| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Ungkapan Hati
02 February 2010 Kris Biantoro, Bertahan Walau Menderita Gagal Ginjal
Reformata.com - KEPOPULERAN sering didapat setelah melalui perjalanan hidup yang penuh lika-liku dan tidak mudah. Ketekunan, kekuatan bertahan, semangat, dan perjuangan, merupakan jembatan menuju kepopuleran atau keberhasilan itu. Derai air mata karena lilitan derita dan kesulitan pun berubah menjadi tawa kebahagian. Inilah bukti kehidupan yang selalu diwarnai silih berganti oleh kebahagian dan kesulitan. Dan semua itu mestinya membawa setiap kita agar semakin mengenal siapa Sutradara dan Pemilik Hidup ini. Christolihorus Subiantoro atau yang lebih dikenal dengan Kris Biantoro, adalah sosok yang sungguh-sungguh merasakan hal ini. Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah 17 Maret 1938 ini bahkan boleh dikatakan sebagai salah seorang saksi dan pelaku sejarah sejak masa penjajahan Belanda-Jepang hingga kemerdekaan Indonesia. Tidak heran jika semangat cinta akan bangsa selalu mewarnai apa yang dilakukannya. Apa yang sebenarnya ada di balik kepopulerannya?
Semangat untuk tetap hidup Kris yang dikenal sebagai salah seorang entertainer handal Indonesia, ternyata mengawali kehidupannya tidak semudah yang dilihat sekarang. Demi menyeselesaikan pendidikan SMA, suami dari Maria Nguyen Kim Dung ini, setiap hari harus mengendarai sepeda menempuh jarak 45 kilometer, Magelang-Yogya. “Salam Maria penuh rahmat, adalah doa yang selalu saya lakukan saat melakukan perjalanan. Tanpa makan dan minum. Hidup begitu sulit,” kenang model iklan sejenis sabun deterjen dan bumbu masak ini. Kondisi perang dan keadaan bangsa yang buruk, kematian yang setiap saat mengintip, kesehatan, malapetaka, semuanya menjadi pembentuk mental yang kuat bagi komposer “Dondong Opo Salak” ini. Pada 1972, ayah dari Invianto dan Ceacifiarto ini ternyata telah mengalami gagal ginjal. Saat itu penyakitnya itu hanya bisa ditangani oleh mantri, dan morfin menjadi obat penghilang rasa sakit. Kemudian dia bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik, oleh dokter dan rumah sakit. Sekalipun demikian, hingga kini dia masih masuk-keluar rumah sakit. Uniknya, berulang kali dia divonis bahwa hidupnya semakin singkat, tapi sampai kini Kris tetap terlihat humoris, semangat, sebagaimana layaknya orang sehat. “Apa saya terlihat sakit? Saya terlihat sehat, walau sebenarnya saya sakit. Saya tidak bisa apa-apa. Salah satu kekuatan tetap bertahan itu adalah semangat. Jangan putus semangat. Ada sumber penghidupan itu yaitu Tuhan sendiri, kejadian saya ajaib sekali,” ungkap jemaat Gereja Paroki Santo Yohanes Maria Vianei ini penuh semangat. Semangat untuk bertahan dan berjuang membuat dirinya begitu tegar dengan kesulitan yang dialaminya.
