformata.com - MENGAPA orang begitu gampang percaya pada ramalan-ramalan, apalagi tentang datangnya kiamat? Perta-nyaan itu muncul, saat kita melihat begitu antusiasnya orang mem-baca dan menyaksikan film tentang akhir jaman itu. Tengok kesuksesan film garapan Hollywood berjudul “2012”. Sebuah judul film yang sangat singkat, tapi mampu mela-hirkan uraian dan kegelisahan yang panjang.
Menurut Ev. Ir. Herlianto M.Th., hal itu terjadi karena orang ingin mencari jawab final atas segala peristiwa tak menentu yang dialaminya sekarang ini. “Sekarang ini kan situasi orang gelisah melihat ketidaktentuan. Di televisi, di mana-mana banjir, salju, pesawat tidak bisa berangkat, kecelakaan, tergelincir. Jadi ada satu kekhawa-tiran massal. Dalam kekhawatiran massal itu, orang mencari kelepa-san dari kekhawatirannya itu. Kelepasan itu biasanya dicari pada ramalan akhir jaman. Sebab setelah akhir jaman itu, terus ada pelepa-san,” jelas direktur Yabina (Yayasan Bina Awam) ini.
Terhadap ramalan-ramalan yang muncul, kita tidak perlu memper-cayainya. Orang bisa saja meramal, tapi selama ini terbukti, bahwa ramalan itu tidak pernah tepat. Karena itu, sikap yang benar terhadap ramalan-ramalan itu adalah bersiap-siap, tanpa harus menjadi khawatir. “Kita perlu siap-siap saja. Jangan khawatir. Sebab kalau kita selalu siap-siap, maka entah ramalan itu terbukti atau tidak, kita tidak akan takut. Mau ada atau tidak, tidak apa-apa,” katanya sembari menegaskan, bahwa yang paling utama adalah mempersiapkan iman.
Jangan mau ditakuti-takuti
Sambil menegaskan bahwa masa depan itu hanya Tuhan yang tahu, bukan manusia, Pdt. Dr. Yacob Nahuway, meminta umat untuk tidak mempercayai setiap ramalan yang datang dari manusia. “Yang mampu meramal-kan nasib manusia sendiri hanyalah Tuhan Allah. Jadi kalau dia sebagai manusia meramal-ramal, maka dia telah menyamakan diri dengan Tuhan dan itu merupakan suatu kekejian bagi Allah,” kata Ketua Sinode GBI ini.
Menurut dia, umat Tuhan dipanggil bukan untuk meramal atau mempercayai ramalan, tapi untuk hidup berkenan kepada Allah, menjadi saksi dan memenang-kan jiwa. “Itu panggilan tertinggi orang Kristen, bukan ramal-mera-mal atau dicemaskan karena rama-lan,” tukasnya sembari menambah-kan, bahwa yang patut dipercayai adalah Alkitab yang dalamnya juga ada ramalan tentang masa depan manusia. “Itu ramalan yang pasti. Di luar itu, tak perlu dipercayai,” tambahnya.
Bila ada hamba Tuhan yang mem-buat ramalan tentang masa depan, masih menurut Yacob, tidak perlu dipercaya atau diikuti. “Hamba Tuhan itu dipanggil untuk mewar-takan kabar gembira, bukan mera-mal. “Pendeta jangan memanipu-lasi angka-angka dalam Kitab Suci untuk menakut-nakuti orang. Tapi dia harus bilang kepada jemaatnya bahwa waktunya sudah dekat dan karena itu harus hidup dalam kesetiaan pada Allah,” katanya.
Dipegang Tuhan
Pdt. Dr. Mangapul Sagala meng-anjurkan hal serupa. Menurut doctor dalam bidang Biblika, khususnya Perjanjian Bari dari Teologi dari Trinity College ini, setiap pergantian tahun niscaya akan muncul ramalan-ramalan yang tak pernah terbukti. “Kita jangan percaya sama ramalan. Kita berpegang saja sama Firman Tuhan, karena masa depan kita ada dalam tangan Tu-han saja,” tegasnya sembari menambahkan bahwa yang penting adalah melakukan yang terbaik sesuai dengan panggilan hidup kita ma-sing-masing. Mengutip II Timotis pasal 3, Pdt. Mangapul menegaskan bahwa pada masa yang akan datang adalah masa yang sukar. Tapi sikap kita yang benar adalah berpegang te-guh pada Firman Tuhan.
Ramalan tentang bencana dan akhir jaman, bahkan bila itu diungkapkan oleh para hamba Tuhan, tak perlu dipercaya mentah-men-tah. “Dalam buku saya berjudul ‘Kristus Pasti Datang’ su-dah saya tulis tentang itu,” katanya. Ia menceritakan bahwa ada pendeta yang mengatakan bahwa tahun 1992 adalah tahun kiamat dengan menggunakan argumentasi angka-angka dalam kitab suci. Terbukti, dunia belum kiamat juga. “Memang ada pendeta yang suka buat sensasi. Tapi kita harus ingat bahwa tidak seorang pun yang tahu tentang kapan waktu itu datang, bahkan diriNya sendiri pun tidak. Yang melakukan rama-lan itu, membajak hak Tuhan,” katanya. Paul Makugoru.