Pertumbuhan iman yang nyata “Tuhan memberikan iman kristiani membara dalam diri saya, hidup teratur dengan didampingi istri yang bijaksana,” tutur Kris bahagia. Tuhan punya kehendak agar manusia dilahirkan tidak sia-sia, namun diberi tugas untuk menyampaikan kebenaran, kebaikan, dan menyebarkan keindahan. Kris merasakan Tuhan memberi hadiah berupa bakat sebagai pekerja seni untuk dapat mengharumkan dan membesarkan nama-Nya. Tahun 1945, menjadi titik awal Kris mendapatkan pelajaran agama Kristen. Menjelang lulus dari SMA, ia menerima wejangan: “Jangan menjadi komunis (PKI). Jangan kawin ala artis Hollywood (suka kawin-cerai)”. Hal ini selalu diingat dan dibuktikan Kris yang selalu setia selama 44 tahun dalam hidup pernikahan dengan istri tercinta. “Banyak artis seumur saya, selalu ganti “ban serep”. Setelah mulai mendalami ajaran Katolik, saya jadi tertib. Mengajar anak keras, tapi menyayangi. Dengan disiplin kelihatannya Tuhan memberikan pikiran yang terang, sehingga anak saya bisa berjalan di rel yang benar. Mereka dapat lulus sarjana di Amerika. Dan kini satu tinggal di sebelah kanan rumah saya, dan satunya di sebelah kiri,” kata Kris bahagia Kondisi tubuh dengan ginjal yang tidak sempurna, tidak menjadikan Kris putus asa. Sebaliknya, kendala itu mendorongnya untuk semakin giat dalam mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermakna. Selain setiap minggu rutin menjalani pemeriksaan medis, renang, membaca buku, mengadakan ceramah-ceramah kebangsaan, Kris juga sharing iman seputar pengalaman hidupnya di berbagai gereja. Untuk membangun hubungan dengan Tuhan, penyuka masakan padang ini melihat doa begitu penting. Hal menarik bagi Kris, seorang Katolik sangat sulit berbicara waktu berdoa, namun Kris mau terus mencoba berlatih untuk dapat menyampaikan isi hatinya kepada Allah dalam ketulusan. Dia tidak sekadar ke gereja, namun sungguh-sungguh melakukannya sebagai kerinduan membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama. Sebagai artis sekaligus anggota veteran RI, Kris memiliki keprihatinan tersendiri, atas perkembangan media TV maupun kondisi bangsa. Berbagai sajian acara yang tidak bermutu dan tidak mendidik, sering dia temukan di televisi dewasa ini. Kondisi bangsa yang semakin tidak menentu menjadi keprihatinan tersendiri baginya. Penulis buku “Manisnya Ditolak” ini bertekad, akan tetap melakukan yang terbaik sebagai sumbangan berharga di bangsa ini. Selian tidak akan tampil di TV dalam acara bermutu jelek, ia juga akan terus membangun semangat generasi muda melalui kesaksian sejarah yang akan selalu disampaikan melalui ceramah-ceramah kebangsaan. Kris juga menyampaikan kerinduannya untuk dapat berbagi sharing iman dengan setiap orang. “Jangan menentukan tarif, tapi dapat melakukan pekerjaan Yesus dengan cinta. Terbuka bagi seluruh gereja dan kalangan untuk dapat membagi semangat,” cetus pemilik moto: hidup bukan hanya bagi diri sendiri ini. Di akhir sharing, Kris mengingatkan mereka yang terbaring sakit atau sedang bergumul dengan penyakit: “Tuhan mendidik dengan cara yang unik. Belajarlah untuk mengerti dan terimalah segala sesuatu. Ucapkan ‘haleluya’ tidak hanya di waktu senang, namun juga di dalam kesulitan,” pesan Kris dengan gayanya yang tetap terlihat penuh semangat. Lidya
Others
- Wanita Terhilang Yang Ditemukan Kembali
- Valentinus Sutiadji, Penyandang Cacat Netra Selalu dalam Bimbingan Tuhan
- Hendi Yefta, Kristus Melpaskan Belenggu Narkoba
- Charlie - Winarni , Meski Cacat, Anak Tidak Saya Sia-siakan
- Sandiana Purba, Tegar Mengarungi Kehidupan yang Kejam
- Tommy Handoyo, Gara-gara Kemolekan Wanita, Nyaris Tinggalkan Yesus
- Bahagia Masih Diberi Kesempatan Layani Tuhan
- Teror dan Intimidasi Karena Ikut Yesus
- Mariani Manullang,Miskin, Dihina, Tetap Tabah
- Mateos Pandu, Di Penjara Temukan Cinta Kasih
- Jika Ikut Tuhan, Miliki Karakter Yesus
- Ricky Sobana, 'Aku Ingin Memandang Wajah Istri dan Anakku'
- Buah Kenikmatan Setelah Menerima Yesus
- Saya Hanya Korban Sindikat
- Tidak Mau Sangkal yesus Meski Dibacok
- Ricky Indraya, Hamba Tuhan,Tinggalkan Dunia Usaha, Layani Tuhan
- Iman Teguh Jiwa istri Selamat
- 'Malam Itu, Kami Sebenarnya Mau Dihabisi'
- Dulu Mengolok-olok, Kini Dekap Yesus
|
|